SANGKEP VIRTUAL FESTIVAL RINJANI 2020

Sangkep Virtual ini dilaksanakan sebagai upaya untuk tetap mendiskusikan keberlangsungan dalam menjaga kelestarian alam di tengah keterbatasan untuk melakukan kegiatan yang berpotensi mengumpulkan banyak pihak. Kegiatan Sangkep Virtual ini diharapkan sebagai sebuah role model dalam menjalankan kegiatan serupa dan sebagai kegiatan yang bersifat programmatik kemudian dirangkum menjadi satu kesatuan untuk direkomendasikan kepada para pengampu dan pemangku amanah di berbagai level dan sektor. Di dalamnya termasuk rekomendasi kelembagaan inklusif yang menaunginya dan kesepakatan untuk menindaklanjuti dengan menyusun dan memberlakukan Awiq awiq (Komunitas adat dan Lokal) yang diperkuat dengan Peraturan Pemerintah (Peraturan Desa, Peraturan antar Desa Lingkar Rinjani, Peraturan Daerah Provinsi, dan/atau Peraturan Bersama antar Kepala Daerah di Lingkar Rinjani (Pulau Lombok), serta kesepakatan bersama antar Pemangku amanah Rinjani (MoU). Sehingga hasil rumusan ini menghasilkan sebuah tata kelola pengetahuan yang bisa diimplementasikan dalam kegiatan menjaga kelestarian alam dan Rinjani secara khusus.
Output dan sasaran kegiatan Sangkep Virtual adalah Kerangka kegiatan Programatik yang didukung dengan Kelembagaan yang sinergis dan transformasi distribusi Tata Kelola Pengetahuan.

Sasaran dari kegiatan ini terdiri dari 3 jangka waktu, yaitu:
1. Jangka Pendek
Jangka pendek berarti rumusan yang dihasilkan dalam sangkep virtual menjadi acuan utama dalam perencanaan kegiatan oleh OPD, organisasi dan kelompok masyarakat pada tahun 2021
2. Jangka Menengah
Jangka menengah berarti rumusan yang dihasilkan dalam sangkep virtual selaras dengan program RPJMD dari 2020 hingga 2025 serta kegiatan dan rencana strategis organisasi dan institusi yang terlibat.
3. Jangka Panjang
Jangka Panjang berarti rumusan yang dihasilkan dalam sangkep virtual menjadi pemantk untuk membuat rencana strategis dan kolaborasi jangka panjag (2025-2030)

Rangkaian Kegiatan Sangkep Virtual :
Kegiatan Sangkep Virtual terdiri dari 8 (delapan) kegiatan dengan berbagai tema yang relevan dengan situasi yang sesuai dengan kondisi saat ini. Secara detail dapat dilihat pada lampiran 1

1. Sangkep Virtual 1 (Peran Pemuda dalam Pengelolaan Saujana) Hari Pelaksanaan : Rabu, 21 Oktober 2020 Sesi Pagi
2. Sangkep Virtual 2 (Peran Perempuan dalam Pengelolaan Saujana) Hari Pelaksanaan : Rabu, 21 Oktober 2020 Sesi Siang
3. Sangkep Virtual 3 (Peran Seniman dan Budayawan dalam Pengelolaan saujana) Hari Pelaksanaan : Kamis, 22 Oktober 2020 Sesi Pagi dan Siang
4. Sangkep Virtual 4 (Revitalisasi dan Transformasi Pengetahuan Lokal) Hari Pelaksanaan : Sabtu, 24 Oktober 2020 Sesi Pagi
5. Sangkep Virtual 5 (Revitalisasi Saujana Pusaka, Arsitektur Lokal, Nusantara dan Global) Hari Pelaksanaan : Sabtu, 24 Oktober 2020 sesi Siang
6. Sangkep Virtual 6 (Implementasi Technoculture di Saujana Rinjani) Hari Pelaksanaan : Senin, 26 Oktober 2020 sesi Pagi
7. Sangkep Virtual 7 (Pengakuan Saujana) Hari Pelaksanaan : Senin, 26 Oktober 2020 Sesi Siang
8. Sangkep Virtual 8 (Menjaga Rinjani) Hari Pelaksanaan : Selasa, 27 Oktober 2020 Sesi PagI.

