Sangkep Budaya Masyarakat Adat

Santiri, 27 September 2020. Rangkaian Sangkep (pertemuan) Festival Rinjani IV telah dimulai. sejak resmi dibuka oleh wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Ibu  Hj. Siti Rohmi Djalilah pada tanggal 10 September 2020, maka dimulailah rangkaian kegiatan Festival Rinjani IV yang salah satu kegiatannya adalah Sangkep (Pertemuan) yang akan dihadiri oleh individu dan lembaga yang peduli pada pelestarian Gunung Rinjani. Kegiatan sangkep ini diawali dengan sangkep para tokoh adat di lingkar gunung Rinjani pada tanggal 26 September 2020. Sesuai dengan Protap Kesehatan di masa Pandemi covid 19 ini maka kegiatan sangkep ini mengikuti standar Kesehatan yang belaku di masa pandemic ini dan dihadiri dengan jumlah maksimal peserta dalam suatu pertemuan di masa pandemic. Sangkep Masyarakat Adat ini dilakukan secara offline dan bagi masyarakat yang ingin ikut menyaksikan kegiatan sangkep ini disiarkan secara langsung melalui saluran zoom dan youtube. Kegiatan sangkep ini dihadiri oleh perwakilan masyarakat adat dari kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Utara.

Ikut serta dalam sangkep Budaya ini yaitu Bapak Sjamsul Hadi selaku Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Pendidikan dan kebudayaan yang memberikan kata sambutan secara online dari Jakarta. Dalam sambutannya beliau menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan festival rinjani ini. Kegiatan  festival rinjani ini menjadi pilot project untuk kegiatan pelestarian alam di lingkungan gunung rinjani dan mengharapkan ada kesepakatan untuk menjaga kelestarian Kawasan rinjani. Untuk itu perlu ada Kerjasama dari seluruh pihak untuk menjaga kelestarian Rinjani sebagai saujana alam melalui kearifan local yang telah ada. Harapannya di tahun kedepan festival rinjani menjadi mendunia dengan tetap menjaga budaya dan kearifan local yang ada. Diharapkan juga nantinya ada penerus penjaga kebudayaan dari para generasi muda.

Sangkep tokoh adat merupakan satu dari empat sangkep yang akan dilakukan dalam rangkaian kegiatan Festival Rinjani. Tujuan dari sangkep yang pertama ini adalah untuk menggali bagaimana pandangan para tokoh adat terhadap Rinjani, bagaimana nilai adat mengelola dan merawat Rinjani.
Selama ini yang menjaga dan merawat rinjani adalah masyarakat adat, tetapi yang mengelola dan mengolahnya tidak hanya masyarakat adat sehingga Rinjani menjadi semakin rusak. Bagi sebagian kelompok Rinjani tidak lebih dari sekedar obyek wisata yang dapat menghasilkan uang, bagi orang kota Rinjani mungkin sekedar tempat untuk mendaki dan rekreasi, anak muda yang diharapkan dapat meneruskan menjaga Rinjani malah menjauh tergerus oleh arus pariwisata dan budaya modern, sehingga kita hari ini kita lihat di atas Rinjani banyak ditemukan sampah, pohon – pohon ditebang, debit air banyak berkurang. oleh karena itu dalam sangkep ini juga dibagikan bibit pohon agar dapat ditanam dan dijaga di lingkungan rumah masing-masing peserta.
Tema kegiatan Festival Rinjani kali ini adalah “Mengeja Rinjani” karena kerusakan yang terjadi di Rinjani bisa jadi bukan hanya disebabkan oleh masyarakat modern yang tidak mengerti dan tidak peduli pada Rinjani melainkan masyarakat adat yang telah lupa bagaimana memaknai dan memperlakukan Rinjani.
Nilai – nilai yang tergali pada sangkep adat ini nantinya akan memaknai seluruh rangkaian kegiatan Festival Rinjani, menjadi sumber acuan nilai yang akan disampaikan kepada sangkep – sangkep berikutnya, dengan harapan agar para pengampu kebijakan / pemerintah dapat memahaminya dan menjadikannya salah satu landasan dalam membuat berbagai keputusan.

