FESTIVAL RINJANI IV – SANGKEP BELEQ 2

Santiri, 9 Oktober 2020, Sangkep Beleq yang dilaksanakan di Taman Narmada pada tanggal 6 Oktober 2020 dengan Tema “Betabik, Mengeja Ulang Saujana Rinjani Melalui Sangkep Beleq” merupakan rangkaian dari kegiatan Festival Rinjani IV. Sangkep Beleq dilaksanakan bertujuan untuk “Mengeja Kembali Rinjani” yang penting untuk disegerakan demi mendekati pemahaman yang tepat dan benar terkait kode penciptaan yang melekat pada Rinjani.

Sangkep Beleq dilaksanakan dengan mengedepankan protokol Covid-19 dipandu oleh Mas Jay selaku MC pada acara sekaligus memandu pembukaan dengan menyanyikan Indonesia Raya secara bersama-sama. Acara dimulai dengan penyampaian laporan ketua panitia Dedi Kuswari, dalam laporan yang disampaikan ketua panitia menyampaikan bahwa Sangkep merupakan rangkaian dari Festival Rinjani dan Sangkep yang dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2020 merupakan seri kedua setelah sebelumnya dilaksanakan pada tanggal 26 September 2020 di Bayan Kabupaten Lombok Utara. Selain itu, ketua panitia mengharapkan Sangkep bisa menjadi acara tahunan.

Sangkep Beleq yang dihadiri oleh Asisten 1 Bupati Kabupaten Lombok Barat yang sekaligus membuka acara Sangkep Beleq. Dalam sambutannya disampaikan,  bahwa sangkep ini diharapkan bisa menemukan konsep keharmonisan dari PALAGAN HATI dan bisa turun menjadi program kongkrit serta dikolaborasikan dengan berbagai stakeholder internal dan eksternal, agar konsep PALAGAN HATI tidak menjadi konsep saja dan bisa di lakukan implementasikan dalam jangka pendek, menengah dan Panjang. Asisten 1 Bupati Kabupaten Lombok Barat juga menyampaikan bahwa rinjani diharapka bisa Kembali ke bentuk aslinya dan bisa menjadikan rinjani bermanfaat dan dikelola dengana arif dan bijaksana, karena kerusakan yang telah terjadi sebelumnya harus dipertanggungjawabkan oleh semua pihak. Pernyataan terakhir dari Asisten 1 Bupati Lombok Barat yakni melalui Sangkep Beleq konsep 3M bisa terlaksana yakni Menjaga Rinjani dan hutan, Merawat Rinjani dan hutan serta Mengawasi pengelolaan Rinjani dan hutan. 3M harus dilakukan dengan sinergitas dan pengelolaan yang baik.

Kegiatan Sangkep Beleq ini diviralkan di media sosial maka diharapkan acara ini diketahui oleh banyak pihak. Disampaikan juga bahwa dalam menghadapi setiap situasi pandemic masyarakat adat memiliki pola hidup yang lebih sehat dan tenang karena eratnya kebudayaan yang mereka miliki. Sehingga kebudayaan diharapkan bisa menjawab persoalan yang ada bukan kegiatan mainstream seperti penggunaan teknologi yang berlebihan. Maka terkait dengan Rinjani, literasi melalui kebudayaan perlu dilakukan untuk mengeja Kembali Rinjani dengan cara mendengarkan terlebih dahulu apa dan bagaimana Rinjani menurut masyarakat adat.

Sangkep Beleq diisi oleh beberapa narasumber yang tergabung melalui media Zoom Virtual Meeting, diawali oleh Professor Din Syamsuddin yang menyampaikan bahwa  pemuka agama di seluruh dunia prihatin dengan kondisi alam seperti perubahan iklim dan pemanasan global. Karena situasi ini menimbulkan dampak yang luas salah satunya adalah kerusakan alam dan permasalahan lingkungan hidup. Professor Din Syamsuddin juga menyampaikan bahwa kerusakan alam dan permasalahan lingkungan hidup yang terjadi merupakan tanggung jawab moral manusia karena kesalahan manusia dalam mengelola alam. Kesalahan ini terjadi karena manusia menjadikan alam sebagai objek bukan subjek. Jika dijadikan sebagai objek, maka hal yang paling utama dilakukan yakni eksploitasi yang menyebabkan kerusakan alam. Maka dari itu, diperlukan perubahan pola piker yang menjadikan alam sebagai objek digeser menjadi subjek karena alam sendiri memiliki jiwa. Konsep pelestarian alam sejatinya sudah dituliskan dan disebutkan di kitab suci masing-masing agama. Maka dengan konsep ini, Rinjani bisa dilestarikan kembali dengan melihat apa yang diinginkan melalui pendekatan agama. Bagi masyarakat di lingkar Rinjani dan Pulau Lombok Rinjani sudah ditakdirkan sebagai penompang kehidupan, maka sangat perlu dijaga keharmonisan di dalamnya. Lebih lanjut Professor Din Syamsuddin menyampaikan bahwa di dalam MUI pelestarian alam dibahasakan sebagai sebuah pemulian alam bukan sebagai kegiatan konservasi alam. Sehingga Festival Rinjani ini diharapkan menjadi sebuah pembelajaran dan tidak hanya sebatas sebagai event  seremonial semata melainkan sebagai media untuk bertindak nyata untuk mengembalikan jiwa atau kemuliaan Rinjani.

Narasumber kedua yang terhubung melalui Zoom Virtual Meeting yakni Hanafi Guciano, perwakilan dari IRI (Interfaith Rainforest Initiatives) memaparkan 1/3 bagian Al-Qur’an mengajarkan tentang bagaimana mengelola air, habitat  kehidupan dan alam. Maka ketika ada kerusakan alam, sejatinya panduan yang ada di dalam Al-Qur’an bisa dijadikan pedoman untuk memperbaiki kerusakan alam yang timbul akibat ulah manusia sehingga keberlangsungan hidup menjadi terganggu. Namun  keberlangsungan hanya sebagai slogan saja namun secara praktek nyata tidak terlihat dan pihak yang paling banyak disalahkan yakni masyarakat adat. Hal yang perlu diketahui bahwa masyarakat adat menguasai hampir 80% keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Masyarakat adat memiliki kearifan yang sejajar dengan alam dan memiliki hubungan dengan alamnya. Sekali lagi, disampaikan oleh Bapak Hanafi Guciani bahwa alam masih dianggap sebagai objek semata. Alam memberikan manusia semua kebutuhan namun manusia masih saja melakukan pengerusakan alam. Di sisi lain masyarakat adat sudah berjuang untuk mengamankan hutannya namun terganjal dengan kebijakan, pemilik dana dan pengambil kebijakan. Melalui Festival Rinjani dan Sangkep Beleq ini, IRI mengharapkan adanya sebuah Tindakan nyata untuk pemulihan dan pelestarian alam khususnya Rinjani. Salah satunya dengan berpedoman menggunakan kitab suci agama masing-masing. IRI juga melakukan edukasi untuk pemulihan alam dengan cara  mengajarkan masyarakat yang berada di limgkar hutan untuk berpuasa selama satu hari untuk hutan seperti tidak melakukan kegiatan di lingkar hutan agar hutan memiliki kesempatan untuk memulihkan diri.

Narasumber ketiga yang bergabung melalui Zoom Virtual Meeting  yakni TGH. Hasanaen Juaini. TGH Hasanaen menyampaikan bahwa sudah saatnya menggunakan ajaran dan kitab agama masing-masing dalam mengelola alam. TGH Hasanaen juga memberikan pemahaman bahwa Pulau Lombok merupakan pulau kecil dan tidak harus berpatokan dengan kawasan lingkar Rinjani namun seluruh Lombok pada umumnya. Karena kerusakan alam atau lingkungan yang terjadi di Pulau Lombok akan memberikan kerusakan pada Rinjani, begitu pula sebaliknya kerusakan Rinjani memberikan kerusakan pada Pulau Lombok. Bagi masyarakat adat, menjaga ekosistem alam dan hutan merupakan kearifan lokal yang telah mereka lakukan sejak lama. Berbagai kearifan lokal membuktikan bahwa mereka mampu menjaga ekosistem di alam dan hutan. Namun, yang selalu terjadi adalah masyarakat adat selalu kalah dari kebijakan dan eksploitasi dari luar. Melalui kearifan lokal ini, TGH. Hasanaen juga telah membuktikan metode ini di kawasan Sedau Lombok Barat. Tanah kering yang tidak bisa ditumbuhi tanaman, diperlakukan sebagai subjek melalui pendekatan kearfian lokal berhasil berubah menjadi kawasan yang hijau dan tumbuh kawasan hutan. Lebih lanjut TGH. Hasanaen menyampaikan kerusakan alam yang dihadapi saat ini sangat berat, secara materil tidak akan bisa diperbaiki kembali. Namun kearifan lokal yang dibangun bisa membuat alam kembali normal.