Narasumber dan moderator dalam acara sangkep virtual ini berasal dari berbagai daerah di Indonesia yang mewakili wilayah barat, tengah dan Timur Indonesia.

sangkep virtual ini merupakan rangkaian dari  kegiatan sangkep 1 yang diadakan secara offline di desa Karang Bajo Kabupaten Lombok Utara dan sangkep 2 di Kecamatan Narmada kabupaten Lombok Barat serta sangkep netizen yang dilakukan secara online melalui akun instagram Festival Rinjani http://bit.ly/rinjanifestival

 

KOMPETISI YO’RA HERO

Apa yang dimemacakan (diliterasikan) dan direkamkan..??

Banyak dan ragam…..

Mengerucut pada budaya bendawi (tangible) dan tidak bendawi (intagible). Contoh sederhananya, dalam proses menenun ada dua hal terkandung: kain dan alat tenun tradisionlanya bersifa bendawi sedang proses menenun, memberi dan pemaknaan warna alami itu bersifat tangible‖.

 Bentang alam dan budaya yang menaungi pertenunan itu disebut Saujana Pusaka.

 ~ Fachri Muzakki (Rinjani Festival, 2020) ~

Gunung Rinjani adalah Pusaka Alam yang dianugrahkan oleh Sang Maha Pencipta di bumi Nusatara. Manusia lereng gunung dan yang berpatok pada gunung Rinjani secara genuine telah mengembangkan adabnya. Karya budayanya. Maka Rinjani dan lingkar pengaruhnya terbangun menjadi  saujana pusaka yang luar biasa, baik pusaka ragawi atau bendawi (tangible) maupun nir-ragawi atau takbendawi (intangible).

Gunung Rinjani beserta keanekragaman hayati dan ragam unsur budaya – termasuk ritus dan situs serta  adat-istiadat – yang dimiliki oleh masyarakat di sekitar lereng Gunung Rinjani memiliki daya tarik khas yang berpotensi besar sebagai saujana belajar—sekolah budaya semesta— yang sarat nilai nilai dan ilmu pengetahuan tentang daur hidup yang berkelanjutan sebagaimana yang dicanangkan dalam gerak bersama masyarakat dunia : SDGs.

Olah kreatif dalam pengelolaanya dapat menjungkit bukan saja produktivitas dan pola konsumsi yang bijak.   Tetapi juga bisa menjadikannya sebagai sumber inspirasi industri kreatif dan ajang wisata pusaka alam dan budaya serta saujana pusaka yang   berkelanjutan. Sertamerta dengan itu juga menjadi ajang kesaling belajaran yang empatik antara warga setempat dengan para tetamu yang berkunjung. Berbagai seni-budaya atraktif dan ekonomi atau industry kreatif juga bisa dikembangkan oleh jiwa jiwa merdeka dan tangan tangan kalangan muda dan milenial yang terterampilkan. Ini akan memberikan sumbangsih bagi alam rinjani dan perdesaan di lingkar pengaruhnya secara produktif, adil dan lestari.

Membersemaikan keberdayaan kaum muda-milenial   termasuk mereka yang berkebutuhan atau berkemampuan khusus adalah satu hal terpenting untuk terus digiatkan secara ajeg dan kreatif. Hal ini mengingat bahwa kau milenial ini sesungguhnya adalah penerus, pencetus dan pemilik sah saujana Rinjani. Dan mereka yang jumlahnya lebih dari 60 % ini bisa menjadi bonus demografi sebagaimana yang diimpikan jika memiliki kualitas yang mumpuni. Sebaliknya, bisa menjadi beban dan sampah demografi jika terbiarkan.

Karena itu pada Festival Rinjani IV ini, membersemaikan keberdayaan kalangan muda dan milenial saujana lingkar Rinjani dan / atau saujana perdesaan menjadi salah satu agenda yang akan digelar. Dalam konteks ini, pemuda yang dimaksud adalah mereka yang berusia  mulai 16 hingga 25 tahun, baik yang di persekolahan (SMA dan yang sederajat) maupun di perdesaan. Pemberdayaan dilakukan dengan upaya pelibatan secara aktif dan peningkatan kapabilitasnya sesuai dengan talenta yang

dimiliki dan atau aktivitas produktif yang sudah dilakukan. Interelasi-interkoneksi diantara mereka juga akan dirancangbangun secara sistemik, melembaga dan berkelanjutan.

