From Earthquake to Eco-HEArT

Santiri, 14 Januari 2020. From Earthquake to Eco-HEArT, itulah tema yang diangkat oleh Santiri Foundation dalam pengembangan pembangunan di kawasan Kabupaten Lombok Utama khususnya. Mencoba bangkit dari gempa yang menimpa hampir seluruh kawasan di kabupaten Lombok Utara setahun yang lalu, maka kembali digali potensi desa yang dapat dikembangkan. sebuah ide yang menjadi trade mark Kepala Daerah Lombok Utara. Berbasis kerentanan yang tinggi, perencanaan yang didesain secara komprehensive oleh masyarakat mengantarkan pada konsep Eco-Heart, yaitu Ecological-Heritage, Education, Art and Culture Tourism, dimana seluruhnya akan dikelola oleh masyarakat bekerjasama dalam kesetaraan dengan jejaring yang sudah terbangun.

Memasuki awal tahun 2020 gerakan ini coba dibangkitkan dengan momentum Kunjungan Lapang mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) dengan Chungbuk National University (CBNU), Republic of Korea ke lombok dalam serangkaian kegiatan bidang kebencanaan.

Dalam kunjungannya di pulau Lombok tim berkeliling ke beberapa lokasi di kabupaten Lombok Utara yang terkena dampak gempa setahun yang lalu. sebelum kunjungan di Lombok Utara pada sore hari tanggal 13 Januari 2020, dilakukan Ramah Tamah antara Tim UPNVY & CBNU dengan BPBD NTB, BMKG NTB, UNU, FPTPRB NTB, Santiri dan pegiat senibudaya di warung kopi Artcoffeelago – Mataram yang juga dimeriahkan oleh seniman indie Ary Juliant and the bluegrass band.

Keesokan paginya (14 Januari 2020) rombongan berangkat menuju desa Genggelang di kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara untuk menikmati secangkir coklat hangat di kampung coklat dan memetik buah coklat serta melihat proses produksi coklat hingga menjadi kemasan.

Dari kampung coklat desa Genggelang, rombongan beranjak menuju dusun Santong Asli di desa Santong Kecamatan Kayangan untuk melihat model rumah Ramah gempa yang sedang dalam proses pembangunan sekaligus melihat tatakelola kawasan paska gempa.

Setelah dari Santong Asli rombongan menuju ke Desa Adat di Gumantar. di Desa Gumantar rombongan disambut oleh Bupati Lombok Utara untuk begibung dan berdiskusi tentang kebijakan paska gempa yang terjadi. turut serta dalam diskusi tersebut yaitu jajaran Instansi terkait.

Dari Desa Gumantar, rombongan bergerak menuju dusun Jambianom di desa Medana Kecamatan Tanjung. disini rombongan disambut oleh masyarakat dusun yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. di dusun jambianom terdapat kawasan konservasi Teluk Medana dan konservasi Manggrove. di dusun tersebut ada kelompok nelayan yang aktif melakukan konservasi terumbu karang dan kelompok yang melakukan penanaman manggrove. di dusun ini rombongan dibagi tiga kelompok yang masing masing diajak untuk belajar tentang membuat pancing, menanam manggrove, memasak makanan tradisional berbasis ikan laut. selanjutnya rombongan bermain permainan tradisional bersama dengan mahasiswa Universitas Nahdhatul Ulama Mataram dan masyarakat dusun Jambianom.
Kunjungan ke dusun Jambianom merupakan kunjungan terakhir dalam rangkaian kegiatan kunjungan di Lombok Utara. setelah itu tim kembali ke mataram untuk kembali ke hotel dan beristirahat. (Wa2n)