Beberapa point yang tergali dari sangkep masyarakat adat ini:
————————————————————————–
Bagi masyarakat adat, Rinjani merupakan salah satu bentuk sumber kehidupan dan penghidupan, menjaganya adalah sebuah keniscayaan, karena itu masyarakat adat perlu membentuk pranata adat agar ritual – ritual untuk menjaga Rinjani kembali dapat dilakukan secara sempurna, nilai – nilai dan pengetahuan yang ada pada masyarakat adat ini juga perlu diajarkan kepada generasi muda untuk agar nilai dan pengetahuan tersebut lestari. Diantara nilai dan ritual adat untuk menjaga Rinjani adalah adanya sembeq (yaitu pemberian tanda, yang biasanya di dahi, atas ijin untuk melakukan sesuatu), sebelum masuk hutan seseorang harus di-sembeq, sebelum menebang pohon harus di-sembeq, seorang bayi saat diberikan nama juga melalui sembeq, dan banyak hal lainnya dilakukan dengan sembeq, tetapi hari ini kita lihat sembeq sudah kalah dengan stempel, masuk rinjani tebang kayu, bahkan pemberian nama cukup dengan hanya menggunakan stempel. Selain melalui ritual – ritual adat kerukunan dalam bermasyarakat juga perlu dijaga, karena kerusakan Rinjani merupakan akibat / korban dari adanya berbagai kepentingan. Ada yang memutus mata rantai kita sehingga sepertinya Rinjani hanya milik orang Bayan saja, mata rantai yang terputus itu adalah pewarisannya, bagaimana anak cucu kita merasa memiliki Rinjani ini. Bencana yang baru saja terjadi merupakan teguran dari Tuhan sehingga pranata adat harus segera melakuan ritual.
Rinjani merupakan sebuah simbol yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa di pulau Lombok. Sebagaimana simbol di tempat lain digunakan untuk menerima petunjuk, maka di Rinjani juga digunakan untuk sebagai tempat untuk mencari petunjuk, jauh sebelum islam datang ke tanah sasak, masyarakat sasak sudah tampak islami. Lahir, hidup, dan mati merupakan daur hidup semua makhluk, daur hidup ini dibahas oleh para orang tua kita sejak dahulu.
Rinjani merupakan giri suci atau kemalik lombok, kemalik artinya tidak boleh melakukan suatu larangan / hal yang dilarang. Kami dulu naik Rinjani hanya untuk bertapa, berobat, dan membersihkan gegamang-nya (gegamang = senjata), dan ini telah terjadi sejak rin (rin = sejak dahulu kala). Oleh karenanya perlu ditegakkan kembali awig – awig adat, barang siapa yang melanggar awig – awig harus diberikan sanksi, siap saja yang melanggar kemalik / tidak menghormati kemalik harus mendapat sanksi. Namun hari ini awig – awig masyarakat adat tidak bisa ditegakkan karena tergilas oleh undang – undang investasi, jadi perlu dilakukan pendekatan secara politik dalam rangka melakukan penolakan undang – undang investasi tersebut.
Rinjani merupakan sumber inspirasi, sumber penghidupan, dan pranata sosial. Tetapi hari ini kita lihat tidak seorangpun mengerti Rinjani, kita lihat semua bupati yang berbicara tentang Rinjani pasti jatuh, perjuangan terhadap Rinjani hanya sebatas wacana dan sifatnya masih parsial, tidak ada yang benar – benar berjuang secara total, masih kalah saat dihadapkan dengan uang. Selain itu perjuangan atas Rinjani juga tidak stagnan, apa yang kita bicarakan hari ini sudah sering kita lakukan, temanya masih sama sejak perekat umbara digagas tahun 1998 yang isinya tentang kekecewaan kita tentang keadaan Rinjani.

 

 

Menuju Kemandirian Masyarakat Adat Kedatuan Bayan Melalui Penetapan dan Pengakuan Wilayah Kelola dan Ruang Hidup

