Makanan Fungsional untuk anak anak terdampak gempa

Makanan Fungsional untuk anak anak terdampak gempa

Santiri,  7 September 2018. Bertempat di lapangan  posko pengungsi desa Sesait,  kecamatan Kayangan.  Diadakan peluncuran gerakan makanan sehat melalui makanan fungsional yang dikemas dalam bentuk dodol serta gerakan kebangkitan wirausaha muda Kabupaten Lombok Utara.  Acara ini diselenggarakan atas kerjasama Santiri Foundation dan Forum Wirausaha baru Kecamatan Kayangan.
Makanan fungsional ini selain dikemas dalam bentuk dodol,  kedepannya juga bisa dicampur dengan berbagai olahan makanan lainnya.  Ramuan makanan fungsional ini dibuat dari ekstrak tanaman yang terdiri dari daun,  buah, batang tanaman herbal dan madu.  Ramuan  ekstrak tanaman ini di racik oleh bapak Hamzah yang saat ini bergabung dalam Litbang Santiri Foundation.
Sasaran produk makanan fungsional saat ini adalah anak-anak  dan ibu menyusui yang terdampak gempa bumi di Lombok.  Hal ini dikarenakan salah satu manfaat dari makanan fungsional ini adalah mengurangi perasaan stress  dan menjaga kesehatan tubuh.  Manfaat lainnya yaitu mencerdaskan otak,  memperbaiki nutrisi gizi dalam tubuh dan memperlancar air susu ibu.
Dalam peluncuran makanan fungsional ini diikuti oleh anak anak terdampak  gempa yang berada di kecamatan kayangan khususnya yang berada di desa Sesait, Santong Mulia,  Santong,  Kayangan dan Pendua.
Pada tahap awal manisan dodol ini diberikan kepada 100 anak. Manisan dodol yang telah diberi ektrak ramuan F2 dikonsumsi oleh anak anak sebanyak 3 x sehari selama 11 hari.  Setelah sebelas hari kesehatan anak anak akan di lihat perkembangannya.
Selain untuk anak anak dan ibu menyusui ada juga makanan fungsional yang bisa dikonsumsi oleh ibu hamil dan orang dewasa. (wa2n)

Jurnal gempa lombok

Jurnal gempa lombok

Kondisi korban gempa Lombok
Titik 1
Lokasi:

Gambaran umum:
Korban gempa terpaksa tidak gabung dengan korban lainnyadi pasar karena tidak memiliki tenda/terpal, untuk nge-camp terpaksa menggunakan pondok warga di dalam kebun, jarak tempuh dari jalan sekitar 300 meter.

Jumlah korban:
8 KK

Kondisi:
Mulai banyak yang terkena penyakit flu dan batuk karena cuaca dingin di malam hari.

Kebutuhan:
Butuh bantuan air bersih karena air yang digunakan di lokasi pengungsian mulai keruh. Obat obatan seperti promag, obat sakit kepala, obat flu dan batuk, dan juga masker.

Titik 2
Lokasi:
Sekitar 1 km dari titik 1.

Gambaran umum:
Banyak korban lansia, tempat pengunsiannya menggunakan terpal dan karpet karet.

Jumlah korban:
11 KK. Makan dan minum seadanya.

Kondisi:
Mulai banyak yang sakit, sudah mendapat penanganan medis kemarin.

Kebutuhan:
Butuh bantuan air bersih, selimut, kaos kaki, masker, dan obat-obatan

Distribusi bantuan korban gempa lombok:
Dusun Sukadamai
Jumlah KK: 20
Bayi: 7 orang
Balita: 7 orang
Anak-anak: 20 orang
Bantuan yang didistribusikan:
– Mi instan 20 dus
– Air minum 20 dus
– Susu 2 kotak

Dusun Sukadaya desa Bayan
Jumlah KK: 15
Bayi: 7 orang
Balita: 4 orang
Bantuan yang didistribusikan:
– Terpal 1 buah
– Popmie 1 kotak
– air minum 1 dus
– Biskuit balita 1 kotak
– Sarden 8 kaleng

