KOMPETISI YO’RA HERO

Apa yang dimemacakan (diliterasikan) dan direkamkan..??

Banyak dan ragam…..

Mengerucut pada budaya bendawi (tangible) dan tidak bendawi (intagible). Contoh sederhananya, dalam proses menenun ada dua hal terkandung: kain dan alat tenun tradisionlanya bersifa bendawi sedang proses menenun, memberi dan pemaknaan warna alami itu bersifat tangible‖.

 Bentang alam dan budaya yang menaungi pertenunan itu disebut Saujana Pusaka.

 ~ Fachri Muzakki (Rinjani Festival, 2020) ~

Gunung Rinjani adalah Pusaka Alam yang dianugrahkan oleh Sang Maha Pencipta di bumi Nusatara. Manusia lereng gunung dan yang berpatok pada gunung Rinjani secara genuine telah mengembangkan adabnya. Karya budayanya. Maka Rinjani dan lingkar pengaruhnya terbangun menjadi  saujana pusaka yang luar biasa, baik pusaka ragawi atau bendawi (tangible) maupun nir-ragawi atau takbendawi (intangible).

Gunung Rinjani beserta keanekragaman hayati dan ragam unsur budaya – termasuk ritus dan situs serta  adat-istiadat – yang dimiliki oleh masyarakat di sekitar lereng Gunung Rinjani memiliki daya tarik khas yang berpotensi besar sebagai saujana belajar—sekolah budaya semesta— yang sarat nilai nilai dan ilmu pengetahuan tentang daur hidup yang berkelanjutan sebagaimana yang dicanangkan dalam gerak bersama masyarakat dunia : SDGs.

Olah kreatif dalam pengelolaanya dapat menjungkit bukan saja produktivitas dan pola konsumsi yang bijak.   Tetapi juga bisa menjadikannya sebagai sumber inspirasi industri kreatif dan ajang wisata pusaka alam dan budaya serta saujana pusaka yang   berkelanjutan. Sertamerta dengan itu juga menjadi ajang kesaling belajaran yang empatik antara warga setempat dengan para tetamu yang berkunjung. Berbagai seni-budaya atraktif dan ekonomi atau industry kreatif juga bisa dikembangkan oleh jiwa jiwa merdeka dan tangan tangan kalangan muda dan milenial yang terterampilkan. Ini akan memberikan sumbangsih bagi alam rinjani dan perdesaan di lingkar pengaruhnya secara produktif, adil dan lestari.

Membersemaikan keberdayaan kaum muda-milenial   termasuk mereka yang berkebutuhan atau berkemampuan khusus adalah satu hal terpenting untuk terus digiatkan secara ajeg dan kreatif. Hal ini mengingat bahwa kau milenial ini sesungguhnya adalah penerus, pencetus dan pemilik sah saujana Rinjani. Dan mereka yang jumlahnya lebih dari 60 % ini bisa menjadi bonus demografi sebagaimana yang diimpikan jika memiliki kualitas yang mumpuni. Sebaliknya, bisa menjadi beban dan sampah demografi jika terbiarkan.

Karena itu pada Festival Rinjani IV ini, membersemaikan keberdayaan kalangan muda dan milenial saujana lingkar Rinjani dan / atau saujana perdesaan menjadi salah satu agenda yang akan digelar. Dalam konteks ini, pemuda yang dimaksud adalah mereka yang berusia  mulai 16 hingga 25 tahun, baik yang di persekolahan (SMA dan yang sederajat) maupun di perdesaan. Pemberdayaan dilakukan dengan upaya pelibatan secara aktif dan peningkatan kapabilitasnya sesuai dengan talenta yang

dimiliki dan atau aktivitas produktif yang sudah dilakukan. Interelasi-interkoneksi diantara mereka juga akan dirancangbangun secara sistemik, melembaga dan berkelanjutan.

Dengan demikian, ada dua kegiatan utama yang akan dihelat berkait dengan pemuda ini pada Festival Rinjani IV, yakni Yora Hero (Youth Research Appraisal for Heritage-Education-Art & Cultural Tourism Opportunity) untuk pemuda persekolahan setingkat SMA dan yang sederajat, dan Perawisada (Penggerak Wisata Saujana Perdesaan) untuk Pemuda Desa secara umum.