Dengan demikian, ada dua kegiatan utama yang akan dihelat berkait dengan pemuda ini pada Festival Rinjani IV, yakni Yora Hero (Youth Research Appraisal for Heritage-Education-Art & Cultural Tourism Opportunity) untuk pemuda persekolahan setingkat SMA dan yang sederajat, dan Perawisada (Penggerak Wisata Saujana Perdesaan) untuk Pemuda Desa secara umum.

Yora Hero bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan pemahaman   tentang saujana pusaka dan pusaka saujana yang dimiliki saujana Rinjani dan atau perdesaan lingkar Rinjani. Peningkatan ini dilakukan melalui penjaringan, lokalatih, napak tilas, pendokumentasian dan pemublikasian saujana berbasis empat talenta. Talenta yang dimaksud adalah narasi (menulis), fotografi, videografi dan skestagrafi baik dalam satu kesatuan maupun sendiri sendiri.

Sedangkan   Perawisada dimaksudkan untuk meningkatkan kapabilitas terkait dengan pengelolaan wisata  saujana  desa  atau  perdesaan.  Bagaimana  Pemuda  Desa  lebih  memahami,  memakmai, mengolah dan mengelola potensi yang dimiliki desa untuk destinas wisata tanpa meninggalkan potensi utama, misalnya sebagai petani atau nelayan.

Melalui ini pemuda diharapkan mengerti dan memahami makna dan nilai dari unsur budaya lokal yang terdapat di daerahnya sendiri sehingga mampu mem-publish, mempromosikan, mengenalkannya pada dunia luar. Pembinaan pemuda juga mengarah pada bidang teknologi informasi (IT) sebagai salah satu strategi menjawab tantangan global di era industri 4.0.

Ikhwal kegiatan Yora Hero, selain dimaksudkan untuk membersemaikan keberdayan kalangan milenial sekolahan melalui penyaluran, peningkatan kapabilitas bakat dan hasil kerja dan karya dokumentasi jurnalismenya juga dihajadkan  untuk mendukung proses Merdeka belajar baik di masa covid maupun pada masa normal baru.

Hasil telaah dan pedokumentasian yang dilakukan oleh peserta melalui talen menulis, foto grafi, sketsa dan videografi, utamanya yang terpilih sebagai 10 besar perktagorinya diharapkan dapat dipergunakan sebagai bahan memaca (literasi) di sekolah sekolah baik sebagai suplemen maupun sisipan proses belajar bengajar di sekolah masing masing maupun lintas sekolah.

Melalui berbagai media  yang digarap dan ditingkatkan kualitasya tersebut diharapkan publikasi dan promosi  destinasi  wisata budaya dan pusaka   yang berkelanjutan  juga dapat dipublikasikan dan dipromosikan. Melalui itu dan Dawai (Duta Milenial Wisata Pusaka Indonesia) yang dipilih dari 10 besar yang telah ditentukan, wisatawan milenial bersegmen edukasi dan kebudayaan dapat dijaring dari berbagai  daerah  dan  bahkan  mancanegara.  Sedemikan  rupa  sehingga  terjadi  saling  dan  silang pembelajaran bersama.

Kegiatan ini berlangsung mulai tanggal 15 Oktober hingga 15 November 2020 dan pengumuman pemenang akan dilakukan pada puncak acara Rinjani Festival. Setiap sekolah menengah atas dilingkar rinjani dapat mengirimkan perwakilannya sebagai peserta kompetisi dengan mengirimkan hasil karya ke  email yoraherocommunity@gmail.com. Informasi mengenai kompetisi Yora Hero ini dapat diikuti di Instagram Festival Rinjani http://bit.ly/rinjanifestival

 

 

 

 

FESTIVAL RINJANI IV – SANGKEP BELEQ 2

Santiri, 9 Oktober 2020, Sangkep Beleq yang dilaksanakan di Taman Narmada pada tanggal 6 Oktober 2020 dengan Tema “Betabik, Mengeja Ulang Saujana Rinjani Melalui Sangkep Beleq” merupakan rangkaian dari kegiatan Festival Rinjani IV. Sangkep Beleq dilaksanakan bertujuan untuk “Mengeja Kembali Rinjani” yang penting untuk disegerakan demi mendekati pemahaman yang tepat dan benar terkait kode penciptaan yang melekat pada Rinjani.