Setelah pemaparan dari narasumber, Moderator mengarahkan peserta untuk berdiskusi. Moderator menyampaikan bahwa, diskusi yang dibangun diharapkan bisa merumuskan rencana yang bisa diaplikasikan dan berkelanjutan.

Penanggap pertama yakni Lalu Abdurrahim menyampaikan bahwa Festival Rinjani ke depannya dilaksanakan oleh Tuan Guru dan pemuka agama lainnya. Penanggap juga berpendapat bahwa panduan yang disampaikan oleh narasumber cukup banyak yang didapatkan namun belum bisa terbentuk sebagai acuan real atau nyata. Sehingga diharapkan tokoh atau organisasi keagamaan memiliki fatwa terkait dengan kepedulian terhadap alam. Penanggap juga memaparkan tidak kurang terdapat 16.000 orang yang berkunjung ke gunung Rinjani setiap tahun dan mengharapkan angka ini menjadi catatan pihak terkait.

Selanjutnya Bapak H. L. Muhammad Amin menyampaikan poin-poin terkait dengan kegiatan untuk pelestarian alam yakni:

  1. Setiap orang yang memiliki hajatan seperti kawinan, lahiran dan meninggal diwajibkan menanam satu pohon
  2. Perlu didorong regulasi untuk penyelamatan Rinjani
  3. Perlu diundang lembaga atau organisasi terkait Rinjani
  4. Banyak perda di kabupaten , seberapa besar pengaruh atau dampak dari keberhasilan pengelolan alam
  5. Perlu dibuat dokumentasi terkait dengan kegiatan Festival Rinjani untuk menyebarkan kebaikan

Bapak Sembahulun dari Lombok Timur menyampaikan hutan saat ini sudah menjadi media tanam konsumtif. Hutan yang tadinya menjadi penyedia air atau sumber mata air sudah menghilang karena hutan yang menjadi media penyimpanan air berubah menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang justru banyak mengkonsumsi air. Melihat situasi ini Bapak Sembahulun berulang kali menghubungi pemerintah pusat agar situasi ini tidak berlanjut lagi. Seehingga Bapak Sembahulun menginginkan hutan dan alam sebaiknya dikembalikan kepada masyarakat adat untuk di Kelola. Penanggap juga memaparkan optimisme jika diberikan lahan untuk dikelola dengan masyarakat adat paling tidak 10 tahun, maka hutan akan kembali tumbuh dan sumber mata air akan kembali muncul.

Bapak L. Zainuddin menyampaikan pendapat bahwa kerusakan hutan mulai sejak zaman reformasi. Setelah reformasi ada namanya pengelolaan hutan untuk masyarakat, akan tetapi praktek di lapangan yang sangat tidak sesuai dengan konsep awal. Karena saat diterapkan yang terjadi justru eksploitasi hutan. Eksploitasi hutan seperti memiliki dampak sangat besar seperti banjir dan sebagainya. Padahal sejak lama masyarakat adat mengelola hutan namun tidak menemukan dampak yang besar.

Setelah mendengarkan pemaparan penanggap, moderator mengambil kesimpulan awal yakni pemaparan penanggap yang menemukan bahwa pengelolaan hutan menggunakan model kearifan lokal lebih berhasil dibandingkan dengan pendekatan hukum normatif seperti UU, Perda ataupun peraturan lainnya. Sehingga, sudah saatnya pendekatan keagamaan dan adat melalui kearifan lokal masuk sebagai benteng pengelolaan hutan. Di sisi lain, munculnya pariwsata dituding sebagai penyebab awal bagaimana 16.000 orang masuk ke Gunung Rinjani. Moderator juga menyampaikan berdasarkan pemaparan narasumber dan penanggap, pariwisata hendaknya mengacu kepada pemuliaan air dan hutan. Hutan sejak zaman reformasi mengalami kerusakan sangat cepat dan perlu dilakukan identifikasi aktor mana saja yang terlibat karena pelakunya sangat sulit untuk ditangkap. Hal-hal yang diusulkan untuk melakukan pelestarian alam, masyarakat adat sudah terlebih dahulu melakukannya.

Bapak Rianom dari desa Karang Bajo Lombok Utara menyampaikan “alam, hutan dan Rinjani perlu dijaga kelestariannya. Dalam menjaga Rinjani, masyarakat alam dan agama perlu melakukan kolaborasi yang baik agar tujuan kelestarian bisa terwujud. Penanggap juga menyampaikan dalam mengelola hutan, alam dan Rinjani pendekatan kearifan lokal lebih berhasil dibandingkan dengan pendekatan hukum normatif. Selain itu, perlu dilakukan duduk bersama lintas agama dalam merumuskan kearifan lokal lainnya”.

Perwakilan dari TNGR menyampaikan tanggapan bahwa mereka merupakan UPT Pemerintah Pusat yang diperintahkan  untuk membangun daerah bukan membangun di daerah. Artinya TNGR berperan untuk mengelola kawasan lingkar Rinjani. TNGGR juga memaparkan bahwa pengelolaan yang mereka lakukan tidak berbeda jauh dengan konsep yang dipaparkan oleh Professor Din Syamsuddin dan Asisten 1 Bupati Lombok Barat yakni pengelolaan 3P yakni pemanfaatan, pengawetan dan perlindungan.

TNGR memastikan penerapan kearifan lokal bisa tetap terlaksana di lapangan dan hal ini menjadi masukan dalam pengelolaan TNGR. Dalam hal ini, TNGR akan menggali awig-awig yang menjadi kearifan lokal masyarakat adat dalam mengelola hutan dan alam. Sehingga diharapkan muncul pengelolaan taman nasional yang berbeda dengan lainnya. Saat ini TNGR sedang melakukan perubahan total Rencana Program Jangka Panjang (RPJP) untuk 10 tahun ke depan dan bisa memasukkan situasi masyarakat adat dalam pengelolaan hutan dan alam.

Ibu Samsiah Samad dari Lombok Barat memaparkan bahwa sampai saat ini, hutan adat belum diakui sebagai hukum formal, sejatinya harus diperlukan pengakuan dalam hukum formal karena awig-awig dari masyarakat adat memiliki posisi yang tidak kuat. Lebih lanjut disampaikan penanggap bahwa dalam pemanfaatan kawasan lingkar Rinjani, hanya 10% saja wilayah yang boleh dimanfaatkan termasuk dalam rencana pembangunan kereta gantung yang sudah digaungkan sejak tahun 1972. Penanggap mempertegas bahwa pembangunan apapun tidak boleh dilakukan di zona inti.

Moderator juga mempersilahkan Penanggap yang terhubung melalui media Zoom Meeting Virtual H. Irzani. Penanggap memaparkan perlu dilakukan kolaborasi antara masyarakat adat dengan pemerintah. Sehingga kekurangan seperti belum terhubungnya antara pemerintah dan masyarakat adat dan yang berada di Lingkar Rinjani bisa dijalin dengan baik dan bisa menghasilkan rumusan bersama dalam mengelola alam, hutan dan Rinjani.

Penanggap selanjutnya yakni Bapak Putu Heri  dari Bappeda Lombok Utara memaparkan bahwa kebutuhan masyarakat adat harus dimasukkan ke dalam program pembangunan jangka menengah dan Panjang. Dan secara kelembagaan, pemerintah membutuhkan komunitas adat tanpa terafiliasi dengan partai politik tertentu.

