FESTIVAL RINJANI IV – SANGKEP BELEQ 2

Santiri, 9 Oktober 2020, Sangkep Beleq yang dilaksanakan di Taman Narmada pada tanggal 6 Oktober 2020 dengan Tema “Betabik, Mengeja Ulang Saujana Rinjani Melalui Sangkep Beleq” merupakan rangkaian dari kegiatan Festival Rinjani IV. Sangkep Beleq dilaksanakan bertujuan untuk “Mengeja Kembali Rinjani” yang penting untuk disegerakan demi mendekati pemahaman yang tepat dan benar terkait kode penciptaan yang melekat pada Rinjani.

Sangkep Beleq dilaksanakan dengan mengedepankan protokol Covid-19 dipandu oleh Mas Jay selaku MC pada acara sekaligus memandu pembukaan dengan menyanyikan Indonesia Raya secara bersama-sama. Acara dimulai dengan penyampaian laporan ketua panitia Dedi Kuswari, dalam laporan yang disampaikan ketua panitia menyampaikan bahwa Sangkep merupakan rangkaian dari Festival Rinjani dan Sangkep yang dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2020 merupakan seri kedua setelah sebelumnya dilaksanakan pada tanggal 26 September 2020 di Bayan Kabupaten Lombok Utara. Selain itu, ketua panitia mengharapkan Sangkep bisa menjadi acara tahunan.

Sangkep Beleq yang dihadiri oleh Asisten 1 Bupati Kabupaten Lombok Barat yang sekaligus membuka acara Sangkep Beleq. Dalam sambutannya disampaikan,  bahwa sangkep ini diharapkan bisa menemukan konsep keharmonisan dari PALAGAN HATI dan bisa turun menjadi program kongkrit serta dikolaborasikan dengan berbagai stakeholder internal dan eksternal, agar konsep PALAGAN HATI tidak menjadi konsep saja dan bisa di lakukan implementasikan dalam jangka pendek, menengah dan Panjang. Asisten 1 Bupati Kabupaten Lombok Barat juga menyampaikan bahwa rinjani diharapka bisa Kembali ke bentuk aslinya dan bisa menjadikan rinjani bermanfaat dan dikelola dengana arif dan bijaksana, karena kerusakan yang telah terjadi sebelumnya harus dipertanggungjawabkan oleh semua pihak. Pernyataan terakhir dari Asisten 1 Bupati Lombok Barat yakni melalui Sangkep Beleq konsep 3M bisa terlaksana yakni Menjaga Rinjani dan hutan, Merawat Rinjani dan hutan serta Mengawasi pengelolaan Rinjani dan hutan. 3M harus dilakukan dengan sinergitas dan pengelolaan yang baik.

Kegiatan Sangkep Beleq ini diviralkan di media sosial maka diharapkan acara ini diketahui oleh banyak pihak. Disampaikan juga bahwa dalam menghadapi setiap situasi pandemic masyarakat adat memiliki pola hidup yang lebih sehat dan tenang karena eratnya kebudayaan yang mereka miliki. Sehingga kebudayaan diharapkan bisa menjawab persoalan yang ada bukan kegiatan mainstream seperti penggunaan teknologi yang berlebihan. Maka terkait dengan Rinjani, literasi melalui kebudayaan perlu dilakukan untuk mengeja Kembali Rinjani dengan cara mendengarkan terlebih dahulu apa dan bagaimana Rinjani menurut masyarakat adat.

