Penyusunan Baseline Kurikulum SEKOLAH ADAT DAN BUDAYA (SAB)

Sekilas Sekolah Adat Bayan

 Sekolah Adat Bayan merupakan Lembaga Pendidikan Non Formal yang mengajarkan tentang pendidikan lingkungan, adat dan budaya. Gurunya adalah para tokoh dan pejabat adat yang memang memiliki tugas dan fungsi sebagai dalam menjalankan tradisi adat dan budaya, menjaga alam dengan tatanan local (awik-awik adat).  Diresmikan pada Tanggal 20 desember 2017.

Apa yang dilakukan masyarakat adat, sama dengan apa yang akan dilakukan dunia dengan SDGs. Tapi belum terdokumentasi dan terpublikasi dengan baik. Namun Banyak Generasi penerus tidak tahu dan tidak peduli tentang jati diri mereka. Banyak Ilmu Pengetahuan lokal yang tidak diperoleh dari sekolah formal. Banyak orang-orang yang belum memahami peran dan fungsi masing-masing dalam pengelolaan wilayah adat. Sehingga perlu merevitalisasi tata nilai dan kearifan lokal yang ada/pernah hidup.

Kegiatan penyusunan kurikulum sekolah lapang adat dan budaya ini dilakukan atas  Kerjasama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Santiri dan SAB.

 

Penyusunan Baseline Kurikulum Sekolah Adat Bayan

Kenapa Sekolah Adat Bayan harus ada, dan kegiatan penyusunan baseline kurikulum SAB harus dilakukan :

  1. Negara rugi, karena ini data besar dan ilmu pengetahuan besar dalam pengelolaan wilayah kelola dan ruang hidup
  2. Kesadaran dan Pemahaman Massive terkait wilayah kelola dan ruang hidup beserta komponen-komponen dan sistematika pengelolaannya
  3. Integritas dan legalitas identitas yang mendorong proses penyadaran bersama dan pengakuan hak Masyarakat Adat
  4. Sistem pengembailan keputusan dan perumusan kebijakan yang sesuai dengan konteks masyarakat adat
  5. Kesadaran Kolektif
  6. Advokasi massive untuk Mempermudah operasional pengakuan, perlindungan, dan pemanfaatan wilayah kelola dan ruang hidup
  7. Aksi kolektif menuju kemandirian, kedaulatan, dan kemartabatan

Mengapa data baseline ini menjadi penting:

  1. Baseline untuk Menyusun kurikulum pendidikan dan transfer pengetahuan dalam SAB
  2. Legalitas dan pengakuan masyarakat adat semakin kuat: Pemahaman dan Kesadaran Massive
  3. Dasar dari pemahaman dan pengetahuan massive terkait dengan pemangku kepentingan dan kewenangan pengelolaan wilayah kelola dan ruang hidup masyarakat adat

Tahapan kegiatan dalam penyusunan kurikulum SAB ini yaitu :

  1. Persiapan sosial dan visioning
  2. Penyusunan metode penggalian baseline database
  3. Pelatihan pemuda ( Duta Adat )
  4. Pengambilan, pengkoleksian, penggalian, penjaringan data dan informasi
  5. Pengimputan kedalam system database

Rangkaian kegiatan ini dilakukan secara offline dan online dengan melibatkan narasumber dari luar daerah dan local, dengan melibatkan pemerintah daerah, tokoh dan masyarakat adat, pemuda adat serta mahasiswa dan pelajar. Kegiatan dilakukan di wilayah komunitas adat yang berada di kecamatan Kayangan dan Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

Pembuatan kurikulum SAB  ini juga merupakan rangkaian kegiatan kunjungan Direktur Jenderal Kebudayaan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Hilmar Farid) tahun 2020 ke kampung adat desa Loloan, Kabupaten Lombok Utara paska terjadinya gempa di Lombok tahun 2018, sebagai tindak lanjut dari kegiatan tersebut maka disepakati untuk merancang kurikulum sekolah lapang adat dan budaya masyarakat adat di Kawasan kedatuan Bayan.

Setelah dilakukan beberapa rangkaian pertemuan secara online antara pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, Santiri dan SAB. serta kunjungan tim SAB ke Ciptagelar untuk mempelajari Teknik penggalian data masyarakat adat, maka dilakukan rangkaian kegiatan yang telah di rancang sebelumnya untuk Menyusun Kurukulum sekolah lapang adat dan budaya.

Selanjutnya dilakukan rangkaian kegiatan FGD yaitu FGD 1 di Aula Balenta desa Karang Bajo kecamatan Bayan pada tanggal 3 Juni 2021, FGD 2 di Bale Sangkep Sesait kecamatan Kayangan pada tanggal 23-25 September 2021, kegiatan ini diikuti oleh perwakilan masyarakat/tokoh adat, dinas terkait dan pemuda adat. FGD 3 dilaksanakan di Kampung Adat Senaru kecamatan Bayan pada tanggal 11-13 Oktober 2021, Pada kegiatan ini diikuti oleh pemuda adat, mahasiswa dan pelajar. Setelah mengikuti materi selama 3 hari, dilanjutkan dengan penggalian data selama 5 hari (14-18 Oktober 2021) oleh 5 kelompok di 5 komunitas adat (komunitas adat Barung Biraq-Bayan Beleq-Karang Bajo, komunitas adat Loloan-Anyar-Sukadana-Dasan Gelumpang, komunitas adat Sembagek, komunitas adat Sesait dan komunitas adat Gumantar-Pengorong Amor amor). Setelah melakukan penggalian data, lalu semua data dikompilasi Bersama seluruh tim sebagai bahan untuk pembuatan kurikulum sekolah lapang adat dan budaya.

Tentu saja rangkaian kegiatan  ini tidak berhenti sampai disini, ini merupakan Langkah awal untuk pelestarian nilai-nilai budaya yang ada saat ini agar tidak hilang pada generasi selanjutnya. (Wa2n/102021)

KOMPETISI YO’RA HERO

Apa yang dimemacakan (diliterasikan) dan direkamkan..??

Banyak dan ragam…..

Mengerucut pada budaya bendawi (tangible) dan tidak bendawi (intagible). Contoh sederhananya, dalam proses menenun ada dua hal terkandung: kain dan alat tenun tradisionlanya bersifa bendawi sedang proses menenun, memberi dan pemaknaan warna alami itu bersifat tangible‖.

 Bentang alam dan budaya yang menaungi pertenunan itu disebut Saujana Pusaka.

 ~ Fachri Muzakki (Rinjani Festival, 2020) ~

Gunung Rinjani adalah Pusaka Alam yang dianugrahkan oleh Sang Maha Pencipta di bumi Nusatara. Manusia lereng gunung dan yang berpatok pada gunung Rinjani secara genuine telah mengembangkan adabnya. Karya budayanya. Maka Rinjani dan lingkar pengaruhnya terbangun menjadi  saujana pusaka yang luar biasa, baik pusaka ragawi atau bendawi (tangible) maupun nir-ragawi atau takbendawi (intangible).

Gunung Rinjani beserta keanekragaman hayati dan ragam unsur budaya – termasuk ritus dan situs serta  adat-istiadat – yang dimiliki oleh masyarakat di sekitar lereng Gunung Rinjani memiliki daya tarik khas yang berpotensi besar sebagai saujana belajar—sekolah budaya semesta— yang sarat nilai nilai dan ilmu pengetahuan tentang daur hidup yang berkelanjutan sebagaimana yang dicanangkan dalam gerak bersama masyarakat dunia : SDGs.

Olah kreatif dalam pengelolaanya dapat menjungkit bukan saja produktivitas dan pola konsumsi yang bijak.   Tetapi juga bisa menjadikannya sebagai sumber inspirasi industri kreatif dan ajang wisata pusaka alam dan budaya serta saujana pusaka yang   berkelanjutan. Sertamerta dengan itu juga menjadi ajang kesaling belajaran yang empatik antara warga setempat dengan para tetamu yang berkunjung. Berbagai seni-budaya atraktif dan ekonomi atau industry kreatif juga bisa dikembangkan oleh jiwa jiwa merdeka dan tangan tangan kalangan muda dan milenial yang terterampilkan. Ini akan memberikan sumbangsih bagi alam rinjani dan perdesaan di lingkar pengaruhnya secara produktif, adil dan lestari.

Membersemaikan keberdayaan kaum muda-milenial   termasuk mereka yang berkebutuhan atau berkemampuan khusus adalah satu hal terpenting untuk terus digiatkan secara ajeg dan kreatif. Hal ini mengingat bahwa kau milenial ini sesungguhnya adalah penerus, pencetus dan pemilik sah saujana Rinjani. Dan mereka yang jumlahnya lebih dari 60 % ini bisa menjadi bonus demografi sebagaimana yang diimpikan jika memiliki kualitas yang mumpuni. Sebaliknya, bisa menjadi beban dan sampah demografi jika terbiarkan.

Karena itu pada Festival Rinjani IV ini, membersemaikan keberdayaan kalangan muda dan milenial saujana lingkar Rinjani dan / atau saujana perdesaan menjadi salah satu agenda yang akan digelar. Dalam konteks ini, pemuda yang dimaksud adalah mereka yang berusia  mulai 16 hingga 25 tahun, baik yang di persekolahan (SMA dan yang sederajat) maupun di perdesaan. Pemberdayaan dilakukan dengan upaya pelibatan secara aktif dan peningkatan kapabilitasnya sesuai dengan talenta yang

dimiliki dan atau aktivitas produktif yang sudah dilakukan. Interelasi-interkoneksi diantara mereka juga akan dirancangbangun secara sistemik, melembaga dan berkelanjutan.

Dengan demikian, ada dua kegiatan utama yang akan dihelat berkait dengan pemuda ini pada Festival Rinjani IV, yakni Yora Hero (Youth Research Appraisal for Heritage-Education-Art & Cultural Tourism Opportunity) untuk pemuda persekolahan setingkat SMA dan yang sederajat, dan Perawisada (Penggerak Wisata Saujana Perdesaan) untuk Pemuda Desa secara umum.

Yora Hero bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pemahaman   tentang saujana pusaka dan pusaka saujana yang dimiliki saujana Rinjani dan atau perdesaan lingkar Rinjani. Peningkatan ini dilakukan melalui penjaringan, lokalatih, napak tilas, pendokumentasian dan pemublikasian saujana berbasis empat talenta. Talenta yang dimaksud adalah narasi (menulis), fotografi, videografi dan skestagrafi baik dalam satu kesatuan maupun sendiri sendiri.

Sedangkan   Perawisada dimaksudkan untuk meningkatkan kapabilitas terkait dengan pengelolaan wisata  saujana  desa  atau  perdesaan.  Bagaimana  Pemuda  Desa  lebih  memahami,  memakmai, mengolah dan mengelola potensi yang dimiliki desa untuk destinas wisata tanpa meninggalkan potensi utama, misalnya sebagai petani atau nelayan.

Melalui ini pemuda diharapkan mengerti dan memahami makna dan nilai dari unsur budaya lokal yang terdapat di daerahnya sendiri sehingga mampu mem-publish, mempromosikan, mengenalkannya pada dunia luar. Pembinaan pemuda juga mengarah pada bidang teknologi informasi (IT) sebagai salah satu strategi menjawab tantangan global di era industri 4.0.

Ikhwal kegiatan Yora Hero, selain dimaksudkan untuk membersemaikan keberdayan kalangan milenial sekolahan melalui penyaluran, peningkatan kapabilitas bakat dan hasil kerja dan karya dokumentasi jurnalismenya juga dihajadkan  untuk mendukung proses Merdeka belajar baik di masa covid maupun pada masa normal baru.

Hasil telaah dan pedokumentasian yang dilakukan oleh peserta melalui talen menulis, foto grafi, sketsa dan videografi, utamanya yang terpilih sebagai 10 besar perktagorinya diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan memaca (literasi) di sekolah sekolah baik sebagai suplemen maupun sisipan proses belajar bengajar di sekolah masing masing maupun lintas sekolah.

Melalui berbagai media  yang digarap dan ditingkatkan kualitasya tersebut diharapkan publikasi dan promosi  destinasi  wisata budaya dan pusaka   yang berkelanjutan  juga dapat dipublikasikan dan dipromosikan. Melalui itu dan Dawai (Duta Milenial Wisata Pusaka Indonesia) yang dipilih dari 10 besar yang telah ditentukan, wisatawan milenial bersegmen edukasi dan kebudayaan dapat dijaring dari berbagai  daerah  dan  bahkan  mancanegara.  Sedemikan  rupa  sehingga  terjadi  saling  dan  silang pembelajaran bersama.

Kegiatan ini berlangsung mulai tanggal 15 Oktober hingga 15 November 2020 dan pengumuman pemenang akan dilakukan pada puncak acara Rinjani Festival. Setiap sekolah menengah atas dilingkar rinjani dapat mengirimkan perwakilannya sebagai peserta kompetisi dengan mengirimkan hasil karya ke  email yoraherocommunity@gmail.com. Informasi mengenai kompetisi Yora Hero ini dapat diikuti di Instagram Festival Rinjani http://bit.ly/rinjanifestival