Santiri, 8 Juli 2020. Pada hari Rabu tanggal 8 Juli 2020 diadakan diskusi tentang hasil pemetaan wilayah kelola dan ruang hidup masyarakat Adat Kedatuan Bayan Lombok Utara yang telah dilakukan oleh tim Santiri sejakl bulan Maret hingga bulan Juli tahun 2020.
kegiatan ini diadakan dalam acara “Coffee Morning” Kebudayaan Lombok Utara di ruang aula Bappeda Lombok Utara yang dihadiri oleh Kepala Badan, Kepala Bidang dan Staf SOSBUD Perencanaan Pembangunan Daerah, Kabid Kebudayaan, Kabid Perpustakaan, Kabid Pemberdayaan Masyarakat Desa, Camat Bayan, Camat Kayangan Kabupaten Lombok Utara, Budayawan, SANTIRI, Gendewa Tunas Rancak selaku Kepala Program DGM Indonesia di Lombok Utara, Komunitas Adat, Sekolah Adat, akademisi, Antropolog.
Dalam pembukaan acara, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lombok Utara menyatakan Sesuai Visi dan Misi Bupati dengan RPJMD dalam pembangunan Kabupaten Lombok Utara, Pembangunan yang bersinergi dengan Kebudayaan yang dimiliki Kabupaten Lombok Utara terlaksana dengan proses yang tidak mudah. Perjuangan kebudayaan dengan disahkannya regulasi yang Perda No. 06 Tahun 2020 perlu diapresiasi dan didukung oleh berbagai Pihak.
selanjutnya overview dan review kegiatan dilakukan oleh direktur Santiri mengenai Jejak jejak Kebudayaan yang dimiliki Kabupaten Lombok Utaraperlu diselaraskan oleh berbagai pihak sehingga menjadi kekayaan tak ternilai, selanjutnya Komunitas adat tanpa dukungan pemerintah masih dapat melaksanakan ritual adat secara mandiri. Peta kewilayaan Masyarakat Adat yang harus manpu diakomodir oleh pemerintah Kabupaten Lombok utara sebagai bentuk dukungan.
Ritual “sembek birak” merupakan mikrocip yang merupakan kekayaan yang perlu dilestarikan karena suatu symbol dari kewilayaan Adat yang dipergunakan untuk memonitoring dan evaluasi dari prilaku masyarakat yang memasuki wilayah masyarakat adat secara spiritual
Dimasa depan para pendaki yang biasa menggunakan “sembek birak” kemungkinan akan menggunakan microcip digital yang akan menyimpan berbagai data dan prilaku dari pendaki sehingga dapat dipikirkan mulai dari sekarang. dan para pemuda adat dapat berperan untuk mengoperasikan dan mengawasinya.
Pemaparan selanjutnya yaitu tentang Program Pemetaan Wilayah Kelola dan Ruang Hidup Masyarakat Adat Kedatuan Bayan oleh GENDEWA TUNAS RANCAK Direktur Program DGM Indonesia; “PENETAPAN WET KEDATUAN BAYAN”. dalam penyampaianya disebutkan tentang Tata Ruang Yang Parsial. Harapannya dimiliki oleh Kewilayahan Kedatuan Bayan dengan latar belakang adanya mega proyek Global HAP, Penyusutan tanah Pecatu yang mengalami peralihan hak kepemilikan , Pencemaran Lingkungan akibat Sampah Plastik, Status, kritis identitas(bangga atau tidaknya sebagai bagian dari masyarakat adat)
Hasil yang dicapai dalam proses pemetaan tersebut yaitu : Kesepakatan dan kesepahaman Bersama, Surat Keputusan Bupati yang merupakan turunan dari Perda No.06 Tahun 2020
Hasil tambahan yang didapat adalah keterlibatan pemuda yang sedang melakukan KKN, Siswa Sekolah, Pemuda, gender dan Keterlibatan: Pemerintah, Non Pemerintah dan Masyarakat.
Paparan selanjutnya yaitu Proses Program dan Capaian Lapangan Oleh Renadi Koordinator Lapangan Program DGM Indonesia, yang menyampaikan tentang Diskusi internal dengan SANTIRI sebelum kegiatan dan dilanjutkan safari kebudayaan dengan melibatkan baik para tokoh budaya lelaki maupun perempuan yang dipisahkan keterlibatannya sesuai tupoksi masing masing, Proses pemetaan dengan menggunakan dua strategi antara lain pemetaan partisifatif dan Pemetaan Kartometrik dan survey lapangan. dilanjutkan dengan pemaparan singkat oleh tim teknis GIS dari Santiri.
Selanjutnya Penyampaian Draf Surat Keputusan Bupati tentang Pengakuan Ruang Hidup dan Wilayah Kelola Masyarakat Adat Kedatuan Bayan dalam Kecamatan Bayan dan Kecamatan Kayangan oleh team Legal Drafting ( Abdul Samsul Muhyin,Rasidep,M Wahyudin); Alasan diperlukannya Pengakuan Ruang Hidup dan Wilayah Kelola Masyarakat Adat Kedatuan Bayan dalam Kecamatan Bayan dan Kecamatan Kayangan meliputi: ruang lingkup, air dan social karena mengalami perubahan fungsi sehingga memutuskan Ruang lingkup itu sendiri, sinkronisasi peta yang dibuat dalam pemetaan kewilayahan kedatuan bayan.
acara selanjutnya yatu sesi Diskusi dengan para peserta dan Rencana tindak lanjut yang harus diagendakan secepatnya untuk pembahasan draft SK ini yang ditargetkan dalam satu minggu kedepan sudah dapat diputuskan atau ditandatangani oleh Bupati Lombok Utara. (Wa2n)

YO’RA HERO, LACAK JEJAK WARISAN (PUSAKA) BUDAYA

Santiri, 14 November 2019. Pada tanggal 9-10 November 2019  diadakan Kegiatan Lacak Jejak Pemuda di Hotel Gondang Beach Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara. Lacakjejak dan rekam berbagai warisan system (ilmu pengetahuan, teknologi; land-seascape) pertanian dan pernelayanan beserta turunannya yang dulu pernah ditemukembangkan oleh nenek moyang kita dan mungkin hingga kini masih bisa tertemukan dalam keseharian. Minimal masih tersimpan dalam cerita cerita para orang tua kita. Warisan system pertanian dan pernelayanan  ini penting. Jika bisa kita temukenali kembali wujud fisik maupun fiksi imajinatif, tatanilai, struktur dan fungsi yang pernah dirancang bangun oleh leluhur kita ini bisa memberikan sumbangan bagi bangsa dan negara serta warga dunia.