Sangkep Beleq diisi oleh beberapa narasumber yang tergabung melalui media Zoom Virtual Meeting, diawali oleh Professor Din Syamsuddin yang menyampaikan bahwa  pemuka agama di seluruh dunia prihatin dengan kondisi alam seperti perubahan iklim dan pemanasan global. Karena situasi ini menimbulkan dampak yang luas salah satunya adalah kerusakan alam dan permasalahan lingkungan hidup. Professor Din Syamsuddin juga menyampaikan bahwa kerusakan alam dan permasalahan lingkungan hidup yang terjadi merupakan tanggung jawab moral manusia karena kesalahan manusia dalam mengelola alam. Kesalahan ini terjadi karena manusia menjadikan alam sebagai objek bukan subjek. Jika dijadikan sebagai objek, maka hal yang paling utama dilakukan yakni eksploitasi yang menyebabkan kerusakan alam. Maka dari itu, diperlukan perubahan pola piker yang menjadikan alam sebagai objek digeser menjadi subjek karena alam sendiri memiliki jiwa. Konsep pelestarian alam sejatinya sudah dituliskan dan disebutkan di kitab suci masing-masing agama. Maka dengan konsep ini, Rinjani bisa dilestarikan kembali dengan melihat apa yang diinginkan melalui pendekatan agama. Bagi masyarakat di lingkar Rinjani dan Pulau Lombok Rinjani sudah ditakdirkan sebagai penompang kehidupan, maka sangat perlu dijaga keharmonisan di dalamnya. Lebih lanjut Professor Din Syamsuddin menyampaikan bahwa di dalam MUI pelestarian alam dibahasakan sebagai sebuah pemulian alam bukan sebagai kegiatan konservasi alam. Sehingga Festival Rinjani ini diharapkan menjadi sebuah pembelajaran dan tidak hanya sebatas sebagai event  seremonial semata melainkan sebagai media untuk bertindak nyata untuk mengembalikan jiwa atau kemuliaan Rinjani.

Narasumber kedua yang terhubung melalui Zoom Virtual Meeting yakni Hanafi Guciano, perwakilan dari IRI (Interfaith Rainforest Initiatives) memaparkan 1/3 bagian Al-Qur’an mengajarkan tentang bagaimana mengelola air, habitat  kehidupan dan alam. Maka ketika ada kerusakan alam, sejatinya panduan yang ada di dalam Al-Qur’an bisa dijadikan pedoman untuk memperbaiki kerusakan alam yang timbul akibat ulah manusia sehingga keberlangsungan hidup menjadi terganggu. Namun  keberlangsungan hanya sebagai slogan saja namun secara praktek nyata tidak terlihat dan pihak yang paling banyak disalahkan yakni masyarakat adat. Hal yang perlu diketahui bahwa masyarakat adat menguasai hampir 80% keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Masyarakat adat memiliki kearifan yang sejajar dengan alam dan memiliki hubungan dengan alamnya. Sekali lagi, disampaikan oleh Bapak Hanafi Guciani bahwa alam masih dianggap sebagai objek semata. Alam memberikan manusia semua kebutuhan namun manusia masih saja melakukan pengerusakan alam. Di sisi lain masyarakat adat sudah berjuang untuk mengamankan hutannya namun terganjal dengan kebijakan, pemilik dana dan pengambil kebijakan. Melalui Festival Rinjani dan Sangkep Beleq ini, IRI mengharapkan adanya sebuah Tindakan nyata untuk pemulihan dan pelestarian alam khususnya Rinjani. Salah satunya dengan berpedoman menggunakan kitab suci agama masing-masing. IRI juga melakukan edukasi untuk pemulihan alam dengan cara  mengajarkan masyarakat yang berada di limgkar hutan untuk berpuasa selama satu hari untuk hutan seperti tidak melakukan kegiatan di lingkar hutan agar hutan memiliki kesempatan untuk memulihkan diri.