Penanggap dari tokoh adat Desa Sesait Lombok Utara Bapak Aswadin memberikan usulan berupa perlu dilakukan duduk bersama antara tokoh adat lintas agama untuk merumuskan kelestarian Rinjani. Selain usulan yang disampaikan, penanggap menyampaikan bahwa setiap masyarakat adat memiliki awig-awig yang berbeda namun tujuannya sama yakni untuk kelestarian alam, hutan dan Rinjani. Pananggap juga menyampaikan kearifan lokal selalu kalah dengan kebijakan pemerintah.

Penanggap dari tokoh masyarakat Desa Sokong menyampaikan perlu diidentifikasi ulang identitas masyarakat Sasak seperti apa sebenarnya di mana kekayaan adat dan istiadat yang ada di dalamnya tidak terlihat dengan jelas.

Tambahan penanggap dari unsur Santriwati menyampaikan mereka sudah diajarkan untuk tetap menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan meski dari lingkup yang masih kecil.

Hasil diskusi bersama dengan penanggap yang memberikan pandangan terkait pemaparan yang disampaikan oleh narasumber didapatkan beberapa poin yakni sebagai berikut:

  1. Semua pihak yang berada di lingkar Rinjani memiliki visi yang sama yakni bersama-sama ingin memuliakan Rinjani.
  2. Daya saing yang ada untuk pengelolaan Rinjani saat ini berada di masyarakat dengan kekuatan keuangan bukan masyarakat adat.
  3. Berbicara struktur pembangunan masyarakat adat selalu di bawah. Karena pemuliaan , masyarakat adat harus di atas. Sehingga pembangunan yang ada di masyarakat adat harus sesuai dengan daerah di bawahnya bukan menurut pusat.
  4. Mengingat beberapa daerah di lingkar rinjani akan melangsungkan Pilkada, peserta Sangkep mengusulkan kepada pada Calon KADA untuk concern terhadap keadaan di lingkar Rinjani.
  5. Masyarakat adat perlu kelembagaan yang kuat seperti komunikasi, informasi dan edukasi.
  6. Pembangunan pemuliaan harus masuk RPJMD agar menjadi mainstream.
  7. Regulasi juga diperhatikan perda mana yang sifatnya eksploitasi atau pemuliaan.
  8. Memberikan ruang ekspresi bagi pemuda dalam berkontribusi terkait rinjani baik pemuda adat maupun pemuda lainnya. Diharapkan ada sangkep khusus bagi pemuda untuk membahas hal tersebut.
  9. Peran penting agama juga harus diikutsertakan dalam pemuliaan alam dan hutan.
  10. Branding juga perlu dilakukan untuk memaknai Kembali TNGR seperti apa. Jika membicarakan beauty lebih ke pariwisata, namun jika menggunakan wonderful maka akan muncul nilai-nilai kebudayaan dan Pendidikan.

(Ady Pato/Tim Media Publikasi)

Sangkep Budaya Masyarakat Adat

Santiri, 27 September 2020. Rangkaian Sangkep (pertemuan) Festival Rinjani IV telah dimulai. sejak resmi dibuka oleh wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Ibu  Hj. Siti Rohmi Djalilah pada tanggal 10 September 2020, maka dimulailah rangkaian kegiatan Festival Rinjani IV yang salah satu kegiatannya adalah Sangkep (Pertemuan) yang akan dihadiri oleh individu dan lembaga yang peduli pada pelestarian Gunung Rinjani. Kegiatan sangkep ini diawali dengan sangkep para tokoh adat di lingkar gunung Rinjani pada tanggal 26 September 2020. Sesuai dengan Protap Kesehatan di masa Pandemi covid 19 ini maka kegiatan sangkep ini mengikuti standar Kesehatan yang belaku di masa pandemic ini dan dihadiri dengan jumlah maksimal peserta dalam suatu pertemuan di masa pandemic. Sangkep Masyarakat Adat ini dilakukan secara offline dan bagi masyarakat yang ingin ikut menyaksikan kegiatan sangkep ini disiarkan secara langsung melalui saluran zoom dan youtube. Kegiatan sangkep ini dihadiri oleh perwakilan masyarakat adat dari kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Utara.

Ikut serta dalam sangkep Budaya ini yaitu Bapak Sjamsul Hadi selaku Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Pendidikan dan kebudayaan yang memberikan kata sambutan secara online dari Jakarta. Dalam sambutannya beliau menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan festival rinjani ini. Kegiatan  festival rinjani ini menjadi pilot project untuk kegiatan pelestarian alam di lingkungan gunung rinjani dan mengharapkan ada kesepakatan untuk menjaga kelestarian Kawasan rinjani. Untuk itu perlu ada Kerjasama dari seluruh pihak untuk menjaga kelestarian Rinjani sebagai saujana alam melalui kearifan local yang telah ada. Harapannya di tahun kedepan festival rinjani menjadi mendunia dengan tetap menjaga budaya dan kearifan local yang ada. Diharapkan juga nantinya ada penerus penjaga kebudayaan dari para generasi muda.

Sangkep tokoh adat merupakan satu dari empat sangkep yang akan dilakukan dalam rangkaian kegiatan Festival Rinjani. Tujuan dari sangkep yang pertama ini adalah untuk menggali bagaimana pandangan para tokoh adat terhadap Rinjani, bagaimana nilai adat mengelola dan merawat Rinjani.
Selama ini yang menjaga dan merawat rinjani adalah masyarakat adat, tetapi yang mengelola dan mengolahnya tidak hanya masyarakat adat sehingga Rinjani menjadi semakin rusak. Bagi sebagian kelompok Rinjani tidak lebih dari sekedar obyek wisata yang dapat menghasilkan uang, bagi orang kota Rinjani mungkin sekedar tempat untuk mendaki dan rekreasi, anak muda yang diharapkan dapat meneruskan menjaga Rinjani malah menjauh tergerus oleh arus pariwisata dan budaya modern, sehingga kita hari ini kita lihat di atas Rinjani banyak ditemukan sampah, pohon – pohon ditebang, debit air banyak berkurang. oleh karena itu dalam sangkep ini juga dibagikan bibit pohon agar dapat ditanam dan dijaga di lingkungan rumah masing-masing peserta.
Tema kegiatan Festival Rinjani kali ini adalah “Mengeja Rinjani” karena kerusakan yang terjadi di Rinjani bisa jadi bukan hanya disebabkan oleh masyarakat modern yang tidak mengerti dan tidak peduli pada Rinjani melainkan masyarakat adat yang telah lupa bagaimana memaknai dan memperlakukan Rinjani.
Nilai – nilai yang tergali pada sangkep adat ini nantinya akan memaknai seluruh rangkaian kegiatan Festival Rinjani, menjadi sumber acuan nilai yang akan disampaikan kepada sangkep – sangkep berikutnya, dengan harapan agar para pengampu kebijakan / pemerintah dapat memahaminya dan menjadikannya salah satu landasan dalam membuat berbagai keputusan.

