Sumbawa Besar. Pada tanggal 27 – 28 Juli 2022 Santiri Foundation bekerjasama dengan  Stockholm Environment Institute (SEI) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Nusa Tenggara Barat mengadakan Lokakarya untuk membangun pemahaman tentang risiko perubahan iklim yang dihadapi oleh masyarakat di sekitar operasi pertambangan dan bagaimana perusahaan pertambangan dapat membantu mendukung upaya membangun ketahanan tersebut.

Sekilas tentang Ketahanan Iklim Masyarakat (Community Climate Resilience/ CCR)

Ketika ekonomi secara global berusaha untuk menghilangkan karbon, permintaan meningkat pesat untuk logam dan mineral utama yang digunakan dalam teknologi hijau. Namun, banyak negara dan komunitas yang memiliki sumber daya tersebut sangat rentan terhadap perubahan iklim, dan dapat lebih dirugikan oleh dampak operasi pertambangan terhadap mata pencaharian lokal. Oleh karena itu, sangat penting bagi perusahaan pertambangan untuk secara aktif bekerja untuk meningkatkan ketahanan iklim.

Proyek Ketahanan Iklim Masyarakat (Community Climate Resilience/ CCR) bertujuan untuk memberi perusahaan pertambangan pengetahuan dan alat yang mereka butuhkan untuk menilai kerentanan iklim di masyarakat yang terkena dampak operasi mereka; merancang proyek untuk mendukung komunitas tersebut dalam membangun ketahanan iklim; memahami kasus bisnis untuk melakukan investasi ini; dan memperoleh pembiayaan yang diperlukan.

Kemitraan antara International Finance Corporation (IFC), International Council on Mining and Metals (ICMM), Stockholm Environment Institute (SEI), dan Palladium, proyek ini dibangun di atas komitmen inisiatif Climate Smart Mining (CSM) Grup Bank Dunia untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dengan memungkinkan perusahaan pertambangan mengubah etos operasional mereka untuk memasukkan visi ketahanan masyarakat jangka panjang, ini bertujuan untuk membantu memastikan bahwa kegiatan pertambangan yang mendukung dekarbonisasi global tidak hanya tidak merugikan masyarakat yang rentan, tetapi juga memposisikan perusahaan pertambangan dan pelaku transformasi positif. menuju peningkatan ketahanan iklim.

Tujuan Lokakarya

Lokakarya ini bertujuan untuk melibatkan masyarakat yang terkena dampak operasi pertambangan Batu Hijau. Tema lokakarya mencakup fokus yang kuat pada hak-hak sumber daya masyarakat adat, tata guna lahan, ekosistem pulau dan dampak kelangkaan air, dan isu-isu tata kelola sektor swasta yang mempengaruhi ketahanan iklim masyarakat. Santiri Foundation diminta untuk memfasilitasi serangkaian panel dan diskusi dengan anggota masyarakat yang berfokus pada pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apa saja ancaman dan bahaya iklim yang dihadapi masyarakat, dan bagaimana pertambangan memperbesar risiko tersebut, atau memberikan solusi untuknya?
  • Bagaimana masyarakat memandang kontribusi pertambangan terhadap ketahanan mereka terhadap dampak perubahan iklim?
  • Apa dimensi mata pencaharian masyarakat sekitar tambang (pendapatan dari pekerjaan pertambangan, pertanian, perikanan, dll.) yang terkena dampak lingkaran pengaruh pertambangan?
  • Apa yang perlu dilakukan untuk memastikan bahwa operasi pertambangan berkontribusi pada ketahanan masyarakat dan mendorong adaptasi yang dipimpin secara lokal?
  • Agar masyarakat dan perusahaan pertambangan dapat bekerja sama untuk membangun ketahanan yang pertama, tindakan apa yang perlu dilakukan di masing-masing pihak?
  • Dalam konteks pertambangan, bagaimana aset masyarakat (alam, sosial, keuangan, politik, fisik, informasi) mempengaruhi ketahanan iklim dan hasil mata pencaharian?

Lokakarya diadakan pada tanggal 27 dan 28 Juli 2022. Hari pertama lokakarya terutama lokakarya komunitas yang diadakan di Bale Rea Sahabat Bumi, sebuah LSM yang berbasis di Desa Banjar (Depan Kantor Desa Banjar), Kecamatan Taliwang , di KSB (Kabupaten Sumbawa Barat). Peserta workshop hari pertama adalah LSM lokal (Lembaga Olah Hidup dan Sahabat Bumi) dan perwakilan dari 3 kecamatan: Jereweh, Maluk dan Sekongkang. 30% dari peserta adalah perempuan.

Pada Hari ke 2, hasil lokakarya pada Hari 1 di antar perwakilan masyarakat dan dipresentasikan dalam lokakarya multipihak yang diadakan di ruang pertemuan Hotel IFA Kecamatan Taliwang. Empat perwakilan dari Hari 1 membahas wawasan utama yang diangkat. Dalam worshop hari 2 dihadiri oleh perwakilan BAPPEDA Kabupaten, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumbawa Besar dan diikuti secara online oleh direktur PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), Akademisi serta peserta online yang berasal dari kepulauan Sunda Kecil (Bali, NTB, NTT) dan Maluku. Acara ini dibuka secara online oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Hasil dari workshop ini yaitu, isu perubahan iklim belum banyak diketahui oleh masyarakat, walaupun dampak yang terjadi telah mereka rasakan. Adanya pertambangan di sekitar mereka juga menambah dampak perubahan iklim, kerentanan social, ekonomi dan politik. Perlu dilakukan pembahasan Bersama multipihak untuk menjawab semua persoalan yang ada.

Dalam sesi terakhir, setelah acara ditutup diadakan diskusi dengan peserta dari kepulauan Sunda Kecil dan Maluku untuk membahas tindak lanjut kongres kepulauan yang rencananya juga akan mengundang peserta dari negara Philipina dan Timor Leste.

Discussion with BAPPEDA of West Sumbawa Regency, 29 July 2022

Selain melakukan workshop, tim juga berkesempatan mengunjungi tambang illegal yang berada di pemukiman masyarakan dan berdiskusi dengan kepala BAPPEDA Sumbawa Barat untuk menyampaikan hasil worshop yang telah dilakukan. (Wa2n)

By Wawan -

Leave a Reply

Your email address will not be published.

EnglishIndonesian