Narasumber ketiga yang bergabung melalui Zoom Virtual Meeting  yakni TGH. Hasanaen Juaini. TGH Hasanaen menyampaikan bahwa sudah saatnya menggunakan ajaran dan kitab agama masing-masing dalam mengelola alam. TGH Hasanaen juga memberikan pemahaman bahwa Pulau Lombok merupakan pulau kecil dan tidak harus berpatokan dengan kawasan lingkar Rinjani namun seluruh Lombok pada umumnya. Karena kerusakan alam atau lingkungan yang terjadi di Pulau Lombok akan memberikan kerusakan pada Rinjani, begitu pula sebaliknya kerusakan Rinjani memberikan kerusakan pada Pulau Lombok. Bagi masyarakat adat, menjaga ekosistem alam dan hutan merupakan kearifan lokal yang telah mereka lakukan sejak lama. Berbagai kearifan lokal membuktikan bahwa mereka mampu menjaga ekosistem di alam dan hutan. Namun, yang selalu terjadi adalah masyarakat adat selalu kalah dari kebijakan dan eksploitasi dari luar. Melalui kearifan lokal ini, TGH. Hasanaen juga telah membuktikan metode ini di kawasan Sedau Lombok Barat. Tanah kering yang tidak bisa ditumbuhi tanaman, diperlakukan sebagai subjek melalui pendekatan kearfian lokal berhasil berubah menjadi kawasan yang hijau dan tumbuh kawasan hutan. Lebih lanjut TGH. Hasanaen menyampaikan kerusakan alam yang dihadapi saat ini sangat berat, secara materil tidak akan bisa diperbaiki kembali. Namun kearifan lokal yang dibangun bisa membuat alam kembali normal.

Setelah pemaparan dari narasumber, Moderator mengarahkan peserta untuk berdiskusi. Moderator menyampaikan bahwa, diskusi yang dibangun diharapkan bisa merumuskan rencana yang bisa diaplikasikan dan berkelanjutan.

Penanggap pertama yakni Lalu Abdurrahim menyampaikan bahwa Festival Rinjani ke depannya dilaksanakan oleh Tuan Guru dan pemuka agama lainnya. Penanggap juga berpendapat bahwa panduan yang disampaikan oleh narasumber cukup banyak yang didapatkan namun belum bisa terbentuk sebagai acuan real atau nyata. Sehingga diharapkan tokoh atau organisasi keagamaan memiliki fatwa terkait dengan kepedulian terhadap alam. Penanggap juga memaparkan tidak kurang terdapat 16.000 orang yang berkunjung ke gunung Rinjani setiap tahun dan mengharapkan angka ini menjadi catatan pihak terkait.

Selanjutnya Bapak H. L. Muhammad Amin menyampaikan poin-poin terkait dengan kegiatan untuk pelestarian alam yakni:

  1. Setiap orang yang memiliki hajatan seperti kawinan, lahiran dan meninggal diwajibkan menanam satu pohon
  2. Perlu didorong regulasi untuk penyelamatan Rinjani
  3. Perlu diundang lembaga atau organisasi terkait Rinjani
  4. Banyak perda di kabupaten , seberapa besar pengaruh atau dampak dari keberhasilan pengelolan alam
  5. Perlu dibuat dokumentasi terkait dengan kegiatan Festival Rinjani untuk menyebarkan kebaikan

Bapak Sembahulun dari Lombok Timur menyampaikan hutan saat ini sudah menjadi media tanam konsumtif. Hutan yang tadinya menjadi penyedia air atau sumber mata air sudah menghilang karena hutan yang menjadi media penyimpanan air berubah menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang justru banyak mengkonsumsi air. Melihat situasi ini Bapak Sembahulun berulang kali menghubungi pemerintah pusat agar situasi ini tidak berlanjut lagi. Seehingga Bapak Sembahulun menginginkan hutan dan alam sebaiknya dikembalikan kepada masyarakat adat untuk di Kelola. Penanggap juga memaparkan optimisme jika diberikan lahan untuk dikelola dengan masyarakat adat paling tidak 10 tahun, maka hutan akan kembali tumbuh dan sumber mata air akan kembali muncul.