Beberapa point yang tergali dari sangkep masyarakat adat ini:
————————————————————————–
Bagi masyarakat adat, Rinjani merupakan salah satu bentuk sumber kehidupan dan penghidupan, menjaganya adalah sebuah keniscayaan, karena itu masyarakat adat perlu membentuk pranata adat agar ritual – ritual untuk menjaga Rinjani kembali dapat dilakukan secara sempurna, nilai – nilai dan pengetahuan yang ada pada masyarakat adat ini juga perlu diajarkan kepada generasi muda untuk agar nilai dan pengetahuan tersebut lestari. Diantara nilai dan ritual adat untuk menjaga Rinjani adalah adanya sembeq (yaitu pemberian tanda, yang biasanya di dahi, atas ijin untuk melakukan sesuatu), sebelum masuk hutan seseorang harus di-sembeq, sebelum menebang pohon harus di-sembeq, seorang bayi saat diberikan nama juga melalui sembeq, dan banyak hal lainnya dilakukan dengan sembeq, tetapi hari ini kita lihat sembeq sudah kalah dengan stempel, masuk rinjani tebang kayu, bahkan pemberian nama cukup dengan hanya menggunakan stempel. Selain melalui ritual – ritual adat kerukunan dalam bermasyarakat juga perlu dijaga, karena kerusakan Rinjani merupakan akibat / korban dari adanya berbagai kepentingan. Ada yang memutus mata rantai kita sehingga sepertinya Rinjani hanya milik orang Bayan saja, mata rantai yang terputus itu adalah pewarisannya, bagaimana anak cucu kita merasa memiliki Rinjani ini. Bencana yang baru saja terjadi merupakan teguran dari Tuhan sehingga pranata adat harus segera melakuan ritual.
Rinjani merupakan sebuah simbol yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa di pulau Lombok. Sebagaimana simbol di tempat lain digunakan untuk menerima petunjuk, maka di Rinjani juga digunakan untuk sebagai tempat untuk mencari petunjuk, jauh sebelum islam datang ke tanah sasak, masyarakat sasak sudah tampak islami. Lahir, hidup, dan mati merupakan daur hidup semua makhluk, daur hidup ini dibahas oleh para orang tua kita sejak dahulu.
Rinjani merupakan giri suci atau kemalik lombok, kemalik artinya tidak boleh melakukan suatu larangan / hal yang dilarang. Kami dulu naik Rinjani hanya untuk bertapa, berobat, dan membersihkan gegamang-nya (gegamang = senjata), dan ini telah terjadi sejak rin (rin = sejak dahulu kala). Oleh karenanya perlu ditegakkan kembali awig – awig adat, barang siapa yang melanggar awig – awig harus diberikan sanksi, siap saja yang melanggar kemalik / tidak menghormati kemalik harus mendapat sanksi. Namun hari ini awig – awig masyarakat adat tidak bisa ditegakkan karena tergilas oleh undang – undang investasi, jadi perlu dilakukan pendekatan secara politik dalam rangka melakukan penolakan undang – undang investasi tersebut.
Rinjani merupakan sumber inspirasi, sumber penghidupan, dan pranata sosial. Tetapi hari ini kita lihat tidak seorangpun mengerti Rinjani, kita lihat semua bupati yang berbicara tentang Rinjani pasti jatuh, perjuangan terhadap Rinjani hanya sebatas wacana dan sifatnya masih parsial, tidak ada yang benar – benar berjuang secara total, masih kalah saat dihadapkan dengan uang. Selain itu perjuangan atas Rinjani juga tidak stagnan, apa yang kita bicarakan hari ini sudah sering kita lakukan, temanya masih sama sejak perekat umbara digagas tahun 1998 yang isinya tentang kekecewaan kita tentang keadaan Rinjani.

 

 

Pengukuhan IKA ITS Nusra dan Launching Festival Rinjani IV

Mataram, 10 September 2020, Semangat bekerja dalam melestarikan budaya menggiringnya menahkodai IKA ITS Nusra di tahun 2020. Ketua IKA ITS Nusra Periode 2020-2024 Tjatur Kukuh S. menyebutkan bahwa konsolidisi dengan alumni ITS yang tersebar di kepulauan Nusra akan menjadi prioritas utama, karena melihat kondisi geografis yang dominan dengan pulau-pulau yang tidak sama dengan Jawa. Teknoculture dipilih menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri pada budaya yang menjadi arah pergerakan IKA ITS Nusra. Diukung oleh Dirjen Kebudayaan menambahkan bahwa pendekatan sosial budaya melalui teknologi tidak untuk mengganti yang sudah ada, namun digunakan sebagai perantara dalam meningkatkan ranah sosial budaya yang telah dimiliki. Sudah saatnya memberi arti lebih pada teknologi sehingga akan semakin bermanfaat untuk masyarakat.

Kegiatan ini dapat berlangsung karena dukungan para pihak (pustik bahasa Mataram, Humas UNU NTB, Weekend Poject, artcoffeelago dan rekan-rekan tim festival rinjani. Kegian ini bertolak dari suatu peristiwa yang terjadi di Lombok. Pada 2018 mendapatkan sapaan yang luarbiasa  dari gempa berkekuatan 5 hingga 6,9 skala lihter yang meluluhlantahkan Lombok, dan dampak terbesar berada di Lombok Utara. Sehingga tahun 2018 menjadi  tahun yang cukup berat, dan juga menjadi sebuah momentum dimana IKA ITS bergerak dalam membantu pemulihan. Pada acara Peluncuran Pembukaan Festival Rinjani, Gendewa Tunas Rncak selaku ketua panitia Festival menerangkan  rangkaian kegiatannya dilakukan dengan durasi tiga bulan (September-November).  Pertama; Sangkep (musyawarah), biasanya dilakukan oleh tokoh agama, tokoh adat, dan para tetua dengan tujuan untuk memformulasikan dari apa yang diwariskan scara turum menurun.  Sangkep pada kegiatan ini dilakukan secara online (virtual) dan offline. Kemudian dilanjutkan dengan Sangkep yang lebih teknis dan programatik. Sangkep virtual dilaksanakan oleh anak-anak muda, sangkep oleh perempuan, sangkep oleh seniman dan budayawan, sangkep oleh kaum distabilitas, Sangkep ini nantinya dibahas untuk kerangka programatik. Output yang dapat dihasilkan adalah rumusan Rinjani, oleh karena itu hastag yang digunakan pada kegiatan Rinjani Festival adalah “Mengeja Kembali Rinjani”. Kedua, Yora Hero merupakan sebuah kompetisi pendokumentasian dalam konsep perumusan minat dan bakat yang mewakili nama sekolah untuk memetakan, mendokumentasikan, dan mengidentifikasikan kembali yang dituangkan dalam bentuk foto, video, sketsa, dan narasi. Outputnya akan menjadi data base, karena ketika berdiskusi dengan pemerinth daerah atau stakeholder lainnya potensi pariwisata atau alam dapat teridentifikasi dengan baik yang dapat dibawa kemana arah selanjutnya. Ketiga, Poroq-poroq, yaitu berdiskusi santai mengisi waktu luang namun produktif. Terkait pandemic, orang tidak bisa kemana-mana, ternyata setelah melihat instagram ada kelompok masyarakat yang membuat makanan di kawasan lingkar rinjani. Ini adalah kegiatan yang lumayan produktif, sehngga  hal-hal seperti ini bisa difasilitasi. Sehingga pada festival Rinjani ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ekonomi untuk industry dan usaha dalam skala kecil. Outputnya adalah bagimana caranya apa yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dapat dipasarkan dengan baik melalui Tenten untuk mengakomodir UMKM oleh kelompok masyarakat dalam bentuk platform digital. Oleh karena itu, waktu gempa yang sudah terjadi dan pandemic yang terjadi saat ini, beberapa kelompok pemuda diarahkan untuk dilatih, ditingkatkan kapasitas dan kapabilitasnya agar mereka bisa mengelola  wisata budaya terutama yang berada lingkar kaki rinjani. Keempat, Puncak Festival, dilakukan melalui beberapa rangkaian, diantaranya adalah Penanaman tanaman langka dan tanaman produktif untuk masyarakat local; dan Sembeq, dulu masyarakat adat sebelum naik ke rinjani, mereka melakukan Sembeq merupakan penanda yang diyakini agar mendapatkan keselamatan dalam melakukan aktivitas. Namun, zaman sekarang agak sulit dilakukan, oleh karena itu kami transformasi Sembeq tersebut dengan menggunakan Sembeq Digital yang dapat memantau (teracking dan tracing) para pendaki Rinjani. Dari seluruh rangkaian kegiatan festival yang dilakukan, dihasilkanlah sebuah rumusan rinjani dibaca secara bersamaan dari “mengeja kembali rinjani” menjadi sebuah Deklarasi Rinjani.

