Profil

SANTIRI Foundation

Dengan menghadirkan kantor Ashoka di Lombok selain untuk mengubah paradigma bahwa pusat aktivitas harus di tempat yang fasilitasnya memadai sebagaimana di kota-kota besar, juga untuk menumbuhkan pusat-pusat aktivitas baru di berbagai tempat yang selama ini dianggap tidak memadai. Hal ini juga sebagai upaya agar tidak mengulangi kekeliruan masa lampau: ketimpangan barat dan timur, kota dan desa, propinsi besar dan kecil dan sebagainya. Karena alasan efisiensi, sejak Desember 2004, Ashoka Santiri disatukan kembali ke Ashoka Indonesia di Bandung. Akan tetapi sesungguhnya. proses penyatuan dan metamorfosa telah dilakukan sejak 3 bulan sebelumnya, yakni September 2004. Dengan demikian, sebetulnya, keinginnan untuk tetap menghadirkan sebuah institusi yang mengemban tugas dan fungsi seperti Ashoka Santiri, telah dilakukan ketika itu pula.

Persamaan Santiri Foundation dengan Ashoka Santiri adalah pada kawasan atau wilayah kerjanya, yakni Kawasan Timur Indonesia; dan sebagian personil pendukungnya dan Alamat Kesekretariaan/kantornya.

Sedangkan perbedaannya terletak pada legal status: Ashoka Santiri merupakan bagian dari Ashoka Indonesia dan hanyalah Representasi Ashoka Global yang berkedudukan di Washington DC (Amerika). Dengan demikian ia hanya kepanjangan tangan dan tidak memiliki kemandirian dalam menentukan program dan kegiatan serta pengelolaan dana. Sedangkan Santiri Foundation diharapakan akan dikelola secara independent dan berketergantungan dengan para pihak lainnya secara setara; Visi/misi: Ashoka lebih menekankan pada pengembangan profesi baru yang diberi label ‘Social Entrepreneur’ secara global. Sedangkan Santiri Foundation menekankan pada pengembangan dan pemberdayaan masyarakat sipil di Kawasan Timur Indonesia. Pengembangan Social Entrepreneur (dalam hal ini lebih menekankan pada Youth Entrepreneur) hanyalah sebagian saja dari misi dan programnya. Santiri berupaya Mendorong dan memastikan peran NGO/CSO dan Kelas menengah dalam transformasi sosial dan membangun kemandirian

 

 

Tujuan

Secara Umum SF bertujuan untuk mempercepat terjadinya perimbangan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat antara Kawasan Barat dengan Kawasan Timur Indonesia.

Secara lebih khusus, SF bertujuan untuk :

* Membangun kader-kader muda potensial melalui pengembangan Fellowship dan pendidikan bagi ‘youth entrepreneur’ di Kawasan Timur Indonesia.

* Mengembangkan Institusi yang mandiri melalui upaya-upaya penggalangan sumberdaya local

* Membangun masyarakat sipil yang saling menghormati, saling tolong dan saling berketergantungan

* Menjembatani dunia bisnis dengan dunia sosial untuk melakukan perubahan sosial.

Mandat

Mengusung Program yang tercecer dan perlu disistematisir sejak tahun 1985 (yang belum ditangani atau belum serius ditangani oleh sejawat NGO/CSO);

* Menyempurnakan, memodifikasi dan mengembangkan apa yang telah dirintis dan dikerjakan serta telah dihasilkan oleh Ashoka Santiri

* Menjawab kebutuhan kini, prespektif dan proyeksi ke depan

* Tetap mempertahankan Area/wilayah kerja, yakni Kawasan Timur Indonesia

Problem Sosial

Posisi dan Kondisi Kemiskinan KTI di Indonesia. KTI masih menjadi anak tiri Kekayaan SDA, mineral dan tambang dieksploitasi (Pusat) sehingga menimbulkan degradasi lingkungan & pemiskinan. Letak geografis yang menyebar dan sarana/prasarana yang minim Geopolitik dan ekonomi yang beragam Kebijakan yang tetap belum berpihak dan tata kelola pemerintahan yang korup serta masih banyak begantung pada “pusat. Belum solid dan masih sangat tergantungnya kalangan masyarakat sipil (NGO/CS), terhadap pemerintah, lembaga donor dan NGO/CSO Jawa. IPM (HDI) KTI pada umumnya rendah (NT menempati urutan terburuk) di banding propinsi lainnya di KBI

Kiprah NGO

Mengembangkan gerakan sosial melalui:

* Paradigma dan Model

* Metodologi dan Instrumen

* Advokasi dan Kampanye

* Pengorganisasian

* Pendidikan dan Jejaring

* Pengembangan

Hasil

Kemajuan yang signifikan namun dengan biaya dan energi serta ketergantungan besar Bertebarannya model, metodologi, instrumen dengan berbagai bentuk aksi Pengetahuan yang berlimpah namun tersia-sia akibat mengejar targeting proyek. Gagal mentransformasikan khasanahnya bagi pembentukan ‘kelas menengah pelopor’

Gagasan Santiri

* Pendidikan Publik

* Prakarsa Membangun Pengetahuan

* Pengelolaan Resources

* Pengembangan kemandirian

 

Kekhasan Santiri

Pendidikan Publik

* Isu-isu rekomendasi NGO/CSO

* Sosialisasi Khasanah basic dan trendi

* Bagian dari aksi-refleksi dan akuntabilitas

* kampanye dan diskursus

Membangun Pengetahuan

* Memotret Gerakan Sosial (sehingga tahu posisi)

* Model- model bukan sekedar profil

* Menelusuri temuan untuk membangun konsep dan metode

* Data base

Pengelolaan Sumberdaya

* Data base

* Jaringan Kelas Menengah Sejati

* Membangun ekonomi Rakyat agar tumbuh kelas menengah yang membawa kemandirian

* Alternatif terhadap kapitalisasi sumberdaya oleh pihak luar

Menyongsong Perjuangan Mewujudkan Misi SANTIRI

* Memastikan Santiri menjadi mitra NGO dalam membangun ke-KTI-an

* Memastikan Santiri adalah jalan menuju OASE pengetahuan

* Memastikan Santiri menciptakan jembatan bagi kelas menengah terlepas dari hutang budi reproduksi negara sehingga mampu membangun CSO