Bapak L. Zainuddin menyampaikan pendapat bahwa kerusakan hutan mulai sejak zaman reformasi. Setelah reformasi ada namanya pengelolaan hutan untuk masyarakat, akan tetapi praktek di lapangan yang sangat tidak sesuai dengan konsep awal. Karena saat diterapkan yang terjadi justru eksploitasi hutan. Eksploitasi hutan seperti memiliki dampak sangat besar seperti banjir dan sebagainya. Padahal sejak lama masyarakat adat mengelola hutan namun tidak menemukan dampak yang besar.

Setelah mendengarkan pemaparan penanggap, moderator mengambil kesimpulan awal yakni pemaparan penanggap yang menemukan bahwa pengelolaan hutan menggunakan model kearifan lokal lebih berhasil dibandingkan dengan pendekatan hukum normatif seperti UU, Perda ataupun peraturan lainnya. Sehingga, sudah saatnya pendekatan keagamaan dan adat melalui kearifan lokal masuk sebagai benteng pengelolaan hutan. Di sisi lain, munculnya pariwsata dituding sebagai penyebab awal bagaimana 16.000 orang masuk ke Gunung Rinjani. Moderator juga menyampaikan berdasarkan pemaparan narasumber dan penanggap, pariwisata hendaknya mengacu kepada pemuliaan air dan hutan. Hutan sejak zaman reformasi mengalami kerusakan sangat cepat dan perlu dilakukan identifikasi aktor mana saja yang terlibat karena pelakunya sangat sulit untuk ditangkap. Hal-hal yang diusulkan untuk melakukan pelestarian alam, masyarakat adat sudah terlebih dahulu melakukannya.

Bapak Rianom dari desa Karang Bajo Lombok Utara menyampaikan “alam, hutan dan Rinjani perlu dijaga kelestariannya. Dalam menjaga Rinjani, masyarakat alam dan agama perlu melakukan kolaborasi yang baik agar tujuan kelestarian bisa terwujud. Penanggap juga menyampaikan dalam mengelola hutan, alam dan Rinjani pendekatan kearifan lokal lebih berhasil dibandingkan dengan pendekatan hukum normatif. Selain itu, perlu dilakukan duduk bersama lintas agama dalam merumuskan kearifan lokal lainnya”.

Perwakilan dari TNGR menyampaikan tanggapan bahwa mereka merupakan UPT Pemerintah Pusat yang diperintahkan  untuk membangun daerah bukan membangun di daerah. Artinya TNGR berperan untuk mengelola kawasan lingkar Rinjani. TNGGR juga memaparkan bahwa pengelolaan yang mereka lakukan tidak berbeda jauh dengan konsep yang dipaparkan oleh Professor Din Syamsuddin dan Asisten 1 Bupati Lombok Barat yakni pengelolaan 3P yakni pemanfaatan, pengawetan dan perlindungan.

TNGR memastikan penerapan kearifan lokal bisa tetap terlaksana di lapangan dan hal ini menjadi masukan dalam pengelolaan TNGR. Dalam hal ini, TNGR akan menggali awig-awig yang menjadi kearifan lokal masyarakat adat dalam mengelola hutan dan alam. Sehingga diharapkan muncul pengelolaan taman nasional yang berbeda dengan lainnya. Saat ini TNGR sedang melakukan perubahan total Rencana Program Jangka Panjang (RPJP) untuk 10 tahun ke depan dan bisa memasukkan situasi masyarakat adat dalam pengelolaan hutan dan alam.

Ibu Samsiah Samad dari Lombok Barat memaparkan bahwa sampai saat ini, hutan adat belum diakui sebagai hukum formal, sejatinya harus diperlukan pengakuan dalam hukum formal karena awig-awig dari masyarakat adat memiliki posisi yang tidak kuat. Lebih lanjut disampaikan penanggap bahwa dalam pemanfaatan kawasan lingkar Rinjani, hanya 10% saja wilayah yang boleh dimanfaatkan termasuk dalam rencana pembangunan kereta gantung yang sudah digaungkan sejak tahun 1972. Penanggap mempertegas bahwa pembangunan apapun tidak boleh dilakukan di zona inti.

Moderator juga mempersilahkan Penanggap yang terhubung melalui media Zoom Meeting Virtual H. Irzani. Penanggap memaparkan perlu dilakukan kolaborasi antara masyarakat adat dengan pemerintah. Sehingga kekurangan seperti belum terhubungnya antara pemerintah dan masyarakat adat dan yang berada di Lingkar Rinjani bisa dijalin dengan baik dan bisa menghasilkan rumusan bersama dalam mengelola alam, hutan dan Rinjani.

Penanggap selanjutnya yakni Bapak Putu Heri  dari Bappeda Lombok Utara memaparkan bahwa kebutuhan masyarakat adat harus dimasukkan ke dalam program pembangunan jangka menengah dan Panjang. Dan secara kelembagaan, pemerintah membutuhkan komunitas adat tanpa terafiliasi dengan partai politik tertentu.

Penanggap dari tokoh adat Desa Sesait Lombok Utara Bapak Aswadin memberikan usulan berupa perlu dilakukan duduk bersama antara tokoh adat lintas agama untuk merumuskan kelestarian Rinjani. Selain usulan yang disampaikan, penanggap menyampaikan bahwa setiap masyarakat adat memiliki awig-awig yang berbeda namun tujuannya sama yakni untuk kelestarian alam, hutan dan Rinjani. Pananggap juga menyampaikan kearifan lokal selalu kalah dengan kebijakan pemerintah.

Penanggap dari tokoh masyarakat Desa Sokong menyampaikan perlu diidentifikasi ulang identitas masyarakat Sasak seperti apa sebenarnya di mana kekayaan adat dan istiadat yang ada di dalamnya tidak terlihat dengan jelas.

Tambahan penanggap dari unsur Santriwati menyampaikan mereka sudah diajarkan untuk tetap menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan meski dari lingkup yang masih kecil.

Hasil diskusi bersama dengan penanggap yang memberikan pandangan terkait pemaparan yang disampaikan oleh narasumber didapatkan beberapa poin yakni sebagai berikut:

  1. Semua pihak yang berada di lingkar Rinjani memiliki visi yang sama yakni bersama-sama ingin memuliakan Rinjani.
  2. Daya saing yang ada untuk pengelolaan Rinjani saat ini berada di masyarakat dengan kekuatan keuangan bukan masyarakat adat.
  3. Berbicara struktur pembangunan masyarakat adat selalu di bawah. Karena pemuliaan , masyarakat adat harus di atas. Sehingga pembangunan yang ada di masyarakat adat harus sesuai dengan daerah di bawahnya bukan menurut pusat.
  4. Mengingat beberapa daerah di lingkar rinjani akan melangsungkan Pilkada, peserta Sangkep mengusulkan kepada pada Calon KADA untuk concern terhadap keadaan di lingkar Rinjani.
  5. Masyarakat adat perlu kelembagaan yang kuat seperti komunikasi, informasi dan edukasi.
  6. Pembangunan pemuliaan harus masuk RPJMD agar menjadi mainstream.
  7. Regulasi juga diperhatikan perda mana yang sifatnya eksploitasi atau pemuliaan.
  8. Memberikan ruang ekspresi bagi pemuda dalam berkontribusi terkait rinjani baik pemuda adat maupun pemuda lainnya. Diharapkan ada sangkep khusus bagi pemuda untuk membahas hal tersebut.
  9. Peran penting agama juga harus diikutsertakan dalam pemuliaan alam dan hutan.
  10. Branding juga perlu dilakukan untuk memaknai Kembali TNGR seperti apa. Jika membicarakan beauty lebih ke pariwisata, namun jika menggunakan wonderful maka akan muncul nilai-nilai kebudayaan dan Pendidikan.

(Ady Pato/Tim Media Publikasi)

EnglishIndonesian