 

Menuju Kemandirian Masyarakat Adat Kedatuan Bayan Melalui Penetapan dan Pengakuan Wilayah Kelola dan Ruang Hidup

Santiri, 8 Juli 2020. Pada hari Rabu tanggal 8 Juli 2020 diadakan diskusi tentang hasil pemetaan wilayah kelola dan ruang hidup masyarakat Adat Kedatuan Bayan Lombok Utara yang telah dilakukan oleh tim Santiri sejakl bulan Maret hingga bulan Juli tahun 2020.
kegiatan ini diadakan dalam acara “Coffee Morning” Kebudayaan Lombok Utara di ruang aula Bappeda Lombok Utara yang dihadiri oleh Kepala Badan, Kepala Bidang dan Staf SOSBUD Perencanaan Pembangunan Daerah, Kabid Kebudayaan, Kabid Perpustakaan, Kabid Pemberdayaan Masyarakat Desa, Camat Bayan, Camat Kayangan Kabupaten Lombok Utara, Budayawan, SANTIRI, Gendewa Tunas Rancak selaku Kepala Program DGM Indonesia di Lombok Utara, Komunitas Adat, Sekolah Adat, akademisi, Antropolog.
Dalam pembukaan acara, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Lombok Utara menyatakan Sesuai Visi dan Misi Bupati dengan RPJMD dalam pembangunan Kabupaten Lombok Utara, Pembangunan yang bersinergi dengan Kebudayaan yang dimiliki Kabupaten Lombok Utara terlaksana dengan proses yang tidak mudah. Perjuangan kebudayaan dengan disahkannya regulasi yang Perda No. 06 Tahun 2020 perlu diapresiasi dan didukung oleh berbagai Pihak.
selanjutnya overview dan review kegiatan dilakukan oleh direktur Santiri mengenai Jejak jejak Kebudayaan yang dimiliki Kabupaten Lombok Utaraperlu diselaraskan oleh berbagai pihak sehingga menjadi kekayaan tak ternilai, selanjutnya Komunitas adat tanpa dukungan pemerintah masih dapat melaksanakan ritual adat secara mandiri. Peta kewilayaan Masyarakat Adat yang harus manpu diakomodir oleh pemerintah Kabupaten Lombok utara sebagai bentuk dukungan.
Ritual “sembek birak” merupakan mikrocip yang merupakan kekayaan yang perlu dilestarikan karena suatu symbol dari kewilayaan Adat yang dipergunakan untuk memonitoring dan evaluasi dari prilaku masyarakat yang memasuki wilayah masyarakat adat secara spiritual
Dimasa depan para pendaki yang biasa menggunakan “sembek birak” kemungkinan akan menggunakan microcip digital yang akan menyimpan berbagai data dan prilaku dari pendaki sehingga dapat dipikirkan mulai dari sekarang. dan para pemuda adat dapat berperan untuk mengoperasikan dan mengawasinya.
Pemaparan selanjutnya yaitu tentang Program Pemetaan Wilayah Kelola dan Ruang Hidup Masyarakat Adat Kedatuan Bayan oleh GENDEWA TUNAS RANCAK Direktur Program DGM Indonesia; “PENETAPAN WET KEDATUAN BAYAN”. dalam penyampaianya disebutkan tentang Tata Ruang Yang Parsial. Harapannya dimiliki oleh Kewilayahan Kedatuan Bayan dengan latar belakang adanya mega proyek Global HAP, Penyusutan tanah Pecatu yang mengalami peralihan hak kepemilikan , Pencemaran Lingkungan akibat Sampah Plastik, Status, kritis identitas(bangga atau tidaknya sebagai bagian dari masyarakat adat)
Hasil yang dicapai dalam proses pemetaan tersebut yaitu : Kesepakatan dan kesepahaman Bersama, Surat Keputusan Bupati yang merupakan turunan dari Perda No.06 Tahun 2020
Hasil tambahan yang didapat adalah keterlibatan pemuda yang sedang melakukan KKN, Siswa Sekolah, Pemuda, gender dan Keterlibatan: Pemerintah, Non Pemerintah dan Masyarakat.
Paparan selanjutnya yaitu Proses Program dan Capaian Lapangan Oleh Renadi Koordinator Lapangan Program DGM Indonesia, yang menyampaikan tentang Diskusi internal dengan SANTIRI sebelum kegiatan dan dilanjutkan safari kebudayaan dengan melibatkan baik para tokoh budaya lelaki maupun perempuan yang dipisahkan keterlibatannya sesuai tupoksi masing masing, Proses pemetaan dengan menggunakan dua strategi antara lain pemetaan partisifatif dan Pemetaan Kartometrik dan survey lapangan. dilanjutkan dengan pemaparan singkat oleh tim teknis GIS dari Santiri.
Selanjutnya Penyampaian Draf Surat Keputusan Bupati tentang Pengakuan Ruang Hidup dan Wilayah Kelola Masyarakat Adat Kedatuan Bayan dalam Kecamatan Bayan dan Kecamatan Kayangan oleh team Legal Drafting ( Abdul Samsul Muhyin,Rasidep,M Wahyudin); Alasan diperlukannya Pengakuan Ruang Hidup dan Wilayah Kelola Masyarakat Adat Kedatuan Bayan dalam Kecamatan Bayan dan Kecamatan Kayangan meliputi: ruang lingkup, air dan social karena mengalami perubahan fungsi sehingga memutuskan Ruang lingkup itu sendiri, sinkronisasi peta yang dibuat dalam pemetaan kewilayahan kedatuan bayan.
acara selanjutnya yatu sesi Diskusi dengan para peserta dan Rencana tindak lanjut yang harus diagendakan secepatnya untuk pembahasan draft SK ini yang ditargetkan dalam satu minggu kedepan sudah dapat diputuskan atau ditandatangani oleh Bupati Lombok Utara. (Wa2n)

Pemetaan Batas Terluar Kedatuan Bayan – Kabupaten Lombok Utara

Santiri, 12 April 2020. Setelah melakukan beberapa kali diskusi dan berkunjung ke beberapa tokoh adat, mulai dari pemenang dan gangga di 15 titik wilayah kecamatan Bayan dan Kayangan, lalu dilanjutkan dengan pertemuan musyawarah besar di pantai sedayu (5 Oktober 2019). Didapat gambaran tentang peta batas luar kedatuan bayan, kenyataannya saat pemetaan Batas Luar, batasnya dari menanga reduh sampai Lombok timur (Tal Baluq), batas ini muncul saat berdiskusi dengan tokoh-tokoh Bayan dan Kayangan. Saat awal dibuat perkiraan batas kedatuan bayan ada di kecamatan bayan-kayangan.

Dari hasil diskusi dengan beberapa tokoh dan pertemuan di panti sedayu, dapat diperoleh gambaran tentang batas terluar kedatuan Bayan, dimulai dari batas timur pulau Lombok yaitu dari pantai sekitar Labu Pandan (daerah Tal 8/baluq) ke arah timur menyusuri Kokok Sambelia sampai pertemuan dengan Kokok Semareng, terus ke arah timur menyusuri Kokok Semareng sampai bertemu Gunung Mundung, dari gunung Mundung ke arah barat daya menyusuri perbukitan sampai Gunung Sengkor, dari Gunung Sengkor ke arah utara menyusuri perbukitan sampai bertemu Kokok Nangka, terus ke arah barat laut menyusuri Kokok Nangka sampai sekitar Gunung Seledra, dari Gunung Seledra ke arah barat daya menyusuri perbukitan sampai bertemu Gunung Bau, dari Gunung Bau ke arah barat daya sampai bertemu Gunung Pegangsingan, dari Gunung Pegangsingan ke arah selatan menyusuri perbukitan sampai bertemu Gunung Kendat, dari Gunung Kendat menyusuri perbukitan ke arah barat laut sampai bertemu Gunung Pusuk, dari Gunung Pusuk ke arah barat sampai bertemu Gunung Sanggar, dari Gunung Sanggar terus ke arah barat sampai bertemu Gunung Tembesi, dari Gunung Tembesi terus ke arah barat sampai bertemu Gunung Kondo, dari Gunung Kondo ke arah barat daya menyusuri lereng Rinjani sampai bertemu gunung Layur, dari Gunung Layur terus ke arah barat sampai bertemu Gundukan Tampole, dari Gundukan Tampole terus ke arah barat sampai bertemu Jalan Pusuk  menyusuri Jalan Pusuk ke arah selatan sampai batas Desa Pusuk Lestari menyusuri batas selatan Desa Pusuk Lestari melalui Bukit Plolat, Bukit Batupenyu, Bukit Kedongdong, sampai Gunung Duduk, dari Gunung Duduk menuju barat sampai bertemu bukit Lendangluar, dari Bukit Lendangluar menuju barat melalui Bukit Mangsit, dari Bukit Mangsit terus ke barat melalui Menanga Duh (Song Gigi) sampai laut. untuk batas terluar wilayah laut, disepakati hingga sejauh mata memandang (Saujana) dari tepi pantai.