Dusun Lendang Gagak desa Bayan
Bantuan yang didistribusikan:
– Sarden 6 kaleng
– Mie 1 kotak
– Air minum 2 kotak

Dusun Batu Rakit
Jumlah KK: 12
Balita: 7
Bantuan yang didistribusikan:
– Biskuit 3 kotak
– Biskuit kaleng balita 2 kotak
– Susu balita 2 dus
– Minyak gorang 1 dus
– Pembalut 1 kotak
– Popmie 1 dus
– Selimut 4 buah
– Handuk 6 buah
– Terpal 1 buah
– Air 1 dus

Dusun Tumpang Sari desa Senaru
Jumlah KK: 25
Balita: 7 orang
Ibu hamil: 2 orang
Bantuan yang didistribusikan:
– Mie 1 dus
– Pasta gigi 1 dus
– Sabun 1 dus
– Sarden 6 kaleng
– Air mineral 1 kotak
– Shampo 1 dus
– Bubur balita 1 dus

Dusun Tumpang Sari desa Senaru
Jumlah KK: 40
Balita: 14
Bayi: 18
Lansia: 12
Bantuan yang didistribusikan:
– Air mineral 4 dus
– Susu balita 2 dus
– Sabun mandi 1 dus
– Shampo 1 dus
– Bubur 1 dus
– Minyak gorang 1 dus
– Pampers 1 dus
– Pembalut 1 dus
– Selimut 8
– Handuk 8

Foto – foto dokumentasi

Teknologi Emitter di SEKOLLAB PINTAR desa Santong

Minggu, 13 Mei 2018. SEKOLLAB (Sekolah Lapang dan Laboratorium) PINTAR (Percepatan, Inovasi, Nilai tambah, Terpadu, Aman, dan Ramah lingkungan) yang berada di desa Santong Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara. Hari ini memulai pembelajaran pertamanya, walau belum sepenuhnya sempurna. Sekolah yang dikelola atas kerjasama Santiri Foundation, Universitas Nahdatul Ulama NTB dan Forum Wirabaru Kecamatan Kayangan mulai mempraktekkan materi pertamanya yaitu tentang pengenalan teknologi Emitter bagi tanaman yang kurang berproduktif terutama tanaman buah, melalui pemberian nutrisi tanaman agar terjadi keseimbangan hormon pada tanaman hingga mampu memproduksi buah. Hormon yang diberikan adalah hormon organik yang terdapat disekitar kita. Hal ini diutarakan langsung oleh pak Hamzah  selaku penemu teknologi Emitter di lokasi Sekolah Lapang Desa Santong.

Peserta sekolah lapang saat ini yaitu para Wirabaru yang  bergerak di bidang pertanian. Sebagai contoh awal, telah dipasang emitter pada beberapa pohon buah di lokasi sekolah lapang dan sebagian di kebun peserta sekolah lapang yang juga anggota Wirabaru. Kedepannya para peserta ini akan mampu menularkan ilmunya kepada yang lain.

Bagi yang masih penasaran dengan teknologi Emitter ini dapat berkunjung ke sekolah Lapang di desa Santong atau di sekretariat Wirabaru di desa Sesait sambil duduk bareng, ngobrol berbagi ilmu dan minum kopi di kedai Wirabaru. (Wa2n)

Pengembangan Sekollab Asap Api

Santiri, 9 Mei 2018. Bertempat di desa Santong kecamatan Kayangan, kabupaten Lombok Utara Sedang dikembangkan Sekollab Asap Api, yaitu Sekolah Lapang dan Laboratorium Agro Silva Pastural Adaptasi Perubahan Iklim atau sekolah lapang dan Laboratorium sebagai pusat kajian teknologi pertanian dan pembibitan tanaman pangan. Dan pusat pembelajaran pendidikan alternatif. Sekolah lapang ini kerjasama antara Santiri Foundation, Forum Wirabaru Kayangan dan Universitas Nahdatul Ulama NTB.
Di tempat ini akan dibangun kebun pembibitan, peternakan dan kolam ikan yang akan saling bersinergi.
Sekolah lapang ini juga disiapkan untuk menghadapi persoalan perubahan iklim melalui makanan fungsional yang dihasilkan dari sekolah lapang ini. (Wa2n)

Lomba gambar dan karya tulis di dusun Jambianom

Santiri, 6 Mei 2018. Untuk ikut memeriahkan perayaan budaya pembukaan laut, anak-anak di dusun Jambianom, desa Medana kecamatan Tanjung – Lombok Utara mengikuti lomba menggambar dan membuat karya tulis yang diadakan oleh Santiri Foundation.

Tema yang diangkat untuk kegiatan ini yaitu tentang pelestarian lingkungan pesisir dan terumbu karang di teluk Medana.

Kegiatan ini diikuti oleh 50 anak-anak mulai dari SD hingga SMP yang tinggal di lingkungan dusun Jambianom.

Dari kegiatan ini diharapkan anak-anak dapat lebih peduli pada lingkungan di sekitarnya dan kondisi terumbu karang di Teluk Medana. (wa2n)

Pengembangan Ekonomi Wirabaru Kecamatan Kayangan

Santiri, 6 mei 2018. Selama dua hari, 5-6 Mei 2018,  Santiri Foundation dan Forum Wirabaru kecamatan Kayangan belajar tentang pengelolaan warung kopi dan membuat menu di warung kopi “Artcoffeelago” ngopi Mataram. Hal ini dilakukan dalam rangkaian proses pengembangan sekretariat forum agar dapat lebih hidup dan menjadi tempat bertukar informasi antar anggota forum dan warga di kawasan kecamatan kayangan. Hal ini juga dimaksudkan agar anggota forum dapat mandiri secara ekonomi. Selain itu, warung kopi ini akan menjadi outlet bagi produk-produk anggota forum. Pelatihan diikuti oleh delapan anggota forum yang ditugasi untuk mengelola warung kopj di sekretariat forum Wirabaru kecamatan Kayangan.

Selama dua hari di warung kopi “Artcoffeelago”, anggota forum akan belajar bagaimana mengelola warung kopi serta membuat menu makanan dan minuman lainnya. Pelatihan akan dibimbing oleh manajer dan staff warung kopi “Arfcoffeelago”.  Setelah pelatihan ini, anggota forum akan segera merealisasikan mimpinya untuk membuat warung kopi di sekretariat forum Wirabaru. (wa2n)

Membangun Desa bersama Pemuda

Persoalan putus sekolah, pengangguran, lapangan kerja yang terbatas dan kenakalan remaja adalah persoalan pemuda disemua desa-desa di Kabupaten Lombok Utara. Mengatasi persoalan ini tentu tidak harus mengandalkan intervensi pemerintah semata, di acara sosialisasi dan pembekalan yang diselenggarakan pada 23-24 April 2018 kemarin, ketua Karang Taruna Bina Remaja Desa Medana, Ruslan Abdul Gani menjelaskan bahwa pemuda memiliki potensi yang besar dalam pembangunan desa, oleh karena itu Karang Taruna Bina Remaja Desa Medana harus mengambil peran aktif dalam pembangunan Desa Medana.

Acara yang difasilitasi oleh Santiri Foundation, pada hari pertama peserta mendiskusikan tentang mimpi-mimpi Karang Taruna untuk 6 tahun kedepan, mimpi-mimpi tersebut berkaitan dengan ekonomi, olah raga, kesenian dan budaya, pendidikan, kesehatan dan sosial. Dari mimpi-mimpi tersebut tersusunlah tujuan dari Karang Taruna Bina Remaja Desa Medana yaitu mewujudkan dan membina pemuda Desa Medana melalui peningkatan ekonomi, pendidikan dan olahraga yang berbasis masyarakat. Dan guna mewujudkan tujuan tersebut prioritas programnya adalah peningkatan SDM, pemetaan pemasaran, membangun kemitraan dengan pemerintah dan pengusaha, penggunaan media online untuk pemasaran, mengembangkan bakat, mencari bibit unggul dan menghidupkan kembali gotong royong.

Pada hari kedua Santiri mengenalkan materi tentang Wira Usaha Baru dengan tidak tanggung-tanggung mendatangkan langsung pengurus Forum Wira Baru (FIB) Kecamatan Kayangan untuk berdialog dan berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam kewirausahaan baru. Masalah-masalah yang dihadapi para pelaku ekonomi pedesaan secara umum bukanlah masalah modal semata. Ada persoalan paling mendasar diantaranya ialah rendahnya sumberdaya manusia (SDM) meliputi penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguasaan terhadap berbagai hal menyangkut rencana produksi, analisa pasar, strategi pemasaran, strategi penjualan, penguasaan informasi dan jaringan pasar, dan seterusnya.

Pilihan-pilihan jenis bisnis strategis, antara lain seperti usaha pengelolaan hasil hutan bukan kayu (HHBK), tanaman pekarangan, sayuran, peternakan, usaha budidaya ikan, kuliner (bisnis makanan olahan) dan ekowisata harus juga disertai dengan rencana pengembangan usaha misalnya  pengembangan usaha produk olahan, pengemasan produk, pameran promosi produk, pengolahan hasil, outlet promosi produk dan penyuluhan keamanan pangan industri rumah tangga.

Diakhir acara, pada penyusunan Rencana Tindak Lanjut (RTL) Karang Taruna Bina Remaja Desa Medana menyusun prioritas kegiatan jangka pendek, yaitu : membangun sinergitas Karang Taruna dengan berbagai pihak, pemetaan potensi ekonomi di masing-masing dusun, penyusunan program kerja Karang Taruna 6 tahun ke depan dan peningkatan kapasitas pengurus dan anggota Karang Taruna (M.Wahyudin,SH)

Jambianom goes to Eco Heart

Sebelum Kabupaten Lombok Utara menjadi Definitif sebuah Daerah Administratif baru pada tahun 2011, sebagian besar masyarakat Kabupaten Lombok Utara masih hidup dengan berbagai pola kearifan lokal. Salah satunya adalah yang mereka sebut dengan awiq-awiq. Hukum lokal yang  disepakati bersama untuk dilaksanakan secara terbuka dan proporsional dalam satu-kesatuan bentang dan gugus sea-landscape Kabupaten Lombok Utara.

Awiq-awiq dianggap sebagai aturan, panutan dan pedoman berkehidupan dan penghidupan  dalam dimensi wilayah kelola dan ruang hidup masyarakat. Setiap ruang hidup dan wilayah kelola masyarakat memiliki awiq-awiq yang berbeda, namun beberapa juga memiliki bentuk aturan yang serupa atau selaras. Ruang hidup dan wilayah kelola masyarakat atas lahan, hutan, air dan perairan sungai, rawa dan laut akan memiliki wujud dan implementasi awiq-awiq yang berbeda. Walaupun demikian, jika ditelaah secara etimologis, awiq-awiq merupakan upaya jenius dan konservasionik. Bahkan sebelum istilah konservasi muncul, awiq-awiq pun sudah sangat konservatif menjaga keseimbangan jasa alam dan produktifitas masyarakat, termasuk untuk masyarakat di ruang hidup dan wilayah kelola kawasan teluk Medana, Kabupaten Lombok Utara.

Awiq-awiq ini berlaku di seluruh bentang sea-landscape berdasarkan kesepakatan adat di berbagai belahan maupun satu kesatuan utuh pulau Lombok, mulai dari upland hingga lowland di pesisir dan bahkan laut. Kearifan yang merupakan ‘Pusaka nir ragawi’ ini juga berlaku bagi kawasan teluk Medana dan sekitarnya. Kawasan yang menjadi sumber penghidupan  dan kehidupan warga di masa lalu, kini dan masa depan. Teluk Medana yang berada di Desa Medana, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara ini juga menjadi salah satu unggulan destinasi wisatawan domestik dan mancanegara di Kabupaten Lombok Utara

Sekitar tahun ‘60-‘70 tahun lalu, Teluk Medana laksana taman bermain bagi biota laut. Terumbu karang tersebar luas dan menyeluruh di seluruh wilayah teluk. Padang lamun (seagrass) tak kalah indahnya melengkapi warna yang dipancarkan terumbu karang. Kekayaan hayati laut terdefinisikan dengan baik melalui limpahan biota (makroskopis dan mikroskopis) yang berada di perairan teluk. Dugong dan penyu masih aktif menghampiri perairan Teluk Medana, demikian halnya dengan ikan-ikan karang, teripang, lobster dan belut laut yang melimpah dan beraneka ragam. Konon cerita, sebagian besar masih terasakan kehadirannya hingga tahun ‘85 an

Mayoritas masyarakat di kawasan Teluk Medana mengelola ruang laut sebagai mata pencaharian mereka. Kearifan dan jenius lokal yang diasup secara turun-temurun oleh masyarakat di kawasan teluk medana membuat mereka mampu membaca dan memprediksi pergerakan angin, pola iklim dan musim, pola migrasi ikan, serta waktu dan lokasi yang tepat untuk memancing atau menjaring ikan.

Namun, apa yang telah terjadi sejak  berpuluh-puluh tahun silam di Desa Medana dan desa-desa sekitarnya menghasilkan catatan hitam bagi kemahligaiannya. Kemiskinan, Pemenuhan kebutuhan dan kekuatan finansial memaksa beberapa masyarakat di kawasan ini tidak lagi mengindahkan awiq-awiq yang berlaku. Dan ini harus dibayar mahal dengan kehilangan banyak biodiversitas akibat aktifitas antropogenik skala lokal. Kehilangan ini memantik degradasi kualitas ekosistem ruang laut dan pesisir di teluk ini.

Pengambilan Terumbu Karang untuk bahan bangunan

Pengambilan karang secara massive sebagai bahan hunian dan settlement, penggunaan bahan peledak untuk percepatan proses penangkapan ikan, serta penggunaan pottasium, jaring taket dan pukat harimau turut berperan dalam proses degradasi kualitas ekosistem teluk medana. Dari sisi historis, sejak tahun 1980an sudah tidak terlihat lagi dugong yang datang menghampiri padang lamun. Demikian halnya dengan penyu yang sudah menjarang bertelur di Teluk Medana.

Tahun 1990-an teripang sudah tidak lagi terdeteksi di perairan Medana. Kondisi ini diikuti dengan hilangnya Lobster, jenis ikan-ikan karang, terumbu karang (lunak dan keras), serta kepiting bakau beserta ekosistem mangrovenya. Nener ikan yang biasanya sekali raup bisa mencapai 500 an ekor secara pelahan menghilang.

Eksploitasi massive-destructive yang dilakukan masyarakat di Teluk Medana (terdiri dari dua dusun, yaitu Dusun Jambianom dan Dusun Teluk Dalem Kern[1]) menjadikan kondisi Perairan laut tak lagi produktif bagi generasi saat itu dan kini yang notabene adalah anak dan cucu para pelaku destructive fishing di masa lampau.

Kondisi yang cukup menghawatirkan bagi masa depan masyarakat Teluk Medana ketika itu, karena ikan tangkapan makin sulit didapat. Sampai akhirnya sekitar tahun 2007, masyarakat sepakat untuk melakukan penghentian tata kelola yang destruktif [2]. Kegiatan ini diawali dengan upaya-upaya preservasi, dengan revitalisasi kearifan lokal (awiq-awiq) sebagai dasar aturan pemanfaatan laut dan sanksi tegas bagi masyarakat yang melakukan aktifitas destructive fishing. Awiq-awiq lainnya yang direvitalisasi adalah menjeda sesaat untuk menangkap ikan dan bersyukur pada alam dan sang pencipta yang telah memberikan mereka limpahan rezeki. Kegiatan ini dilakukan pada setiap hari Jumat dan penyelenggaraan ‘nyawen’ yang dilakukan setahun sekali. Pada saat ini, jeda menangkap bisa dilakukan selama beberapa hari (kurang lebih 1 minggu, namun di beberapa desa lain bisa mencapai 2-3 minggu).

Aktifitas ini juga di lengkapi dengan revitalisasi awiq-awiq percepatan pemulihan ekosisistem perairan laut. Hal ini dilakukan dengan melakukan rehabilitasi terumbu karang dengan mekanisme transplantasi di tahun 2010.

Sepanjang perjalanan awiq-awiq, implementasi hukum lokal ini dianggap sangat efektif dan sesuai, sehingga ditiru oleh berbagai nelayan lainnya di Pulau Lombok, bahkan banyak masyarakat dari daerah lain datang untuk belajar di Lombok Utara. Untuk mengawal pelaksanaan awiq-awiq ini, masyarakat membangun kelembagaan yang bernama LMNLU (Lembaga Musyawarah Nelayan Lombok Utara) yang beranggotakan sekitar 1900 nelayan dari kurang lebih 20 desa. LMNLU, melalui majelis karma nelayannya melakukan penegakan pelaksanaan revitalisasi awiq-awiq yang direvitalisasi ini. LMNLU mendukung proses-proses dan upaya konservasi dinamik kawasan, dan menjembatani dengan mendorong kebijakan dan regulasi formal di tingkat desa, kabupaten, bahkan nasional agar lebih berpihak secara nyata terhadap kebutuhan masyarakat dan  nilai alam lokal, termasuk dalam peningkatan taraf hidup masyarakat.

Pengelolaan ekosistem berkelanjutan juga dilakukan dengan peraturan desa dan pengawasan aktifitas melaut, baik aktifitas yang dilakukan oleh masryakat Teluk Medana, maupun kawasan lain. Berikutnya kemudian juga dilakukan Pengawasan oleh Kelompok Masyarakat (Pokmaswas, bentukan pemerintah) yang bekerja sama dengan polisi air dan terintegrasi dalam LMNLU.

kegiatan Pramuka Australia saat berkunjung di dusun Jambianom, desa Medana-Lombok Utara

Upaya-upaya ini pun menghantarkan taraf ekonomi berkelanjutan yang lebih baik seiring kembalinya kondisi ekologi laut. Dari penghentian destructive fishing dan transplantasi, masyarakat coba berkembang lebih jauh dengan membudidaya terumbu karang dan ikan. Sehingga keseimbangan antara ekonomi (mata pencaharian), pangan dan ekologi tidak lagi mustahil dilakukan. Berangkat dari sini, masyarakat Desa Medana, khususnya masyarakat konservasi terumbu karang di Dusun Jambianom kerap kali dikunjungi mahasiswa, guru, dan pegiat pariwisata dari Australia untuk belajar mekanisme penurunan media tanam terumbu karang dan bahasa Indonesia serta budaya lokal.

Namun, perubahan iklim global telah berdampak signifikan di sini. Meningkatnya suhu air laut, asidifikasi air laut, intensitas energi gelombang Coral Bleaching yang terjadi tahun 2012/2013 memusnahkan seluruh upaya konservasi yang dilakukan. Hampir seluruh terumbu karang yang telah tumbuh baik dari hasil transplantasi maupun secara alami, mati memutih. Kondisi ini membuat terjadinya shock budaya[3] beberapa saat.

Transplantasi terumbu karang yang hancur terkena ombak

Berhasil mengatasi destructive fishing dan mulai berbenah dalam sekejap digagalkan oleh dampak perubahan dan variasi iklim. Rasa bangga yang membara kembali diuji oleh ganasnya kondisi laut yang seakan menjadi sumber segala ketidakpastian upaya yang telah dilakukan. Dengan demikian, maka peluang untuk melakukan kembali upaya rehabilitasi terumbu karang sempat sirna. Tidak ada kearifan yang bisa menghentikan ganasnya laut dan iklim liar.

Opsi yang tepat adalah beradaptasi. Namun perlu diingat, sisi positifnya, karena terumbu karang merupakan pereduksi energi delombang, ketika laut ganas, menghantam terumbu karang, pesisir dimana masyarakat bermukim dan beraktifitas antropogenik justru aman. Negatifnya, tidak ada lagi hasil jerih payah yang tersisa, semua mati (di tahun 2016).

Transplantasi Terumbu Karang

Menyadari hal itu, upaya akan kembali dilakukan oleh masyarakat lokal untuk menanam dan melakukan transplantasi terumbu karang di tahun yang sama (2016). Bak gayung bersambut, upaya rehabilitasi yang dilakukan didukung penuh oleh kepala daerah Kabupaten Lombok Utara. Demikian halnya dukungan dari beberpa pihak, termasuk menjadikan Teluk dan Desa Medana sebagai salah satu kawasan Keberdayaan Desa Ekologis Tangguh dan Adaptif Perubahan Iklim (Delta Api).

Melalui Delta Api, wilayah dengan tingkat kerentanan terhadap dampak bencana tinggi ini didesain (berbasis dan oleh masyarakat) sekaligus untuk meningkatkan produktifitas masyarakat. Desain dan rancangan berbentuk masterplan ini kemudian diajukan ke pemerintah daerah untuk ditindak lanjuti. Pendekatan yang dilakukan telah baik, yaitu memulai dan mengintegrasi programatik top-down dan bottom-up. Hasilnya, beberapa hasil desain dan rancangan mempermudah realisasi nyata program unggulan dari pemerintah, baik pemerintah daerah, provinsi maupun pusat.

Membuat Peta Sketsa desa

Bentuknya tentu pengembangan pariwisata skala desa dan kawasan terbatas sebagai salah satu inisasi Desa Berdaya Membangun Kabupaten Lombok Utara (Daun  Kotara), sebuah ide yang menjadi trade mark Kepala Daerah Lombok Utara. Berbasis kerentanan yang tinggi, perencanaan yang didesain secara komprehensive oleh masyarakat mengantarkan pada konsep Eco-Heart, yaitu Ecological-Heritage, Education, Art and Culture Tourism, dimana seluruhnya akan dikelola oleh masyarakat bekerjasama dalam kesetaraan dengan jejaring yang sudah terbangun.

Artinya, apa yang dilakukan masyarakat lokal, menjadi pembelajaran dan refleksi bersama masyarakat kepulauan. Kegagalan menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat lokal. Berapa kalipun mereka jatuh, bagaimanapun kondisi alamnya, berikhtiar dengan semangat pantang menyerah adalah kunci adanya alternatif lain penyelesaian permasalahan.

“Tuhan selalu bersama orang-orang baik dan orang-orang yang berusaha” – Ratmini, istri salah seorang nelayan di Dusun Jambianom.

[1] kern adalah istilah lokal untuk tungku pembakaran batu karang sebagai bahan bangunan. terdapat lebih dari seratus kern di lombok utara pada sektar tahun 80 an hingga 90an, terbanyak di kawasan teluk dalam (teluk medana). karena dilarang oleh pemerintah, lambat laun menghilang, kecuali di dusun teluk dalam kern. terdapat  sekitar 30 an kern yang bertahan hingga tahun 2010. kern ini mulai dihilangkan setelah konflik cukup keras dengan warga lainnya, terutama dusun jambianom yang berprofesi sebagai nelayan.

[2] pengeboman terjadi secara massive di hampir seluruh perairan di lombok, dan utamanya di tempat-tempat di mana potensi ikan sangat banyak. salah satunya di lombok utara dan yang terbanyak di teluk medana. akibat dari itu, masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan ikan di wilayah teluk (pinggiran) dan harus melaut jauh ke tengah. hal ini pun dilakukan dengan sarana dan peralatan yang kurang memadai karena tidak mampu mereka beli.

[3] keputus asaan selama kurang lebih 2 tahun.  upaya yang telah menghabiskan jutaan rupiah, tenaga dan pikiran serta terselenggaranya ecoedutourism terhenti. secara pelahan, kemudian kelompok masyarakat konservasi (bahari lestari) di sini mulai bangkit (2014). namun karena ketidak adaan dukungan pendanaan yang memadai, upaya bangkit ini berjalan lamban seperti halnya moluska di dasar laut.