Sangkep Beleq dilaksanakan dengan mengedepankan protokol Covid-19 dipandu oleh Mas Jay selaku MC pada acara sekaligus memandu pembukaan dengan menyanyikan Indonesia Raya secara bersama-sama. Acara dimulai dengan penyampaian laporan ketua panitia Dedi Kuswari, dalam laporan yang disampaikan ketua panitia menyampaikan bahwa Sangkep merupakan rangkaian dari Festival Rinjani dan Sangkep yang dilaksanakan pada tanggal 6 Oktober 2020 merupakan seri kedua setelah sebelumnya dilaksanakan pada tanggal 26 September 2020 di Bayan Kabupaten Lombok Utara. Selain itu, ketua panitia mengharapkan Sangkep bisa menjadi acara tahunan.

Sangkep Beleq yang dihadiri oleh Asisten 1 Bupati Kabupaten Lombok Barat yang sekaligus membuka acara Sangkep Beleq. Dalam sambutannya disampaikan,  bahwa sangkep ini diharapkan bisa menemukan konsep keharmonisan dari PALAGAN HATI dan bisa turun menjadi program kongkrit serta dikolaborasikan dengan berbagai stakeholder internal dan eksternal, agar konsep PALAGAN HATI tidak menjadi konsep saja dan bisa di lakukan implementasikan dalam jangka pendek, menengah dan Panjang. Asisten 1 Bupati Kabupaten Lombok Barat juga menyampaikan bahwa rinjani diharapka bisa Kembali ke bentuk aslinya dan bisa menjadikan rinjani bermanfaat dan dikelola dengana arif dan bijaksana, karena kerusakan yang telah terjadi sebelumnya harus dipertanggungjawabkan oleh semua pihak. Pernyataan terakhir dari Asisten 1 Bupati Lombok Barat yakni melalui Sangkep Beleq konsep 3M bisa terlaksana yakni Menjaga Rinjani dan hutan, Merawat Rinjani dan hutan serta Mengawasi pengelolaan Rinjani dan hutan. 3M harus dilakukan dengan sinergitas dan pengelolaan yang baik.

Kegiatan Sangkep Beleq ini diviralkan di media sosial maka diharapkan acara ini diketahui oleh banyak pihak. Disampaikan juga bahwa dalam menghadapi setiap situasi pandemic masyarakat adat memiliki pola hidup yang lebih sehat dan tenang karena eratnya kebudayaan yang mereka miliki. Sehingga kebudayaan diharapkan bisa menjawab persoalan yang ada bukan kegiatan mainstream seperti penggunaan teknologi yang berlebihan. Maka terkait dengan Rinjani, literasi melalui kebudayaan perlu dilakukan untuk mengeja Kembali Rinjani dengan cara mendengarkan terlebih dahulu apa dan bagaimana Rinjani menurut masyarakat adat.

Sangkep Beleq diisi oleh beberapa narasumber yang tergabung melalui media Zoom Virtual Meeting, diawali oleh Professor Din Syamsuddin yang menyampaikan bahwa  pemuka agama di seluruh dunia prihatin dengan kondisi alam seperti perubahan iklim dan pemanasan global. Karena situasi ini menimbulkan dampak yang luas salah satunya adalah kerusakan alam dan permasalahan lingkungan hidup. Professor Din Syamsuddin juga menyampaikan bahwa kerusakan alam dan permasalahan lingkungan hidup yang terjadi merupakan tanggung jawab moral manusia karena kesalahan manusia dalam mengelola alam. Kesalahan ini terjadi karena manusia menjadikan alam sebagai objek bukan subjek. Jika dijadikan sebagai objek, maka hal yang paling utama dilakukan yakni eksploitasi yang menyebabkan kerusakan alam. Maka dari itu, diperlukan perubahan pola piker yang menjadikan alam sebagai objek digeser menjadi subjek karena alam sendiri memiliki jiwa. Konsep pelestarian alam sejatinya sudah dituliskan dan disebutkan di kitab suci masing-masing agama. Maka dengan konsep ini, Rinjani bisa dilestarikan kembali dengan melihat apa yang diinginkan melalui pendekatan agama. Bagi masyarakat di lingkar Rinjani dan Pulau Lombok Rinjani sudah ditakdirkan sebagai penompang kehidupan, maka sangat perlu dijaga keharmonisan di dalamnya. Lebih lanjut Professor Din Syamsuddin menyampaikan bahwa di dalam MUI pelestarian alam dibahasakan sebagai sebuah pemulian alam bukan sebagai kegiatan konservasi alam. Sehingga Festival Rinjani ini diharapkan menjadi sebuah pembelajaran dan tidak hanya sebatas sebagai event  seremonial semata melainkan sebagai media untuk bertindak nyata untuk mengembalikan jiwa atau kemuliaan Rinjani.