Pelatihan Kerja Pertukangan tahap I di Dusun Trantapan – desa Karang Bajo

Santiri, 26 April 2019.pelatihan kerja yang dilakukan oleh Konsorsium Metadaya bekerjasama dengan Bina konstruksi PUPR di Bengkel Kerja Dusun Trantapan desa karang Bajo telah dimulai sejak tanggal 22 April 2019 dan berakhir tanggal 25 April 2019. Pelatihan kerja angkatan 1 ini dilakukan di bengkel kerja pertama dari Konsorsium Metadaya yaitu di dusun Trantapan, desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara dan menjadi starting point bagi pembangunan Rumah Sehat Instan berbahan dasar Kayu untuk warga terdampak gempa di Lombok. untuk tahap awal akan dikerjakan sebanyak 25 rumah untuk 2 kelompok Masyarakat di dusun Trantapan dan 38 rumah untuk 2 kelompok masyarakat di dusun Bual desa Bayan. Pelatihan ini diikuti oleh 35 tukang batu dan tukang kayu yang berada di kecamatan bayan, utamanya dari dua dusun keempat kelompok masyarakat. di hari pertama pelatihan diisi dengan pembukaan yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Ibu Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd. pada hari kedua pelatihan dimulai dengan materi pengenalan jenis kayu dan pengenalan gambar rumah dilanjutkan dengan pembagian kelompok berdasarkan keahlian tukang yaitu tukang kayu dan tukang batu.

pembangunan rangka rumah

Hari ke tiga pelatihan dilakukan dengan pembagian tugas yang lebih spsifik pada kelompok tukang kayu dan tukang batu. agar kerja lebih sistematis dan cepat. sampai hari ke 3 pelatihan telah dilakukan perbaikan pondasi untuk dua rumah dan pembuatan kerangka rumah.pelatihan ini dimaksudkan agar para tukang dapat terbiasa bekerja dengan tim yang besar dengan cepat sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh PUPR.
pada hari keempat pembangunan rumah kayu dilanjutkan. sesuai target pelatihan ini diharapkan dapat terbangun satu rumah kayu. namun hal ini terkendala oleh keterbatasan bahan baku kayu hingga pembangunan ditunda sambil menunggu kedatangan kayu dari Kalimantan.

pembangunan pondasi rumah

selanjutnya para peserta beserta pelatih melakukan evaluasi tentang pelatihan selama 3 hari dan merencanakan tindak lanjut pembangunan serta sistem kerja dalam pembangunan rumah kayu untuk para pokmas yang telah melakukan perjanjian kerjasama dengan konsorsium Metadaya. (Wa2n)

Peluncuran Bengkel Latihan Kerja (Bale) Utama, Pelatihan Kerja Rumah Kayu dan Penanaman Pohon Bersama

santiri, 22/4/2019. Tanggal 22 April selalu diperingati sebagai Hari Bumi (Earth Day), dan diperingati secara Internasional. Hari bumi diperingati untuk meningkatkan kesadaran kita tentang pentingnya pelestarian lingkungan yaitu tempat tinggal kita di planet bumi ini. Dalam momentum peringatan hari bumi ini di dusun Trantapan desa Karang Bajo juga diadakan kegiatan pelatihan dan kerja / OJT (On Job Training) angkatan I tahun 2019 dan peluncuran Bengkel Latihan Kerja (Bale) Utama I yang di buka oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat  Ibu Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., serta dilanjutkan dengan penanaman pohon bersama. Dalam acara ini hadir pula dari Bina Kontruksi PUPR, Asisten I Lombok Utara, Camat Bayan, Perwakilan Kelompok Masyarakat serta peserta pelatihan Pertukangan dan fasilitator.

Penanaman Bibit Pohon oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara barat

Desa Karang Bajo yang terletak di Kecamatan bayan, Kabupaten Lombok utara yang merupakan salah satu wilayah terdampak gempa pada tahun 2018. Dari data terkini dampak dari gempa Lombok-Sumbawa dilihat dari bangunan rumah masyarakat secara keseluruhan berjumlah 216.519 yang terbagi menjadi tiga kategori, rusak berat berjumlah 75.138 rusak sedang berjumlah 33.075 dan rusak ringan berjumlah 108.306.  Khusus di Lombok Utara kerusakan total berjumlah 49.853 yang terbagi dalam jumlah rumah rusak berat 44.014, rusak sedang 1.758, dan rusak ringan 4.081.