Demikian hasil dari perjalanan Panjang diskusi dan pertemuan dengan para tokoh selama  beberapa bulan ini.  

Hasil dari pemetaan ini untuk selanjutnya akan dipresentasikan kembali di  dengan mengundang  para tokoh adat dilanjutkan dengan melakukan perbandingan peta (Overlay) terhadap peta yang ada di Kawasan Lombok Utara bersama dengan dinas dan pihak-pihak yang berkompeten. (Wa2n)

PEMETAAN WILAYAH ADAT BAYAN, KABUPATEN LOMBOK UTARA – NTB

Santiri, 24 Maret 2020. Masyarakat wet adat Bayan merupakan bagian dari masyarakat Sasak yang mendiami Gumi Paer (Pulau Lombok) utamanya bagian utara. Tatakelola pemerintahan sangat unik. Kepemimpinan kolektif-kolegial dengan system pengambilan keputusan dan pendelegasian melalui musyawarah (gundem) yang kurang lebih seperti Sila ke 4.

Masyarakat Wet adat Bayan memiliki 44 perangkat adat yang mana masing masing memiliki peran dan fungsi, misalnya Amaq Lokaq Walin Gumi berurusan dengan kebumian, Amaq Lokak Walin Pande urusan dengan peralatan atau perlengkapan dari logam dan seterusnya. Secara umum, peran dibagi menjadi dua, yakni urusan Keduniawian (dunia nyata/fisik) yang di serahkan pada pemekelan Karang Bajo dan dipimpin oleh Pemekalan Bat Orong, sementara untuk urusan dunia atas (akherat) diserahkan ke Pemekelan Loloan dipimpin Lauk Orong.

Selain terdapat lahan ulayat, seperti hutan dan sebagainya yang dimanfaatkan bersama, untuk kepentingan adat maupun keseharian. Untuk menyokong peran dan fungsi ini, setiap amak lokak (pemimpin adat) memiliki pecatu dan rumah adat (perumbaq) yang berbeda dengan arsitektur rumah adat secara umum sesuai dengan karakteristik. Akibat sistem modern, saat ini pecatu yang masih ada tidak lebih dari 50 %, akibat dari ini kelengkapan institusi adat juga berkurang, dan akibat dari itu ritual daur hidup 8 tahunan (gawe alif) terputus selama lebih 80 tahun.

Identitas dan entitas budaya

Masyarakat Adat Wet Bayan yang menjalankan Filosofi hidup Wet Telu dalam menjaga pelestarian alam. Sampai saat ini masyarakat dat Wet Bayan masih memiliki nilai keraifan local yang dijalankan dengan baik, dan memiliki beberapa keunikan dibandingkan daerah (wet) lain. Perbedaan atau keunikan yang dimiliki adalah memilki tata ruang yang sangat detail, terdapat beberapa wilayah adat yang merupakan sumber kehidupan dan penghidupan orang banyak (hutan adat/hutan tutupan) menjadi tanggung jawab Bersama. Selain itu juga terdapat hutan bambu untuk kebutuhan arsitektur dan juga ritual. Kemudian terdapat tanah pecatu sebagai sumber penghidupan pejabat adat dan untuk memenuhi kebutuhan ritual. Identitas iconic masayrakat adat wet bayan adalah beberapa situs dan cagar budaya (Masjid Kuno dan Makam leluhur), permainan local, Seni tradisi leluhur/seni local, tenun khas masyarakat adat, awik-awik atau aturan adat masih dijalankan dengan baik, kampung adat dan rumah dinas pejabat adat (Bale Lokaq).

Kelembagaan Sosial

Setiap ruang hidup dan ruang kelola memiliki pejabat adat yang menjaga dan juga memanfaatkannya, tentunya ada hak –hak yang diatur sedemikian rupa, dimana wilayah yang bisa dimanfaatkan secara pribadi oleh pejabat adat dan dimana yang bisa dimanfaatkan secara bersama, termasuk diatur dalam waktu-waktu tertentu. Beberapa struktur adat utama yang berada di Wet Bayan, seperti Perumbaq Daya yang menjaga Hutan Adat, Perumbaq Lauq yang menjaga Laut, Amaq Lokaq Gantungan Rombong yang memimpin setiap ritual besar, Amaq Lokaq Senaru yang menjaga pintu masuk Gunung Rinjani dari wilayah barat, Amaq Lokaq Torean yang menjaga pintu Masuk Gunung Rinjani dari wilayah tengah, dan Amaq Lokaq Sajang yang menjaga pintu masuk Gunung Rinjani dari Wilayah timur, dan masih ada banyak lagi prusa/pejabat adat untuk urusan dan hal-hal yang lebih kecil.

Sejarah ringkas masyarakat adat

Masyarakat Adat Bayan atau secara kewilayahan disebut dengan Wet Bayan secara administrative terbagi menjadi 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Bayan dan Kecamatan Kayangan. Kelompok Masyarakat yang dikenal dengan filosofi hidup Wetu Telu untuk menjaga kelestarian alam sampai saat masih menjalankan tradisi-tradisi leluhur baik itu Adat Gama maupun Adat Luir Gama. Ritual Adat Gama merupakan ritual keagamaan yang dilaksanakan sedikit berbeda dibandingkan dengan umumnya, perbedaan pada tata cara dan waktu pelaksanaan seperti, Maulid, Lebaran Tinggi (Idul Fitri), Lebaran Pendeq (Idul Adha), dan lain-lain. Sementra Ritual Adat Luir Gama yang dilaksanakan yaitu Taek Lauk Taek Daya (Ritual Hutan dan Laut untuk menjaga kelestarian), Menjojo, Membangar (Ritual Gumi) dan masih banyak lagi ritual kecil lainnya. Dari beberapa ritual yang dilaksanakan, terdapat satu ritual besar yang disebut dengan Gawe Alif, yang dilaksanakan sekali dalam 8 tahun (Tahun Alip). Tetapi, sejak Indonesia Merdeka, Gawe Alif hanya bisa dilaksanakan sekali saja yaitu dimasa Orde Lama (tahun 1957-1958).

Mata Pencaharian

Masyarakat Adat memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam, termasuk untuk mata pencaharian. Hal ini bisa dilihat dalam ritual yang dilaksanakan dimana pada tatanan local yang ada terdapat ruang kelola untuk lahan pertanian (Ladang dan Sawah), lahan sebagai sumber mata air (Hutan Adat/Hutan Tutupan), lahan sebagai sumber untuk bangunan rumah dan juga bangunan sakral lainnya (Hutan Adat dan Hutan Bambu).

Kondisi ini didukung dengan data statistic sementara BPS kabpuaten Lombok utara yang menyatakan sebagian besar masyarakat yang berada di kawasan wet bayan memiliki mata pencaharian di bidang pertanian, peternakan dan perkebunan.

Wilayah dan Kondisi Sumberdaya Alam

Wet Bayan merupakan salah satu wilayah baru terbentuk secara alamiah, dimana daratannya menjadi tempat tinggal saat ini adalah hasil dari letusan Gunung Samalas ditahun 1257 M (Gunung Rinjani, Gunung Stampol, dan Sangkareang merupakan sisa dari Gunung Samalas). Jarak dari Gunung Rinjani sampai dengan pesisir pantai hanya 10 s/d 15 Km. Terdapat banyak hutan di unung Rinjani dan lerengnya sebagai sumber air untuk kehidupan Masyarakat, serta memiliki lahan kering (lading) untuk jenis tanaman musiman, dan juga lahan pertanian (sawah) untuk lahan irigasi. Karena daratan yang ditempati merupakan lahan dari letusan gunung, maka hampir seluruh lahan yang ada dikategorikan lahan yang sangat subur.

Secara umum, berdasarkan data statistic sementara BPS Kabupaten Lombok Utara tahun 2018, mayoritas lahan di wilayah wet bayan (Kecamatan Bayan dan Kayangan) adalah tanah kering yang digunakan untuk lahan pertanian non padi. Sementara sisanya digunakan untuk tanah sawah dan pekarangan. Jumlah penggunaan lahan ini belum digabungkan dengan penggunaan lahan di kawasan hutan adat atau peruntukan lainnya.

Selain lahan pertanian dan perkebunan, hutan adat juga merupakan sumberdaya alam penting bagi kelangsungan hidup masyarakat adat wet bayan. Salah satunya adanya Hutan Adat Bangket Bayan Hutan adat ini memiliki sembilan sumber mata air dan terletak pada ketinggian sekitar 550 meter dari permukaan laut dengan debit air 120 liter/detik. Dalam praktek pengelolaannya, hutan adat Bangket Bayan mengatur pola hubungan antar masyarakat adat dengan hutan adat Bangket Bayan, dan pola hubungan pejabat/prusa dengan para petani, serta pola hubungan antara manusia dengan hal gaib yang berada didalam hutan adat itu sendiri.

Untuk menjaga keberlanjutan jasa alam, masyarakat adat bayan menerapkan awiq-awiq (kearifan local). Awiq-awiq yang mengatur tentang hutan Bangket Bayan berisi pelarangan mengambil/memetik, mencabut, menebang, menangkap satwa-satwa dan membakar pohon/kayu mati yang terdapat didalam kawasan hutan; Dilarang menggembala ternak di sekitar pinggir dan di dalam kawasan hutan adat yang dapat menyebabkan rusaknya flora dan fauna hutan; Dilarang mencemari/ mengotori sumber-sumber mata air di dalam kawasan hutan adat; Dilarang melakukan meracuni Daerah Aliran Sungai (DAS) menggunakan fottas, decis, setrum dan lain-lain yang dalam menyebabkan musnahnya biotik-biotik hidup di sungai; dan bagi setiap pemakai/ pengguna air baik perorangan maupun kelompok diwajibkan membayar iuran/sawinih kepada pengelola hutan adat dan sumber mata air.

Sebagai daerah atau wilayah yang memiliki laut dan gunung, saat ini menjadi daerah tujuan wisata dunia, bahkan Taman Nasional Gunung Rinjani menjadi Geopark dunia, sekitar 3.000 lebih kunjungan wisatawan yang mengunjungi Taman Nasional Gunung Rinjani setiap tahunnya. Keberadaan beberapa Air terjun juga menjadi obyek wisata yang banyak diminati. Menjadi wilayah wisata tentu berpengaruh besar terhadap kehidupan Masyarakat Adat yang ada di Wet Bayan, baik itu dalam pelestarian alam, maupun dalam menjaga tradisi dan budaya yang ada. Dengan adanya batas wilayah yang jelas mekanisme penyelesaian perselisihan (jika terjadi) akan bisa diselesaikan secara sistematik melalui kelembagaan masayrakat adat wet bayan. Pembagian ruang kelola yang harus dipetakan tentu hal terpenting, sehingga hak dan batasan antara Masyarakat Adat (Masyarakat Lokal) dengan pemerintah adan pihak lain bisa menjadi lebih jelas.

Luas Kawasan yang dipetakan atau penyempurnaan peta berkisar: 366,10 km2 (Bayan) dan 3.850 km2 (Kayangan). Secara umum kedua kecamatan ini berdekatan dengan gunung Rinjani dan berhadapan langsung dengan Lautan Jawa, sehingga rentan terhadap letusan gunung api, tsunami dan gempa, serta perubahan iklim. Karena sebagian besar daratannya merupakan limpahan debu gunung berapi (letusan gunung Samalas (1257) sebagian besar, rentan terhadp longsor. Dalam keterbataan yang ada, karena memiliki nilai dan sumberdaya alam yang kaya dan unik, rentan terhadap alih fungsi, termasuk wilayah kelola dan ruang hidup masyarakat adat di wet ini.

Sementara luasan desa yang akan diintervensi untuk peningkatan produktivitas ekonominya, antara lain Desa Bayan (2.600 Ha), Karang Bajo (1.168 Ha), Loloan (3.350 Ha), Santong (1.109,80 Ha), Sesait (1.200 Ha), Gumantar 3.860 Ha

Tingkat Kerentanan (akibat alam, sosial, politik dan yang berkaitan dengan kebutuhan Kepastian hak ulayat)

Terdapat wilayah yang yang tata kelolanya masih tumpang tindih dengan pihak pemerintah dan pihak liannya saat ini terdapat dibeberapa titik seperti Gunung Rinjani yang dijaga oleh Amaq Lokaq Senaru, Amaq Lokaq Torean dan Amaq Lokaq Sajang saat ini menjadi Taman Nasional yang penguasaan seenuhnya ada dipemerintah. Hal ini menyebabkan setiap pendaki tidak lagi diatur oleh Masyarakat Adat, tetapi berdasarkan Undang-Undang dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Akibatnya, banyak nilai-nilai yang seharusnya dijalankan oleh setiap pendaki tidak diatur dalam undang-undang dan peraturan tersebut.

Beberapa pejabat adat yang berperan untuk mengurus kepemerintahan adat seperti Pembekel dijadikan sebagai Kepala Dusun yang lebih banyak mengurus kepemerintahan administrative (Orde Baru), hal ini menyebabkan pencatu yang dimiliki pembekel menjadi aset kepala dusun juga, sehingga saat ini dengan adanya undang-undang desa, maka semua pecatu kepala dusun ditarik menjadi aset pemerintah (Pemda Kabupaten Lombok Utara).

Perkembangan keperintahan yang terjadi sejak kemerdekaan Indonesia menyebabkan banyak wilayah kelola Masyarakat Adat Wet Bayan dikuasai oleh pihak lain, hal ini disebabkan karena tidak adanya peta wilayah yang dimiliki oleh Masyarakat Adat. Masjid Kuno (Masjid Beleq) Bayan yang dijadikan sebagai pusat ritual tertentu oleh Masyarakat dijadikan sebagai aset pemerintah dengan memasukannya sebagai cagar budaya. Hal ini menyebabkan sistem aturan local tidak berfungsi lagi. Kejadian bisa dilihat dalam perbaikan (renovasi), dimana dalam renovasi Masjid yang dilakukan oleh pemerintah itu berdsarkan tahun anggaran, sedangkan dalam aturan local itu hanya bisa dilaksanakan sekali dalam 8 tahun, yaitu di tahun Alip (Kalender Khusus Masyarakat Adat Wet Bayan). Dalam melakukan perbaikan terdapat pejabat dan prusa khusus (keturunan adat) yang memimpin, sementara dalam pemerintah itu berdasarkan kemampuan, yang belum tentu sesuai dengan garis keturunan.

Beberapa wilayah dan ruang yang tumpang tindih sangat berpengaruh besar terhadap ruang gerak dan kelola di Masyarakat, termasuk juga dikepemerintahan. Akibat dari ketidak jelasan tersebut menyebabkan banyak terjadi masalah social dalam setiap kegiatan dan program. (Wa2n)

Percepatan Pembangunan Hunian Tetap Paska Gempa Lombok

Santiri, 13/03/2019. Gempa yang terjadi di Lombok dan sumbawa sejak tanggal 29 Juli 2018 sampai dengan sekarang telah membuat kerugian dan dampak yang sangat dirasakan oleh masyarakat sebagian besar di Lombok.  Gempa yang bertubi-tubi dengan sekala besar dan sedang juga memporak porandakan banyak bangunan, terutama di kabupaten Lombok Utara. Pasca gempa yang menimpa Lombok Utara, pemerintah telah merekomendasikan beberapa jenis bangunan rumah yang tahan gempa, yaitu RISHA, RIKO, dan RIKA. RISHA adalah jenis bangunan yang menggunakan bahan beton (panel) yang bisa dibongkar pasang. Jenis rumah RIKO adalah bentuk konvensional. Bangunan jenis RIKA adalah rumah yang banyak menggunakan bahan kayu.

Bangunan rumah yang harus dibuat oleh Masyarakat adalah dari jenis pilihan tersebut, karena sudah masuk kategori tahan gempa, sehingga alokasi anggaran Rp. 50.000.000,- untuk yang rusak berat bisa diterima oleh Masyarakat. Anggaran tersebut memang sudah ditentukan oleh pemerintah, dimana yang rusak berat Rp. 50.000.000, rusak sedang Rp. 25.000.000, dan yang rusak ringan sebesar Rp. 10.000.000.

Melihat bukti ketahanan rumah tradisional yang ada di Masyarakat Adat Bayan dari gempa yang terjadi selama ini menyebabkan banyak Masyarakat lebih memilih jenis rumah kayu (RIKA) dengan konstruksi lokal tersebut. Meyakinkan banyak pihak tentang bentuk bangunan tersebut tentu membutuhkan desain yang baik, walaupun secara tidak langsung jenis rumah ini memang diyakini semua pihak tahan gempa.

Kehadiran Solidaritas Masyarakat untuk Transparansi Nusa Tenggara Barat (Somasi NTB) lewat Program Peduli bekerjasama dengan Yayasan Satunama Yogyakarta dan juga Santiri Foundation, termasuk dengan Sekolah Adat Bayan (SAB), serta Majelis Pengemban Adat Bayan (Mapan) akan membantu untuk membuat design 4 rumah lokal yang ada di Bayan. Kegiatan tahap pertama yang dilaksanakan adalah untuk desain Rumah Adat yang ada di Desa Sukadana, Kampung Sembageq (Bale Balaq Sembageq).

Desain yang akan dihasilkan tidak hanya menyangkut gambar rumah yang dibuat, tetapi juga mengakomodir beberapa nilai yang ada dalam bangunan tersebut. Beberapa yang akan dimasukan dalam penyusunan desainnya adalah jenis kayu yang akan digunakan (terdapat jenis kayu yang boleh dan juga yang tidak boleh digunakan, bahkan termasuk sumber kayunya), ukuran rumah (sesuai sama aturan adat), hadap rumah, bahkan rumah sebagai bagian dalam ritual adat yang dilaksanakan.

Pertemuan pertama untuk membahas desain Bale Balaq Sembageq yang ada di Kampung Adat Sembageq, Desa Persiapan Baturakit (Desa Sukadana), Kecamatan Bayan, dengan menghadirkan Tokoh Adat dan pekerja bangunan yang faham tentang rumah tersebut dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Desember 2018. Diskusi penggalian informasi oleh Pak Tjatur Kukuh (Arsitek dari Santiri Foundation) dari informasi warga yang hadir dilakukan di salah satu berugaq warga Sembageq. Peserta yang hadir sekitar 15 Orang dari perwakilan Senaru 1 orang, Karang Bajo 1 Orang, Sesait 2 Orang, dan dari Masyarakat Setempat 10 Orang.

Perumahan Tradisional di Senaru

Untuk membuat desain rumah utuh diperkirakan membutuhkan waktu pertemuan sebanyak 2 kali, pertama penggalian informasi secara utuh, dan yang kedua adalah revisi (jika ada kekurangan atau kekeliruan). Proses pembuatan desain awal dibutuhkan waktu sekitar 1 minggu, sehingga pertemuan berikutnya akan dilaksanakan pada minggu ke-3 Desember 2018. Akhir Desember 2018 kemungkinan untuk design Bale Balaq Sembage sudah jadi secara utuh.

Hasil Desain Arsitektur lokal ini akan diajukan ke Pemerintah Daerah Lombok Utara, khususnya pada Bagian Perumahan Rakyat sebagai salah satu pilihan Rumah Tahan Gempa bagi Masyarakat yang memang rumahnya masuk dalam kategori rusak berat. Tujuan lainnya adalah untuk bahan pembelajaran bagi peserta didik yang ada di Sekolah Adat Bayan. Bahkan hasil ini juga bisa difungsikan sebagai referensi untuk para peneliti tentang arsitektur lokal yang ada di Masyarakat Adat Bayan yang memang tahan terhadap kondidi alam yang rawan gempa bumi.

Bale Jajar yang merupakan kategori Rumah Kayu (RIKA) yang akan menjadi pilihan untuk  4 kelompok masyarakat korban gempa yang ada di Dusun Baturakit akan dijadikan sebagai contoh bagi Pokmas lainnya yang ada di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

Santiri Foundation dan Somasi NTB akan ikut mengawal untuk mempercepat proses ini ditingkat pemerintahan Kabupaten Lombok Utara, sehingga percepatan pembangunan untuk warga korban gempa di Lombok Utara bisa terlaksana.

Hasil dari diskusi ini akan ada 2 desain digital aristektur Bale Jajar yaitu, bentuk asli dan moodifikasi (ReDesain). Sekolah Adat Bayan yang memang terlibat sejak awal untuk mendampingi Masyarakat Adat Bayan dalam penyusunan Desain arsitektur lokal akan menjadikan sumber pembelajaran untuk generasi kedepan dari hasil yang telah dicapai (Desain asli), sehingga kedepan generasi penerus tahu tentang ilmu para orang tua yang sangat sesuai dengan kondisi alam yang ada di Lombok.

Kayu yang digunakan oleh para orang tua dalam membangun rumah menjadi pembicaraan yang membuat para peserta (khususnya warga setempat) menjadi berfikir keras, dimana beberapa jenis kayu yang digunakan seperti Busur, kates, lengkukun, kelanjuh sudah langka. Disaat itulah dirasakan bahwa kita sudah banyak kehilangan kekayaan yang kita miliki.

Bahan-bahan yang digunakan dalam membuat rumah sangat erat dengan segala nilai yang ada di Masyarakat Adat Bayan, tetapi karena pihak pemerintah yang khusus menyediakan bibit kayu justru tidak banyak yang mengajak masyarakat untuk menanam jenis kayu tersebut, tetapi lebih banyak jenis kayu seperti sengon, mahuni, jati, dimana jenis tersebut merupakan jenis kayu yang ada didaerah lain, dan belum tentu sesuai dengan nilai-nilai lokal yang ada di Masyarakat Adat Bayan.

Memang hampir semua ilmu lokal yang ada di Masyarakat yang tumbuh dan berkembang di suatu daerah selalu memiliki hubungan yang erat dengan alam, sesama, dan juga kayakinan religi (ketuhanan), begitu juga dengan Masyarakat Adat Wetu Telu yang ada di Bayan – Lombok Utara. Rumah sebagai tempat tinggal di Design sedemikian rupa yang difungsikan sebagai tempat tinggal, tempat untuk melaksanakan ritual, dan juga menjaga nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat.

Bale Jajar merupakan Desain terbaru Masyarakat Adat Bayan, dimana bentuk rumah ini sudah memilki kamar sesuai dengan keinginan pemilik rumah. Tiang yang digunakan dalam membaut bale jajar ada yang 9 dan 12 tiang. Besar rumah diantara 35 meter persegi sampai 40 Meter persegi. Pada bagian depan rumah terdapat juga teras, yang biasa digunakan sebagai teempat untuk berdiskusi, jika diberugak tidak cukup tempat.

Anggaran 50 juta untuk bantuan korban gempa yang kategori rumahnya rusak berat menjadi anggaran yang akan digunakan oleh masyarakat.  Sementara saat ini Masyarakat merasakan aturan yang ada untuk mendapatkan anggaran tersebut sangat rumit, sehingga peran Santiri Foundation, Somasi NTB, Sekolah Adat Bayan (SAB), dan Majelis Pengemban Adat Bayan sangat penting dalam melakukan pendampingan dan juga koordinasi dengan pihak terkait, yaitu BPBD, PUPR, Pendamping, dan Pemerintah tingkat bawah yaitu desa.

Harapannya, jika 4 kelompok masyarakat ini bisa terselesaikan sesuai target dan harapan, maka kedepan untuk pokmas-pokmas yang lain bisa lebih mudah dalam proses pembangunan dengan anggaran yang disiapkan oleh pemerintah pusat.

Desain rumah lokal yang dikembangkan ini akan menjadikan Lombok Utara daerah yang memilki keunikan dan khas tersendiri, arsitektur dengan nilai-nilai lokal akan memberikan kesan kepada generasi penerus betapa hebatnya ilmu yang dimiliki orang tua terdahulu. Rumah yang dibangun teruji dan dapat mengakomodir berbagai sisi tentang kehidupan yang berjalan di Masyarakat.

Semoga kegiatan yang dilakukan oleh Santiri Foundation dan Somasi NTB bersama NGO lainnya bisa memberikan kemudahan kepada korban gempa yang ada di Kabupaten Lombok Utara, sehingga Masyarakat bisa membangun rumah mereka sesuai keinginan, dan juga mampu memberikan identitas kepada Masyarakat Lombok Utara yang masih memiliki ilmu local yang adaptif terhadap kondisi alam. (red)