Lacak jejak dan rekam warisan budaya ini diikuti oleh 43 peserta (20 Peserta putri dan 25 peserta putra) dari 14 sekolah Tingkat Atas dan sederajat di Kabupaten Lombok Utara. Kegiatan ini diinisiasi oleh Santiri Foundation dan diselanggarakan secara Gotong Royong antara lain oleh: Santiri Foundation, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, DGM Indonesia, Samdhana Institute, Forum Wirausaha baru, Universitas Nadhlatul Ulama (UNU), Sekolah Adat Bayan, Komunitas Bahari Lestari, ArtCoffeelago, Komunitas Delta Api dan para pendukung secara istitusi maupun perorangan lainnya..

Yo’ra Hero adalah singkatan dari Youth Research Heritage, Tourism, Oppurtunity dimana anak-anak muda akan diajak untuk melakukan penelitian secara partisipatif dan dapat mendokumentasikan serta mempublikasikan hasil penelitiannya melalui media yang mereka kuasai seperti foto, video dan menulis. objek dari penelitian ini bisa berupa kondisi di lingkungan atau yang berkaitan dengan wisata dan budaya. intinya para anak muda ini diajak untuk peduli dan kritis pada perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Kegiatan pada tanggal 9-10 November 2019 ini merupakan langkah awal untuk memberikan amunisi kepada para pemuda yang akan melakukan lacak jejak dan rekam warisan budaya. kegiatannya berupa pemaparan materi dan teknik melakukan dokumentasi melalui Video, Foto dan karya tulis.

Upacara Peringatan hari Pahlawan
10 November 2019

Dalam kegiatan ini yang bertepatan dengan peringatan hari Pahlawan tanggal 10 November 2019 juga dilakukan upacara  peringatan hari pahlawan dengan mengenakan pakaian adat.

Setelah upacara, kegiatan diawali dengan empat Pembicara yaitu Bapak Wiladi dan ibu Wardah Hafidz Aktivis dari Jakarta dengan key Speaker yaitu Gendewa Tunas Rancak dari Santiri Foundation dan Dr. Fauzan. M.pd Kepala Dinas Pendidikan Lombok Utara yang Mewakili  Bupati Lombok Utara, Fasilitator diskusi ini adalah  bapak Tjatur Kukuh S dari Santiri Foundation. Dalam materi ini banyak tanya jawab antara pemberi materi dan para siswa sebagai  peserta yang berkaitan dengan Pendidikan dan kebudayaan.

Dr. Fauzan. M.pd dan Gendewa Tunas Rancak
Bapak Wiladi
Ibu Wardah Hafidz

Setelah istirahat siang, peserta mulai dibagi kelompok berdasarkan minat masing-masing yang berkaitan dengan Fotografi, Vidografi dan menulis. Pemberi materi pada sesi ini adalah Alam Kundam yang telah lama menekuni dibidang Fotografi dan pernah menjadi Wartawan TV dan juara pada lomba foto dunia yang diadakan oleh EYEEM dari Jerman. Untuk videografi pematerinya adalah Jatiswara Mahardika, seorang Sineas Muda yang beberapa kali membuat film pendek tentang Lingkungan. Sedangkan materi menulis adalah Rina Yulianti aktivis di Media Kampus Universitas Mataram. Kegiatan Lacak Jejak ini dilakukan secara bertahap, pada kagiatan tanggal 10 November 2019 kali ini diberikan materi sebagai amunisi para peserta untuk dapat melakukan dokumentasi melalui Foto, video dan tulisan. Selanjutnya setiap peserta akan mengambil objek situs budaya yang telah ditentukan di wilayah kecamatan Bayan dan Kayangan. Pada tanggal 24 November 2019 nanti para peserta akan berkumpul kembali untuk mengumpulkan hasil yang telah dilakukan secara berkelompok di tiap sekolah. Dari hasil penilaian tim pemateri ini nantinya akan terpilih 9 tim yang akan melanjutkan pada tahap selanjutnya. Di akhir seleksi nanti akan terpilih 3 tim terbaik yang akan memberikan presentasi di warung kopi “Artcoffeelago” Mataram.  (Wa2n)