Narasumber kedua yang terhubung melalui Zoom Virtual Meeting yakni Hanafi Guciano, perwakilan dari IRI (Interfaith Rainforest Initiatives) memaparkan 1/3 bagian Al-Qur’an mengajarkan tentang bagaimana mengelola air, habitat  kehidupan dan alam. Maka ketika ada kerusakan alam, sejatinya panduan yang ada di dalam Al-Qur’an bisa dijadikan pedoman untuk memperbaiki kerusakan alam yang timbul akibat ulah manusia sehingga keberlangsungan hidup menjadi terganggu. Namun  keberlangsungan hanya sebagai slogan saja namun secara praktek nyata tidak terlihat dan pihak yang paling banyak disalahkan yakni masyarakat adat. Hal yang perlu diketahui bahwa masyarakat adat menguasai hampir 80% keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Masyarakat adat memiliki kearifan yang sejajar dengan alam dan memiliki hubungan dengan alamnya. Sekali lagi, disampaikan oleh Bapak Hanafi Guciani bahwa alam masih dianggap sebagai objek semata. Alam memberikan manusia semua kebutuhan namun manusia masih saja melakukan pengerusakan alam. Di sisi lain masyarakat adat sudah berjuang untuk mengamankan hutannya namun terganjal dengan kebijakan, pemilik dana dan pengambil kebijakan. Melalui Festival Rinjani dan Sangkep Beleq ini, IRI mengharapkan adanya sebuah Tindakan nyata untuk pemulihan dan pelestarian alam khususnya Rinjani. Salah satunya dengan berpedoman menggunakan kitab suci agama masing-masing. IRI juga melakukan edukasi untuk pemulihan alam dengan cara  mengajarkan masyarakat yang berada di limgkar hutan untuk berpuasa selama satu hari untuk hutan seperti tidak melakukan kegiatan di lingkar hutan agar hutan memiliki kesempatan untuk memulihkan diri.

Narasumber ketiga yang bergabung melalui Zoom Virtual Meeting  yakni TGH. Hasanaen Juaini. TGH Hasanaen menyampaikan bahwa sudah saatnya menggunakan ajaran dan kitab agama masing-masing dalam mengelola alam. TGH Hasanaen juga memberikan pemahaman bahwa Pulau Lombok merupakan pulau kecil dan tidak harus berpatokan dengan kawasan lingkar Rinjani namun seluruh Lombok pada umumnya. Karena kerusakan alam atau lingkungan yang terjadi di Pulau Lombok akan memberikan kerusakan pada Rinjani, begitu pula sebaliknya kerusakan Rinjani memberikan kerusakan pada Pulau Lombok. Bagi masyarakat adat, menjaga ekosistem alam dan hutan merupakan kearifan lokal yang telah mereka lakukan sejak lama. Berbagai kearifan lokal membuktikan bahwa mereka mampu menjaga ekosistem di alam dan hutan. Namun, yang selalu terjadi adalah masyarakat adat selalu kalah dari kebijakan dan eksploitasi dari luar. Melalui kearifan lokal ini, TGH. Hasanaen juga telah membuktikan metode ini di kawasan Sedau Lombok Barat. Tanah kering yang tidak bisa ditumbuhi tanaman, diperlakukan sebagai subjek melalui pendekatan kearfian lokal berhasil berubah menjadi kawasan yang hijau dan tumbuh kawasan hutan. Lebih lanjut TGH. Hasanaen menyampaikan kerusakan alam yang dihadapi saat ini sangat berat, secara materil tidak akan bisa diperbaiki kembali. Namun kearifan lokal yang dibangun bisa membuat alam kembali normal.