Yora Hero bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pemahaman   tentang saujana pusaka dan pusaka saujana yang dimiliki saujana Rinjani dan atau perdesaan lingkar Rinjani. Peningkatan ini dilakukan melalui penjaringan, lokalatih, napak tilas, pendokumentasian dan pemublikasian saujana berbasis empat talenta. Talenta yang dimaksud adalah narasi (menulis), fotografi, videografi dan skestagrafi baik dalam satu kesatuan maupun sendiri sendiri.

Sedangkan   Perawisada dimaksudkan untuk meningkatkan kapabilitas terkait dengan pengelolaan wisata  saujana  desa  atau  perdesaan.  Bagaimana  Pemuda  Desa  lebih  memahami,  memakmai, mengolah dan mengelola potensi yang dimiliki desa untuk destinas wisata tanpa meninggalkan potensi utama, misalnya sebagai petani atau nelayan.

Melalui ini pemuda diharapkan mengerti dan memahami makna dan nilai dari unsur budaya lokal yang terdapat di daerahnya sendiri sehingga mampu mem-publish, mempromosikan, mengenalkannya pada dunia luar. Pembinaan pemuda juga mengarah pada bidang teknologi informasi (IT) sebagai salah satu strategi menjawab tantangan global di era industri 4.0.

Ikhwal kegiatan Yora Hero, selain dimaksudkan untuk membersemaikan keberdayan kalangan milenial sekolahan melalui penyaluran, peningkatan kapabilitas bakat dan hasil kerja dan karya dokumentasi jurnalismenya juga dihajadkan  untuk mendukung proses Merdeka belajar baik di masa covid maupun pada masa normal baru.

Hasil telaah dan pedokumentasian yang dilakukan oleh peserta melalui talen menulis, foto grafi, sketsa dan videografi, utamanya yang terpilih sebagai 10 besar perktagorinya diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan memaca (literasi) di sekolah sekolah baik sebagai suplemen maupun sisipan proses belajar bengajar di sekolah masing masing maupun lintas sekolah.

Melalui berbagai media  yang digarap dan ditingkatkan kualitasya tersebut diharapkan publikasi dan promosi  destinasi  wisata budaya dan pusaka   yang berkelanjutan  juga dapat dipublikasikan dan dipromosikan. Melalui itu dan Dawai (Duta Milenial Wisata Pusaka Indonesia) yang dipilih dari 10 besar yang telah ditentukan, wisatawan milenial bersegmen edukasi dan kebudayaan dapat dijaring dari berbagai  daerah  dan  bahkan  mancanegara.  Sedemikan  rupa  sehingga  terjadi  saling  dan  silang pembelajaran bersama.

Kegiatan ini berlangsung mulai tanggal 15 Oktober hingga 15 November 2020 dan pengumuman pemenang akan dilakukan pada puncak acara Rinjani Festival. Setiap sekolah menengah atas dilingkar rinjani dapat mengirimkan perwakilannya sebagai peserta kompetisi dengan mengirimkan hasil karya ke  email yoraherocommunity@gmail.com. Informasi mengenai kompetisi Yora Hero ini dapat diikuti di Instagram Festival Rinjani http://bit.ly/rinjanifestival

 

 

 

 

Sangkep Budaya Masyarakat Adat

Santiri, 27 September 2020. Rangkaian Sangkep (pertemuan) Festival Rinjani IV telah dimulai. sejak resmi dibuka oleh wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Ibu  Hj. Siti Rohmi Djalilah pada tanggal 10 September 2020, maka dimulailah rangkaian kegiatan Festival Rinjani IV yang salah satu kegiatannya adalah Sangkep (Pertemuan) yang akan dihadiri oleh individu dan lembaga yang peduli pada pelestarian Gunung Rinjani. Kegiatan sangkep ini diawali dengan sangkep para tokoh adat di lingkar gunung Rinjani pada tanggal 26 September 2020. Sesuai dengan Protap Kesehatan di masa Pandemi covid 19 ini maka kegiatan sangkep ini mengikuti standar Kesehatan yang belaku di masa pandemic ini dan dihadiri dengan jumlah maksimal peserta dalam suatu pertemuan di masa pandemic. Sangkep Masyarakat Adat ini dilakukan secara offline dan bagi masyarakat yang ingin ikut menyaksikan kegiatan sangkep ini disiarkan secara langsung melalui saluran zoom dan youtube. Kegiatan sangkep ini dihadiri oleh perwakilan masyarakat adat dari kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Utara.

Ikut serta dalam sangkep Budaya ini yaitu Bapak Sjamsul Hadi selaku Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Pendidikan dan kebudayaan yang memberikan kata sambutan secara online dari Jakarta. Dalam sambutannya beliau menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan festival rinjani ini. Kegiatan  festival rinjani ini menjadi pilot project untuk kegiatan pelestarian alam di lingkungan gunung rinjani dan mengharapkan ada kesepakatan untuk menjaga kelestarian Kawasan rinjani. Untuk itu perlu ada Kerjasama dari seluruh pihak untuk menjaga kelestarian Rinjani sebagai saujana alam melalui kearifan local yang telah ada. Harapannya di tahun kedepan festival rinjani menjadi mendunia dengan tetap menjaga budaya dan kearifan local yang ada. Diharapkan juga nantinya ada penerus penjaga kebudayaan dari para generasi muda.

Sangkep tokoh adat merupakan satu dari empat sangkep yang akan dilakukan dalam rangkaian kegiatan Festival Rinjani. Tujuan dari sangkep yang pertama ini adalah untuk menggali bagaimana pandangan para tokoh adat terhadap Rinjani, bagaimana nilai adat mengelola dan merawat Rinjani.
Selama ini yang menjaga dan merawat rinjani adalah masyarakat adat, tetapi yang mengelola dan mengolahnya tidak hanya masyarakat adat sehingga Rinjani menjadi semakin rusak. Bagi sebagian kelompok Rinjani tidak lebih dari sekedar obyek wisata yang dapat menghasilkan uang, bagi orang kota Rinjani mungkin sekedar tempat untuk mendaki dan rekreasi, anak muda yang diharapkan dapat meneruskan menjaga Rinjani malah menjauh tergerus oleh arus pariwisata dan budaya modern, sehingga kita hari ini kita lihat di atas Rinjani banyak ditemukan sampah, pohon – pohon ditebang, debit air banyak berkurang. oleh karena itu dalam sangkep ini juga dibagikan bibit pohon agar dapat ditanam dan dijaga di lingkungan rumah masing-masing peserta.
Tema kegiatan Festival Rinjani kali ini adalah “Mengeja Rinjani” karena kerusakan yang terjadi di Rinjani bisa jadi bukan hanya disebabkan oleh masyarakat modern yang tidak mengerti dan tidak peduli pada Rinjani melainkan masyarakat adat yang telah lupa bagaimana memaknai dan memperlakukan Rinjani.
Nilai – nilai yang tergali pada sangkep adat ini nantinya akan memaknai seluruh rangkaian kegiatan Festival Rinjani, menjadi sumber acuan nilai yang akan disampaikan kepada sangkep – sangkep berikutnya, dengan harapan agar para pengampu kebijakan / pemerintah dapat memahaminya dan menjadikannya salah satu landasan dalam membuat berbagai keputusan.