NTB dalam penanganan pasca gempa sekarang sudah memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, dalam tahap percepatan pembangunan rumah tempat tinggal tetap atau hunian tetap (huntap) memerlukan kerjasama antara pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat serta pihak-pihak lain atau swasta. Tidak sedikit permasalahan kemudian yang muncul ketika realisasi percepatan pembangunan huntap, saah satunya adalah ketersediaan tenaga atau tukang-tukang yang akan membangun hunian tetap yang diinginkan berdasarkan pilihan masyarakat. Dan juga tidak banyak tukang-tukang yang memahami teknik-teknik bagaimana membangun rumah tahan gempa yang sudah ditetapkan standarnya oleh pemerintah. Sementara selama ini pemerintah menetapkan 3 model rumah tahan gempa, diantaranya Risha (rumah instan sederhana sehat), Rika ( rumah instan kayu ) dan Riba (rumah instan baja ringan). 

Bersamaan dengan OJT angkatan I ini pula dilakukan Sarasehan / Sangkep “Mendengar Suara Bumi dan Warga (Voice of Eart, Voice of People) Untuk Percepatan dan Pertepatan Pemulihan Dampak Gempa”.

Mendengar Suara Warga

Tujuan dari kegiatan ini adalah

1)Terjadinya starting point strategi dan konsep pembangunan yang lebih memiliki perspektif kebencanaan. 2)Terjadinya dialog publik antara masyarakat, pemangku kepentingan dan pemegang kebijakan. 3)Terjadinya pusat pembelajaran dan kerja-kerja di Bengkel Latihan Kerja (Bale) Utama dalam upaya percepatan rehap rekon. 4)Tukang kayu untuk pembangunan Rika mendapatkan sertifikasi oleh pemerintah. 5)Menanam pohon sebagai upaya mewujudkan sumberdaya terbarukan bagian dari konsekwensi pembangunan RIKA. 6)Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan limbah / sampah (plastik)

Hasil yang diharapkan

  1. Adanya starting point strategi dan konsep pembangunan yang lebih memiliki perspektif kebencanaan
  2. Adanya dialog publik antara masyarakat, pemangku kepentingan dan pemegang kebijakan
  3. Tersedianya tempat atau pusat bengkel latihan kerja utama di tingkat kecamatan
  4. Tersedianya sejumlah 35 tukang untuk pembangunan Rika yang sudah tersertifikasi di tiap kecamatan
  5. Terorganisirnya tenanga kerja / tukang-tukang untuk membangun Rika di setiap kecamatan
  6. Terbangunnya sistem kerja yang efektiv dan efisien (sistem pabrikasi) dalam membangun Rika
  7. Terbangunnya 1 unit rumah RIKA
  8. Tertanamnya 22 pohon bersama di lingkungan Pokmas
  9. Menanam pohon disebar luas di tingkat pokmas-pokmas
  10. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan limbah / sampah (plastik)

Peserta pelatihan dan kerja pembangunan rumah jenis RIKA akan diikuti oleh peserta sebanyak 36 orang tukang kayu dan batu yang berasal dari kecamatan Bayan dan kayangan. Kegiatan  pelatihan ini diadakan selama 4 hari, mulai tanggal 22 April hingga 25 April 2019

Kegiatan ini diselenggarakan bergotongroyong bersama Konsorsium Metadaya (Santiri, Koperasi Jatiperak, Forum Wirausaha Baru, Asosiasi UKM NTB Bangkit) dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (BPBD Lombok Utara, Bappeda, Dinas Tenaga Kerja Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang, Dinas Lingkungan Hidup Perumahan Dan Kawasan Pemukiman dan instansi terkait lainnya), WWF-NTB, didukung oleh Kementerian Ketenagakerjaan, DMtK, Pemerintah Provinsi NTB, dan para pihak lainnya. (Wa2n)