Setelah pemaparan dari narasumber, Moderator mengarahkan peserta untuk berdiskusi. Moderator menyampaikan bahwa, diskusi yang dibangun diharapkan bisa merumuskan rencana yang bisa diaplikasikan dan berkelanjutan.

Penanggap pertama yakni Lalu Abdurrahim menyampaikan bahwa Festival Rinjani ke depannya dilaksanakan oleh Tuan Guru dan pemuka agama lainnya. Penanggap juga berpendapat bahwa panduan yang disampaikan oleh narasumber cukup banyak yang didapatkan namun belum bisa terbentuk sebagai acuan real atau nyata. Sehingga diharapkan tokoh atau organisasi keagamaan memiliki fatwa terkait dengan kepedulian terhadap alam. Penanggap juga memaparkan tidak kurang terdapat 16.000 orang yang berkunjung ke gunung Rinjani setiap tahun dan mengharapkan angka ini menjadi catatan pihak terkait.

Selanjutnya Bapak H. L. Muhammad Amin menyampaikan poin-poin terkait dengan kegiatan untuk pelestarian alam yakni:

  1. Setiap orang yang memiliki hajatan seperti kawinan, lahiran dan meninggal diwajibkan menanam satu pohon
  2. Perlu didorong regulasi untuk penyelamatan Rinjani
  3. Perlu diundang lembaga atau organisasi terkait Rinjani
  4. Banyak perda di kabupaten , seberapa besar pengaruh atau dampak dari keberhasilan pengelolan alam
  5. Perlu dibuat dokumentasi terkait dengan kegiatan Festival Rinjani untuk menyebarkan kebaikan

Bapak Sembahulun dari Lombok Timur menyampaikan hutan saat ini sudah menjadi media tanam konsumtif. Hutan yang tadinya menjadi penyedia air atau sumber mata air sudah menghilang karena hutan yang menjadi media penyimpanan air berubah menjadi lahan pertanian dan perkebunan yang justru banyak mengkonsumsi air. Melihat situasi ini Bapak Sembahulun berulang kali menghubungi pemerintah pusat agar situasi ini tidak berlanjut lagi. Seehingga Bapak Sembahulun menginginkan hutan dan alam sebaiknya dikembalikan kepada masyarakat adat untuk di Kelola. Penanggap juga memaparkan optimisme jika diberikan lahan untuk dikelola dengan masyarakat adat paling tidak 10 tahun, maka hutan akan kembali tumbuh dan sumber mata air akan kembali muncul.

Bapak L. Zainuddin menyampaikan pendapat bahwa kerusakan hutan mulai sejak zaman reformasi. Setelah reformasi ada namanya pengelolaan hutan untuk masyarakat, akan tetapi praktek di lapangan yang sangat tidak sesuai dengan konsep awal. Karena saat diterapkan yang terjadi justru eksploitasi hutan. Eksploitasi hutan seperti memiliki dampak sangat besar seperti banjir dan sebagainya. Padahal sejak lama masyarakat adat mengelola hutan namun tidak menemukan dampak yang besar.

Setelah mendengarkan pemaparan penanggap, moderator mengambil kesimpulan awal yakni pemaparan penanggap yang menemukan bahwa pengelolaan hutan menggunakan model kearifan lokal lebih berhasil dibandingkan dengan pendekatan hukum normatif seperti UU, Perda ataupun peraturan lainnya. Sehingga, sudah saatnya pendekatan keagamaan dan adat melalui kearifan lokal masuk sebagai benteng pengelolaan hutan. Di sisi lain, munculnya pariwsata dituding sebagai penyebab awal bagaimana 16.000 orang masuk ke Gunung Rinjani. Moderator juga menyampaikan berdasarkan pemaparan narasumber dan penanggap, pariwisata hendaknya mengacu kepada pemuliaan air dan hutan. Hutan sejak zaman reformasi mengalami kerusakan sangat cepat dan perlu dilakukan identifikasi aktor mana saja yang terlibat karena pelakunya sangat sulit untuk ditangkap. Hal-hal yang diusulkan untuk melakukan pelestarian alam, masyarakat adat sudah terlebih dahulu melakukannya.

