AKANKAH KEARIFAN LOKAL MAMPU MENYELAMATKAN NELAYAN ?

Santiri, 25 Mei 2018. Pada suatu seminar bertema dampak perubahan iklim dan pemanasan global, seorang nelayan tradisional melontarkan pertanyaan berbau teka-teki dan mistis, pertanyaannya adalah jika di laut hanya tersisa seekor ikan saja lalu siapa yang berhak mendapatkannya ?. Maka tak ayal lagi diskusi bercampur debat pun berlangsung sangat seru, masing-masing memberi argumen berdasarkan ilmunya masing-masing. Yang punya latar belakang ilmu hukum menjawabnya  itu tergantung ikannya sedang ada di laut teritorial negara mana, lalu yang ahli penangkapan ikan menawarkan agar diadakan lomba alat tangkap ikan saja maksudnya agar ketahuan alat tangkap ikan dari negara mana yang paling canggih, lalu yang ahli lingkungan malah mengatakan kemungkinan tidak satu negara pun yang mau menangkapnya karena ternyata ikan itu sudah lama tinggal di Indonesia sehingga kemungkinan juga sudah tercemar limbah tailing pertambangan.

Akan sebegitu parahkah dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global pada kehidupan nelayan hingga kemungkinan laut hanya akan menyisakan seekor ikan saja ?, apakah benar yang paling rentan terhadap ancaman perubahan iklim dan pemanasan global adalah pulau-pulau kecil dan masyarakatnya?  apakah benar dimasa mendatang pulau-pulau kecilnya akan tenggelam ?, Bukankah kita masih punya Tuhan, dengan kita selenggarakan upacara selamatan laut dan kita semua akan berdoa pada yang maha kuasa agar dijauhkan dari segala macam mara bahaya, kita juga bisa memperkuat awig-awig untuk mengatur tata cara kita dalam menghadapi bencana, kita bisa bergotong royong membangun tanggul-tanggul penahan ombak, kita tinggikan rumah-rumah panggung kita lalu kita bisa memulai belajar lagi pada alam tentang doa-doa untuk ketahanan dan adaptasi pada segala macam kemungkinan bahaya di lautan. Demikian antara keraguan dan keyakinan akan kearifan dan kemampuannya bercampur baur menyelimuti benak nelayan tadi sepulang mengikuti acara seminar.

Lalu bagaimana sebenarnya dengan kebijakan pemerintah Indonesia dalam konteks mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim ?, adakah yang mengarah untuk memperkuat kearifan local sebagai strategi dalam mengatasi kerentanan dari pulau-pulau kecil beserta keanekaragaman hayatinya ?. Sepertinya belum, sangat kelihatan upaya pemerintah dalam isu ini masih berorientasi pada pulau-pulau besar seperti Kalimantan, Sumatra dan Papua. Lalu program-program seperti REDD, Carbon Trade dan Carbon Voluntary dianggap dapat menyumbang pada mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Maka tak ingin berlama-lama resah dan gelisah sendiri, si nelayan pun ingin segera menghubungi teman-temanya, ia bermaksud untuk musyawarah mencari strategi yang akan dilakukannya dalam mengantisipasi kondisi yang bakal terjadi. Lalu sang istri pun dimintanya menyiapkan hidangan yang paling spesial. Singkat cerita, musyawarah pun segera berlangsung bak seorang pembicara ahli sang nelayan pun menceritakan apa saja hasil yang diperoleh selama mengikuti seminar, lalu teman-temannya hanya “mengangguk-angguk” mendengarnya,  sepertinya mereka paham pada apa yang disampaikannya. Kopi panas, ubi rebus serta pisang goreng segera dikeluarkan oleh sang istri. Lalu tanya jawab pun mulai berbaur dengan asap tebal dari rokok lintingan yang membumbung menutup sekilas wajah-wajah optimis nelayan yang barangkali mereka sangat yakin betul  bahwa mereka pasti bisa mengatasinya * (M. Wahyudin)

BELAJAR DARI KEBIASAAN NELAYAN KECIL

Santiri, 24 Mei 2018. Dampak perubahan iklim dan pemanasan global akhirnya dirasakan juga oleh nelayan kecil kita, seringkali ombak besar dan angin kencang datangnya secara tiba-tiba bahkan tanpa tanda-tanda sebelumnya, kalender musim penangkapan ikan menjadi tidak karuan lagi, daerah penangkapan ikan menjadi semakin ketengah lalu hasil penangkapan pun cenderung menurun hingga tidak bisa lagi menutup kebutuhan hidup sehari-hari.

Nelayan-nelayan kecil kita sebetulnya mempunyai kearifan, kecakapan dan pengetahuan yang cukup dalam aktivitasnya menangkap ikan di laut. kemampuan inilah yang  kemudian mengajarkannya hingga mereka memiliki ketahanan dan adaptasi terhadap kalender musim lautan. Nelayan mengenal dengan baik waktu-waktu tertentu dalam memasuki musim barat, musim utara, musim timur dan lain-lain sebagainya, karena memang dia paham betul tanda-tandanya. Musim penangkapan bermacam jenis ikan pun mereka paham dengan baik termasuk kemana mereka mendapatkan daerah penangkapannya (fishing ground).

Karena sarana penangkapan ikannya yang relatif sederhana, nelayan kecil secara efektif dalam setahunnya hanya mampu melakukan aktivitas penangkapan ikan selama 6 (enam) bulan saja. Pada musim-musim tertentu mereka tidak bisa melaut karena cuaca yang tidak bersahabat dan pada musim terang bulan biasanya juga mereka tidak bisa melaut karena alat tangkap mereka kebanyakan berupa jaring apung ( drift net ). Maka selama 6 bulan dimana nelayan tidak melaut atau yang biasa disebut masa paceklik, bermacam usaha yang mereka biasa lakukan seperti berkebun, menjadi buruh atau kerja serabutan lainnya.

Jadi dalam mensiasati dampak perubahan iklim dan pemanasan global, barangkali lebih tepat apabila di eksplorasi dari kebiasaan-kebiasaan nelayan sendiri pada saat menghadapi masa pacekliknya. Jadi tidak harus seragam dalam “membantu” nelayan, karena pasti perlu dilakukan perencanaan partisipatif di masing-masing wilayah. Siapa tahu nelayan tidak mau beralih profesi ke budidaya kerapu karena harus menunggu waktu yang cukup lama dalam pemeliharaannya atau budidaya karang yang ternyata stek karang hasil budidaya sangat sulit untuk di jual ke pasaran..

Tidak sulit memang, meminjam “ilmu laut” seorang nelayan tua Jambianom, bahwa sebetulnya nelayan itu sudah terbiasa melakukan adaptasi terhadap segala macam kemungkinan cuaca di lautan yang maha luas, tapi justru pada “lautan kecil“ lah nelayan akan mengalami banyak kesulitan dalam mengendalikan kemudi kehidupannya.(M.Wahyudin)