Dari Kearifan Bayan Menuju Pertanian Masa Depan: Mahasiswa University of Bonn Belajar di Wise Smart Agriculture

Bayan, Lombok Utara — Tanah pecatu masyarakat adat Bayan menjadi ruang belajar terbuka bagi mahasiswa dari University of Bonn, Jerman. Pada Rabu, 23 September 2026, sebanyak 23 mahasiswa University of Bonn mengunjungi Wise Smart Agriculture untuk melihat secara langsung bagaimana teknologi pertanian modern dipadukan dengan pengetahuan dan kearifan lokal masyarakat adat Bayan.

Kunjungan tersebut didampingi oleh teman-teman Pasir Putih Lombok Utara Rombongan mahasiswa ini dipimpin oleh Prof. Dr. Lisa Schipper, profesor di bidang Geografi Pembangunan. Tidak sekadar melihat teknologi pertanian, para mahasiswa diajak berdialog langsung dengan masyarakat adat dan pengelola lahan mengenai hubungan antara budaya, pertanian, lingkungan, serta perkembangan teknologi.

Salah satu sesi penting dalam kunjungan berlangsung melalui dialog bersama Amaq Lokak, pengelola tanah pecatu Karang Tulis sekaligus salah satu tokoh adat masyarakat Bayan. Diskusi turut diikuti oleh Ketua Mandat Bayan Raden Dedi Setiawan dan Kepala Sekolah Adat Bayan, Renadi.

Percakapan berlangsung hangat dan interaktif. Para mahasiswa menggali berbagai hal tentang kehidupan masyarakat adat Bayan, mulai dari kebudayaan dan pengelolaan tanah pecatu, sistem pertanian lokal, hingga bagaimana pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun dapat terus dikembangkan dan diteruskan kepada generasi muda.

Salah satu perhatian utama dalam diskusi adalah penerapan Wise Smart Agriculture, sebuah pendekatan yang mempertemukan pengetahuan pertanian lokal dengan teknologi digital. Sistem ini dikembangkan oleh Santiri Foundation bersama Sekolah Adat Bayan di tanah pecatu masyarakat hukum adat Bayan.

Teknologi digital dimanfaatkan untuk mengatur otomatisasi penyiraman sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaan air. Pendekatan tersebut menjadi penting terutama untuk menghadapi musim kemarau, ketika ketersediaan air menjadi salah satu tantangan utama bagi keberlanjutan pertanian.

Pengembangan Wise Smart Agriculture kini juga mulai dilengkapi dengan pembangkit listrik tenaga surya (solar panel). Energi tersebut nantinya akan mendukung sistem irigasi tetes sehingga penggunaan air dapat dilakukan secara lebih terukur dan efisien.

Namun, teknologi bukanlah satu-satunya tujuan. Di Bayan, teknologi ditempatkan sebagai bagian dari upaya memperkuat pertanian lokal tanpa memutus hubungan dengan pengetahuan dan kearifan masyarakat adat.

“Teknologi menjadi alat untuk membantu masyarakat, sementara pengetahuan lokal tetap menjadi fondasi dalam pengelolaan pertanian.”

Pengembangan Wise Smart Agriculture hingga kini masih terus dilakukan. Ke depan, kawasan ini diharapkan dapat berkembang menjadi model percontohan sekolah lapang yang dapat digunakan oleh masyarakat sekitar untuk belajar mengenai pertanian, teknologi, lingkungan, dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

Lebih dari sekadar sebuah demplot pertanian, Wise Smart Agriculture di tanah pecatu Bayan diharapkan menjadi ruang pertemuan berbagai pengetahuan—antara tradisi dan teknologi, antara generasi tua dan generasi muda, serta antara pengetahuan lokal dan pembelajaran global.

Kunjungan mahasiswa University of Bonn menjadi salah satu contoh bagaimana ruang-ruang belajar di masyarakat adat dapat membuka percakapan yang lebih luas. Dari tanah pecatu Bayan, pengetahuan lokal tidak hanya dipelajari, tetapi juga didialogkan dengan perkembangan teknologi dan gagasan pembangunan berkelanjutan dari berbagai belahan dunia.

Pada akhirnya, belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Di tanah pecatu Bayan, alam, masyarakat, dan teknologi menjadi ruang belajar bersama untuk mencari cara menjaga pangan, air, budaya, dan masa depan secara berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *