Kolaborasi Program Tim Santiri dan Tim SAB-Mandat Bayan menuju keberlanjutan program


Tim Santiri dan Tim SAB-Mandat Bayan menggelar rapat koordinasi pada Sabtu, 31 Oktober 2026, pukul 17.00–19.00 WITA di Art Coffe Lago. Pertemuan ini membahas penyelesaian pekerjaan program hingga November 2026, penguatan pengelolaan pengetahuan, penyelesaian peta wilayah adat, serta pengembangan program Wise Smart sebagai bagian dari upaya pemulihan masyarakat adat melalui pertanian dan kedaulatan pangan. Rapat ini menjadi ruang evaluasi terhadap berbagai pekerjaan yang masih berlangsung sekaligus menyusun langkah strategis untuk memperkuat kolaborasi dan keberlanjutan program.


Salah satu agenda utama adalah memastikan seluruh pekerjaan dan laporan kegiatan dapat diselesaikan pada November 2026. Sejumlah program masih memerlukan penyempurnaan, termasuk kegiatan BRWA yang ditargetkan selesai pada 20 November 2026, dengan kesempatan melakukan revisi apabila masih terdapat kekurangan. Dan Program Gawe Alip bersama Indonesiana juga menjadi perhatian. Optimalisasi media sosial Santiri dan SAB-Mandat Bayan, menjadi kebutuhan penting untuk memperluas diseminasi informasi serta memperkuat dokumentasi dan publikasi kegiatan.


Adapun upaya penyelesaian peta menjadi salah satu prioritas bersama. Peta Perumbak Daya dan Perumbak Lauk perlu difinalisasi agar terintegrasi. Saat ini, kelengkapan data peta masih berada pada kisaran 10–20 persen, sehingga diperlukan kerja bersama untuk melengkapi data dari 149 situs.
Upaya pengumpulan data dan dokumentasi foto akan dilakukan melalui strategi pelibatan tim dan relawan. Rencana kegiatan meliputi pelatihan satu hari bagi tim kecil Santiri dan SAB-Mandat Bayan, pembekalan relawan selama satu hari, serta kegiatan lapangan selama dua hari. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan tim dalam menyusun pertanyaan, melakukan pengambilan data, dan mendokumentasikan situs melalui fotografi.


Pembahasan Wise Smart menjadi salah satu bagian penting dalam rapat. Program ini dikembangkan melalui gagasan pemulihan masyarakat adat dengan menjadikan pertanian sebagai jalan menuju kedaulatan pangan, sekaligus membuka ruang bagi keterlibatan generasi muda dalam pertanian lokal.
Dalam perkembangannya, program ini telah mendorong ketertarikan pemuda terhadap dunia pertanian. SMK, Sekolah Adat Natan, dan Santiri dipandang memiliki peran dalam mendorong transformasi pengetahuan serta menarik minat generasi muda terhadap pertanian pangan lokal. Pengembangan sekolah lapang saat ini dilakukan di Pawang Sambel, di tanah pecatu Karang Tulis, sebagai ruang belajar dan pengembangan praktik pertanian.


Pada fase program, berbagai upaya pencarian sumber air telah dilakukan, termasuk melalui pengeboran dengan metode geolistrik yang mendapat dukungan United Tractors. Namun, pengeboran hingga kedalaman 70 meter belum berhasil memperoleh air. Kendala medan dan tingginya biaya untuk pengeboran lebih dalam menjadi tantangan tersendiri. Sebagai alternatif, dikembangkan pembangunan embung nano untuk menampung air hujan. Embung tersebut dibangun di beberapa lokasi, yaitu Tanah Pecatu Karang Tulis sebanyak dua unit, Lawang Sambel satu unit, Plabu Pati satu unit, dan Karang Ancak satu unit. Pengembangan ini menjadi bagian dari upaya membangun sistem pertanian yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan. Setelah dukungan United Tractors, pengembangan smart agriculture selanjutnya didukung melalui CSR Mandiri.

Rapat koordinasi ini menegaskan pentingnya kerja bersama dalam menyelesaikan program, memperkuat dokumentasi, melengkapi data wilayah, serta membangun sistem pengelolaan pengetahuan yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi Santiri dan SAB-Mandat Bayan, berbagai agenda tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi penguatan pengetahuan masyarakat adat, pemulihan ekosistem, pengembangan pertanian pangan lokal, serta keberlanjutan gerakan masyarakat adat di Bayan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *