Pengukuhan IKA ITS Nusra dan Launching Festival Rinjani IV

Mataram, 10 September 2020, Semangat bekerja dalam melestarikan budaya menggiringnya menahkodai IKA ITS Nusra di tahun 2020. Ketua IKA ITS Nusra Periode 2020-2024 Tjatur Kukuh S. menyebutkan bahwa konsolidisi dengan alumni ITS yang tersebar di kepulauan Nusra akan menjadi prioritas utama, karena melihat kondisi geografis yang dominan dengan pulau-pulau yang tidak sama dengan Jawa. Teknoculture dipilih menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri pada budaya yang menjadi arah pergerakan IKA ITS Nusra. Diukung oleh Dirjen Kebudayaan menambahkan bahwa pendekatan sosial budaya melalui teknologi tidak untuk mengganti yang sudah ada, namun digunakan sebagai perantara dalam meningkatkan ranah sosial budaya yang telah dimiliki. Sudah saatnya memberi arti lebih pada teknologi sehingga akan semakin bermanfaat untuk masyarakat.

Kegiatan ini dapat berlangsung karena dukungan para pihak (pustik bahasa Mataram, Humas UNU NTB, Weekend Poject, artcoffeelago dan rekan-rekan tim festival rinjani. Kegian ini bertolak dari suatu peristiwa yang terjadi di Lombok. Pada 2018 mendapatkan sapaan yang luarbiasa  dari gempa berkekuatan 5 hingga 6,9 skala lihter yang meluluhlantahkan Lombok, dan dampak terbesar berada di Lombok Utara. Sehingga tahun 2018 menjadi  tahun yang cukup berat, dan juga menjadi sebuah momentum dimana IKA ITS bergerak dalam membantu pemulihan. Pada acara Peluncuran Pembukaan Festival Rinjani, Gendewa Tunas Rncak selaku ketua panitia Festival menerangkan  rangkaian kegiatannya dilakukan dengan durasi tiga bulan (September-November).  Pertama; Sangkep (musyawarah), biasanya dilakukan oleh tokoh agama, tokoh adat, dan para tetua dengan tujuan untuk memformulasikan dari apa yang diwariskan scara turum menurun.  Sangkep pada kegiatan ini dilakukan secara online (virtual) dan offline. Kemudian dilanjutkan dengan Sangkep yang lebih teknis dan programatik. Sangkep virtual dilaksanakan oleh anak-anak muda, sangkep oleh perempuan, sangkep oleh seniman dan budayawan, sangkep oleh kaum distabilitas, Sangkep ini nantinya dibahas untuk kerangka programatik. Output yang dapat dihasilkan adalah rumusan Rinjani, oleh karena itu hastag yang digunakan pada kegiatan Rinjani Festival adalah “Mengeja Kembali Rinjani”. Kedua, Yora Hero merupakan sebuah kompetisi pendokumentasian dalam konsep perumusan minat dan bakat yang mewakili nama sekolah untuk memetakan, mendokumentasikan, dan mengidentifikasikan kembali yang dituangkan dalam bentuk foto, video, sketsa, dan narasi. Outputnya akan menjadi data base, karena ketika berdiskusi dengan pemerinth daerah atau stakeholder lainnya potensi pariwisata atau alam dapat teridentifikasi dengan baik yang dapat dibawa kemana arah selanjutnya. Ketiga, Poroq-poroq, yaitu berdiskusi santai mengisi waktu luang namun produktif. Terkait pandemic, orang tidak bisa kemana-mana, ternyata setelah melihat instagram ada kelompok masyarakat yang membuat makanan di kawasan lingkar rinjani. Ini adalah kegiatan yang lumayan produktif, sehngga  hal-hal seperti ini bisa difasilitasi. Sehingga pada festival Rinjani ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ekonomi untuk industry dan usaha dalam skala kecil. Outputnya adalah bagimana caranya apa yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dapat dipasarkan dengan baik melalui Tenten untuk mengakomodir UMKM oleh kelompok masyarakat dalam bentuk platform digital. Oleh karena itu, waktu gempa yang sudah terjadi dan pandemic yang terjadi saat ini, beberapa kelompok pemuda diarahkan untuk dilatih, ditingkatkan kapasitas dan kapabilitasnya agar mereka bisa mengelola  wisata budaya terutama yang berada lingkar kaki rinjani. Keempat, Puncak Festival, dilakukan melalui beberapa rangkaian, diantaranya adalah Penanaman tanaman langka dan tanaman produktif untuk masyarakat local; dan Sembeq, dulu masyarakat adat sebelum naik ke rinjani, mereka melakukan Sembeq merupakan penanda yang diyakini agar mendapatkan keselamatan dalam melakukan aktivitas. Namun, zaman sekarang agak sulit dilakukan, oleh karena itu kami transformasi Sembeq tersebut dengan menggunakan Sembeq Digital yang dapat memantau (teracking dan tracing) para pendaki Rinjani. Dari seluruh rangkaian kegiatan festival yang dilakukan, dihasilkanlah sebuah rumusan rinjani dibaca secara bersamaan dari “mengeja kembali rinjani” menjadi sebuah Deklarasi Rinjani.