Beberapa point yang tergali dari sangkep masyarakat adat ini:
————————————————————————–
Bagi masyarakat adat, Rinjani merupakan salah satu bentuk sumber kehidupan dan penghidupan, menjaganya adalah sebuah keniscayaan, karena itu masyarakat adat perlu membentuk pranata adat agar ritual – ritual untuk menjaga Rinjani kembali dapat dilakukan secara sempurna, nilai – nilai dan pengetahuan yang ada pada masyarakat adat ini juga perlu diajarkan kepada generasi muda untuk agar nilai dan pengetahuan tersebut lestari. Diantara nilai dan ritual adat untuk menjaga Rinjani adalah adanya sembeq (yaitu pemberian tanda, yang biasanya di dahi, atas ijin untuk melakukan sesuatu), sebelum masuk hutan seseorang harus di-sembeq, sebelum menebang pohon harus di-sembeq, seorang bayi saat diberikan nama juga melalui sembeq, dan banyak hal lainnya dilakukan dengan sembeq, tetapi hari ini kita lihat sembeq sudah kalah dengan stempel, masuk rinjani tebang kayu, bahkan pemberian nama cukup dengan hanya menggunakan stempel. Selain melalui ritual – ritual adat kerukunan dalam bermasyarakat juga perlu dijaga, karena kerusakan Rinjani merupakan akibat / korban dari adanya berbagai kepentingan. Ada yang memutus mata rantai kita sehingga sepertinya Rinjani hanya milik orang Bayan saja, mata rantai yang terputus itu adalah pewarisannya, bagaimana anak cucu kita merasa memiliki Rinjani ini. Bencana yang baru saja terjadi merupakan teguran dari Tuhan sehingga pranata adat harus segera melakuan ritual.
Rinjani merupakan sebuah simbol yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa di pulau Lombok. Sebagaimana simbol di tempat lain digunakan untuk menerima petunjuk, maka di Rinjani juga digunakan untuk sebagai tempat untuk mencari petunjuk, jauh sebelum islam datang ke tanah sasak, masyarakat sasak sudah tampak islami. Lahir, hidup, dan mati merupakan daur hidup semua makhluk, daur hidup ini dibahas oleh para orang tua kita sejak dahulu.
Rinjani merupakan giri suci atau kemalik lombok, kemalik artinya tidak boleh melakukan suatu larangan / hal yang dilarang. Kami dulu naik Rinjani hanya untuk bertapa, berobat, dan membersihkan gegamang-nya (gegamang = senjata), dan ini telah terjadi sejak rin (rin = sejak dahulu kala). Oleh karenanya perlu ditegakkan kembali awig – awig adat, barang siapa yang melanggar awig – awig harus diberikan sanksi, siap saja yang melanggar kemalik / tidak menghormati kemalik harus mendapat sanksi. Namun hari ini awig – awig masyarakat adat tidak bisa ditegakkan karena tergilas oleh undang – undang investasi, jadi perlu dilakukan pendekatan secara politik dalam rangka melakukan penolakan undang – undang investasi tersebut.
Rinjani merupakan sumber inspirasi, sumber penghidupan, dan pranata sosial. Tetapi hari ini kita lihat tidak seorangpun mengerti Rinjani, kita lihat semua bupati yang berbicara tentang Rinjani pasti jatuh, perjuangan terhadap Rinjani hanya sebatas wacana dan sifatnya masih parsial, tidak ada yang benar – benar berjuang secara total, masih kalah saat dihadapkan dengan uang. Selain itu perjuangan atas Rinjani juga tidak stagnan, apa yang kita bicarakan hari ini sudah sering kita lakukan, temanya masih sama sejak perekat umbara digagas tahun 1998 yang isinya tentang kekecewaan kita tentang keadaan Rinjani.

 

 

PEMETAAN WILAYAH ADAT BAYAN, KABUPATEN LOMBOK UTARA – NTB

Santiri, 24 Maret 2020. Masyarakat wet adat Bayan merupakan bagian dari masyarakat Sasak yang mendiami Gumi Paer (Pulau Lombok) utamanya bagian utara. Tatakelola pemerintahan sangat unik. Kepemimpinan kolektif-kolegial dengan system pengambilan keputusan dan pendelegasian melalui musyawarah (gundem) yang kurang lebih seperti Sila ke 4.

Masyarakat Wet adat Bayan memiliki 44 perangkat adat yang mana masing masing memiliki peran dan fungsi, misalnya Amaq Lokaq Walin Gumi berurusan dengan kebumian, Amaq Lokak Walin Pande urusan dengan peralatan atau perlengkapan dari logam dan seterusnya. Secara umum, peran dibagi menjadi dua, yakni urusan Keduniawian (dunia nyata/fisik) yang di serahkan pada pemekelan Karang Bajo dan dipimpin oleh Pemekalan Bat Orong, sementara untuk urusan dunia atas (akherat) diserahkan ke Pemekelan Loloan dipimpin Lauk Orong.

Selain terdapat lahan ulayat, seperti hutan dan sebagainya yang dimanfaatkan bersama, untuk kepentingan adat maupun keseharian. Untuk menyokong peran dan fungsi ini, setiap amak lokak (pemimpin adat) memiliki pecatu dan rumah adat (perumbaq) yang berbeda dengan arsitektur rumah adat secara umum sesuai dengan karakteristik. Akibat sistem modern, saat ini pecatu yang masih ada tidak lebih dari 50 %, akibat dari ini kelengkapan institusi adat juga berkurang, dan akibat dari itu ritual daur hidup 8 tahunan (gawe alif) terputus selama lebih 80 tahun.

Identitas dan entitas budaya

Masyarakat Adat Wet Bayan yang menjalankan Filosofi hidup Wet Telu dalam menjaga pelestarian alam. Sampai saat ini masyarakat dat Wet Bayan masih memiliki nilai keraifan local yang dijalankan dengan baik, dan memiliki beberapa keunikan dibandingkan daerah (wet) lain. Perbedaan atau keunikan yang dimiliki adalah memilki tata ruang yang sangat detail, terdapat beberapa wilayah adat yang merupakan sumber kehidupan dan penghidupan orang banyak (hutan adat/hutan tutupan) menjadi tanggung jawab Bersama. Selain itu juga terdapat hutan bambu untuk kebutuhan arsitektur dan juga ritual. Kemudian terdapat tanah pecatu sebagai sumber penghidupan pejabat adat dan untuk memenuhi kebutuhan ritual. Identitas iconic masayrakat adat wet bayan adalah beberapa situs dan cagar budaya (Masjid Kuno dan Makam leluhur), permainan local, Seni tradisi leluhur/seni local, tenun khas masyarakat adat, awik-awik atau aturan adat masih dijalankan dengan baik, kampung adat dan rumah dinas pejabat adat (Bale Lokaq).

Kelembagaan Sosial

Setiap ruang hidup dan ruang kelola memiliki pejabat adat yang menjaga dan juga memanfaatkannya, tentunya ada hak –hak yang diatur sedemikian rupa, dimana wilayah yang bisa dimanfaatkan secara pribadi oleh pejabat adat dan dimana yang bisa dimanfaatkan secara bersama, termasuk diatur dalam waktu-waktu tertentu. Beberapa struktur adat utama yang berada di Wet Bayan, seperti Perumbaq Daya yang menjaga Hutan Adat, Perumbaq Lauq yang menjaga Laut, Amaq Lokaq Gantungan Rombong yang memimpin setiap ritual besar, Amaq Lokaq Senaru yang menjaga pintu masuk Gunung Rinjani dari wilayah barat, Amaq Lokaq Torean yang menjaga pintu Masuk Gunung Rinjani dari wilayah tengah, dan Amaq Lokaq Sajang yang menjaga pintu masuk Gunung Rinjani dari Wilayah timur, dan masih ada banyak lagi prusa/pejabat adat untuk urusan dan hal-hal yang lebih kecil.

Sejarah ringkas masyarakat adat

Masyarakat Adat Bayan atau secara kewilayahan disebut dengan Wet Bayan secara administrative terbagi menjadi 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Bayan dan Kecamatan Kayangan. Kelompok Masyarakat yang dikenal dengan filosofi hidup Wetu Telu untuk menjaga kelestarian alam sampai saat masih menjalankan tradisi-tradisi leluhur baik itu Adat Gama maupun Adat Luir Gama. Ritual Adat Gama merupakan ritual keagamaan yang dilaksanakan sedikit berbeda dibandingkan dengan umumnya, perbedaan pada tata cara dan waktu pelaksanaan seperti, Maulid, Lebaran Tinggi (Idul Fitri), Lebaran Pendeq (Idul Adha), dan lain-lain. Sementra Ritual Adat Luir Gama yang dilaksanakan yaitu Taek Lauk Taek Daya (Ritual Hutan dan Laut untuk menjaga kelestarian), Menjojo, Membangar (Ritual Gumi) dan masih banyak lagi ritual kecil lainnya. Dari beberapa ritual yang dilaksanakan, terdapat satu ritual besar yang disebut dengan Gawe Alif, yang dilaksanakan sekali dalam 8 tahun (Tahun Alip). Tetapi, sejak Indonesia Merdeka, Gawe Alif hanya bisa dilaksanakan sekali saja yaitu dimasa Orde Lama (tahun 1957-1958).

Mata Pencaharian

Masyarakat Adat memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam, termasuk untuk mata pencaharian. Hal ini bisa dilihat dalam ritual yang dilaksanakan dimana pada tatanan local yang ada terdapat ruang kelola untuk lahan pertanian (Ladang dan Sawah), lahan sebagai sumber mata air (Hutan Adat/Hutan Tutupan), lahan sebagai sumber untuk bangunan rumah dan juga bangunan sakral lainnya (Hutan Adat dan Hutan Bambu).

Kondisi ini didukung dengan data statistic sementara BPS kabpuaten Lombok utara yang menyatakan sebagian besar masyarakat yang berada di kawasan wet bayan memiliki mata pencaharian di bidang pertanian, peternakan dan perkebunan.

Wilayah dan Kondisi Sumberdaya Alam

Wet Bayan merupakan salah satu wilayah baru terbentuk secara alamiah, dimana daratannya menjadi tempat tinggal saat ini adalah hasil dari letusan Gunung Samalas ditahun 1257 M (Gunung Rinjani, Gunung Stampol, dan Sangkareang merupakan sisa dari Gunung Samalas). Jarak dari Gunung Rinjani sampai dengan pesisir pantai hanya 10 s/d 15 Km. Terdapat banyak hutan di unung Rinjani dan lerengnya sebagai sumber air untuk kehidupan Masyarakat, serta memiliki lahan kering (lading) untuk jenis tanaman musiman, dan juga lahan pertanian (sawah) untuk lahan irigasi. Karena daratan yang ditempati merupakan lahan dari letusan gunung, maka hampir seluruh lahan yang ada dikategorikan lahan yang sangat subur.

Secara umum, berdasarkan data statistic sementara BPS Kabupaten Lombok Utara tahun 2018, mayoritas lahan di wilayah wet bayan (Kecamatan Bayan dan Kayangan) adalah tanah kering yang digunakan untuk lahan pertanian non padi. Sementara sisanya digunakan untuk tanah sawah dan pekarangan. Jumlah penggunaan lahan ini belum digabungkan dengan penggunaan lahan di kawasan hutan adat atau peruntukan lainnya.

Selain lahan pertanian dan perkebunan, hutan adat juga merupakan sumberdaya alam penting bagi kelangsungan hidup masyarakat adat wet bayan. Salah satunya adanya Hutan Adat Bangket Bayan Hutan adat ini memiliki sembilan sumber mata air dan terletak pada ketinggian sekitar 550 meter dari permukaan laut dengan debit air 120 liter/detik. Dalam praktek pengelolaannya, hutan adat Bangket Bayan mengatur pola hubungan antar masyarakat adat dengan hutan adat Bangket Bayan, dan pola hubungan pejabat/prusa dengan para petani, serta pola hubungan antara manusia dengan hal gaib yang berada didalam hutan adat itu sendiri.

Untuk menjaga keberlanjutan jasa alam, masyarakat adat bayan menerapkan awiq-awiq (kearifan local). Awiq-awiq yang mengatur tentang hutan Bangket Bayan berisi pelarangan mengambil/memetik, mencabut, menebang, menangkap satwa-satwa dan membakar pohon/kayu mati yang terdapat didalam kawasan hutan; Dilarang menggembala ternak di sekitar pinggir dan di dalam kawasan hutan adat yang dapat menyebabkan rusaknya flora dan fauna hutan; Dilarang mencemari/ mengotori sumber-sumber mata air di dalam kawasan hutan adat; Dilarang melakukan meracuni Daerah Aliran Sungai (DAS) menggunakan fottas, decis, setrum dan lain-lain yang dalam menyebabkan musnahnya biotik-biotik hidup di sungai; dan bagi setiap pemakai/ pengguna air baik perorangan maupun kelompok diwajibkan membayar iuran/sawinih kepada pengelola hutan adat dan sumber mata air.

Sebagai daerah atau wilayah yang memiliki laut dan gunung, saat ini menjadi daerah tujuan wisata dunia, bahkan Taman Nasional Gunung Rinjani menjadi Geopark dunia, sekitar 3.000 lebih kunjungan wisatawan yang mengunjungi Taman Nasional Gunung Rinjani setiap tahunnya. Keberadaan beberapa Air terjun juga menjadi obyek wisata yang banyak diminati. Menjadi wilayah wisata tentu berpengaruh besar terhadap kehidupan Masyarakat Adat yang ada di Wet Bayan, baik itu dalam pelestarian alam, maupun dalam menjaga tradisi dan budaya yang ada. Dengan adanya batas wilayah yang jelas mekanisme penyelesaian perselisihan (jika terjadi) akan bisa diselesaikan secara sistematik melalui kelembagaan masayrakat adat wet bayan. Pembagian ruang kelola yang harus dipetakan tentu hal terpenting, sehingga hak dan batasan antara Masyarakat Adat (Masyarakat Lokal) dengan pemerintah adan pihak lain bisa menjadi lebih jelas.

Luas Kawasan yang dipetakan atau penyempurnaan peta berkisar: 366,10 km2 (Bayan) dan 3.850 km2 (Kayangan). Secara umum kedua kecamatan ini berdekatan dengan gunung Rinjani dan berhadapan langsung dengan Lautan Jawa, sehingga rentan terhadap letusan gunung api, tsunami dan gempa, serta perubahan iklim. Karena sebagian besar daratannya merupakan limpahan debu gunung berapi (letusan gunung Samalas (1257) sebagian besar, rentan terhadp longsor. Dalam keterbataan yang ada, karena memiliki nilai dan sumberdaya alam yang kaya dan unik, rentan terhadap alih fungsi, termasuk wilayah kelola dan ruang hidup masyarakat adat di wet ini.

Sementara luasan desa yang akan diintervensi untuk peningkatan produktivitas ekonominya, antara lain Desa Bayan (2.600 Ha), Karang Bajo (1.168 Ha), Loloan (3.350 Ha), Santong (1.109,80 Ha), Sesait (1.200 Ha), Gumantar 3.860 Ha

Tingkat Kerentanan (akibat alam, sosial, politik dan yang berkaitan dengan kebutuhan Kepastian hak ulayat)

Terdapat wilayah yang yang tata kelolanya masih tumpang tindih dengan pihak pemerintah dan pihak liannya saat ini terdapat dibeberapa titik seperti Gunung Rinjani yang dijaga oleh Amaq Lokaq Senaru, Amaq Lokaq Torean dan Amaq Lokaq Sajang saat ini menjadi Taman Nasional yang penguasaan seenuhnya ada dipemerintah. Hal ini menyebabkan setiap pendaki tidak lagi diatur oleh Masyarakat Adat, tetapi berdasarkan Undang-Undang dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Akibatnya, banyak nilai-nilai yang seharusnya dijalankan oleh setiap pendaki tidak diatur dalam undang-undang dan peraturan tersebut.

Beberapa pejabat adat yang berperan untuk mengurus kepemerintahan adat seperti Pembekel dijadikan sebagai Kepala Dusun yang lebih banyak mengurus kepemerintahan administrative (Orde Baru), hal ini menyebabkan pencatu yang dimiliki pembekel menjadi aset kepala dusun juga, sehingga saat ini dengan adanya undang-undang desa, maka semua pecatu kepala dusun ditarik menjadi aset pemerintah (Pemda Kabupaten Lombok Utara).

Perkembangan keperintahan yang terjadi sejak kemerdekaan Indonesia menyebabkan banyak wilayah kelola Masyarakat Adat Wet Bayan dikuasai oleh pihak lain, hal ini disebabkan karena tidak adanya peta wilayah yang dimiliki oleh Masyarakat Adat. Masjid Kuno (Masjid Beleq) Bayan yang dijadikan sebagai pusat ritual tertentu oleh Masyarakat dijadikan sebagai aset pemerintah dengan memasukannya sebagai cagar budaya. Hal ini menyebabkan sistem aturan local tidak berfungsi lagi. Kejadian bisa dilihat dalam perbaikan (renovasi), dimana dalam renovasi Masjid yang dilakukan oleh pemerintah itu berdsarkan tahun anggaran, sedangkan dalam aturan local itu hanya bisa dilaksanakan sekali dalam 8 tahun, yaitu di tahun Alip (Kalender Khusus Masyarakat Adat Wet Bayan). Dalam melakukan perbaikan terdapat pejabat dan prusa khusus (keturunan adat) yang memimpin, sementara dalam pemerintah itu berdasarkan kemampuan, yang belum tentu sesuai dengan garis keturunan.

Beberapa wilayah dan ruang yang tumpang tindih sangat berpengaruh besar terhadap ruang gerak dan kelola di Masyarakat, termasuk juga dikepemerintahan. Akibat dari ketidak jelasan tersebut menyebabkan banyak terjadi masalah social dalam setiap kegiatan dan program. (Wa2n)

Pra Festival PAUD dan Dikmas Kepulauan

Santiri/24-11-2018. Festival PAUD dan Dikmas Kepulauan akan segera dilaksanakan di Pulau Lombok. Festival ini merupakan yang pertama di Indonesia sekaligus mengajak warga NTB untuk segera bangkit dari keterpurukan setelah gempa berturut turut yang terjadi di Propinsi NTB ini sejak akhir bulan Juli hingga Agustus 2018, 4 bulan yang lalu.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan sebelumnya yaitu pertemuan masyarakat kepulauan yang diadakan di Gili Belek kabupaten Lombok Timur dan gedung PAUD Dikmas di Mataram pada bulan Oktober tahun 2017. dihadiri oleh perwakilan dari masyarakat kepulauan di wilayah timur Indonesia. dari hasil kegiatan tersebut diinisiasi untuk merancang kurikulum PAUD berbasis kepulauan.

Festival ini juga untuk mengetahui animo masyarakat tentang perspektif pendidikan usia dini yang berbasis pada masyarakat pesisir dan kepulauan. dalam kegiatan ini akan diadakan lomba mewarnai gambar untuk anak-anak. disini akan dilihat imajinasi anak tentang hidup di kepulauan pada selembar kertas.

Dari kegiatan ini juga diharapkan ada masukan atau inspirasi dari kawan-kawan lain yang hidup di pesisir tentang sekolah, PKBM, dan PAUD. hasil pembelajaran yang terbaik akan diberikan apresiasi untuk diajak diskusi tentang konsepnya untuk selanjutnya direalisasikan pada tahun 2019. dalam kegiatan ini juga ada teman-teman seniman yang mengekspresikan tentang pendidikan di kepulauan.

Kegiatan festival ini akan dimulai pada tanggal 27 November 2018 dengan kegiatan lomba mewarnai gambar oleh anak-anak, kemudian tanggal 28 November 2018 dilanjutkan dengan workshop di sekolah Lapang dan Laboratorium desa Santong Kecamatan Kayangan dan pada tanggal 29 November 2018 dilanjutkan dengan diskusi untuk mencari solusi pada permasalahan pendidikan berbasis kepulauan.

untuk itu pada tanggal 23 November 2018 telah diadakan kegiatan pra Festival PAUD yang diselenggarakan di Warung Kopi “Artcoffeelago” jalan Amir Hamzah no. 96Y Karang Sukun Mataram. kegiatan ini dimaksudkan untuk sosialisasi Festival dan berdiskusi bersama praktisi kegiatan pendidikan di kepulauan. dalam kegiatan ini diisi dengan hiburan dan ngobrol bareng tentang pengalamannya dalam menjalankan pendidikan baik informal dan formal yang ada di kepulauan.

dalam acara ini selain dihadiri oleh praktisi pendidikan, juga dihadiri oleh wartawan dan seniman untuk sama sama berdiskusi dan mencari solusi terhadap sistem pendidikan berbasis kepulauan. (wa2n)