Bapak Rianom dari desa Karang Bajo Lombok Utara menyampaikan “alam, hutan dan Rinjani perlu dijaga kelestariannya. Dalam menjaga Rinjani, masyarakat alam dan agama perlu melakukan kolaborasi yang baik agar tujuan kelestarian bisa terwujud. Penanggap juga menyampaikan dalam mengelola hutan, alam dan Rinjani pendekatan kearifan lokal lebih berhasil dibandingkan dengan pendekatan hukum normatif. Selain itu, perlu dilakukan duduk bersama lintas agama dalam merumuskan kearifan lokal lainnya”.

Perwakilan dari TNGR menyampaikan tanggapan bahwa mereka merupakan UPT Pemerintah Pusat yang diperintahkan  untuk membangun daerah bukan membangun di daerah. Artinya TNGR berperan untuk mengelola kawasan lingkar Rinjani. TNGGR juga memaparkan bahwa pengelolaan yang mereka lakukan tidak berbeda jauh dengan konsep yang dipaparkan oleh Professor Din Syamsuddin dan Asisten 1 Bupati Lombok Barat yakni pengelolaan 3P yakni pemanfaatan, pengawetan dan perlindungan.

TNGR memastikan penerapan kearifan lokal bisa tetap terlaksana di lapangan dan hal ini menjadi masukan dalam pengelolaan TNGR. Dalam hal ini, TNGR akan menggali awig-awig yang menjadi kearifan lokal masyarakat adat dalam mengelola hutan dan alam. Sehingga diharapkan muncul pengelolaan taman nasional yang berbeda dengan lainnya. Saat ini TNGR sedang melakukan perubahan total Rencana Program Jangka Panjang (RPJP) untuk 10 tahun ke depan dan bisa memasukkan situasi masyarakat adat dalam pengelolaan hutan dan alam.

Ibu Samsiah Samad dari Lombok Barat memaparkan bahwa sampai saat ini, hutan adat belum diakui sebagai hukum formal, sejatinya harus diperlukan pengakuan dalam hukum formal karena awig-awig dari masyarakat adat memiliki posisi yang tidak kuat. Lebih lanjut disampaikan penanggap bahwa dalam pemanfaatan kawasan lingkar Rinjani, hanya 10% saja wilayah yang boleh dimanfaatkan termasuk dalam rencana pembangunan kereta gantung yang sudah digaungkan sejak tahun 1972. Penanggap mempertegas bahwa pembangunan apapun tidak boleh dilakukan di zona inti.

Moderator juga mempersilahkan Penanggap yang terhubung melalui media Zoom Meeting Virtual H. Irzani. Penanggap memaparkan perlu dilakukan kolaborasi antara masyarakat adat dengan pemerintah. Sehingga kekurangan seperti belum terhubungnya antara pemerintah dan masyarakat adat dan yang berada di Lingkar Rinjani bisa dijalin dengan baik dan bisa menghasilkan rumusan bersama dalam mengelola alam, hutan dan Rinjani.

Penanggap selanjutnya yakni Bapak Putu Heri  dari Bappeda Lombok Utara memaparkan bahwa kebutuhan masyarakat adat harus dimasukkan ke dalam program pembangunan jangka menengah dan Panjang. Dan secara kelembagaan, pemerintah membutuhkan komunitas adat tanpa terafiliasi dengan partai politik tertentu.

Penanggap dari tokoh adat Desa Sesait Lombok Utara Bapak Aswadin memberikan usulan berupa perlu dilakukan duduk bersama antara tokoh adat lintas agama untuk merumuskan kelestarian Rinjani. Selain usulan yang disampaikan, penanggap menyampaikan bahwa setiap masyarakat adat memiliki awig-awig yang berbeda namun tujuannya sama yakni untuk kelestarian alam, hutan dan Rinjani. Pananggap juga menyampaikan kearifan lokal selalu kalah dengan kebijakan pemerintah.

Penanggap dari tokoh masyarakat Desa Sokong menyampaikan perlu diidentifikasi ulang identitas masyarakat Sasak seperti apa sebenarnya di mana kekayaan adat dan istiadat yang ada di dalamnya tidak terlihat dengan jelas.

Tambahan penanggap dari unsur Santriwati menyampaikan mereka sudah diajarkan untuk tetap menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan meski dari lingkup yang masih kecil.

Hasil diskusi bersama dengan penanggap yang memberikan pandangan terkait pemaparan yang disampaikan oleh narasumber didapatkan beberapa poin yakni sebagai berikut:

  1. Semua pihak yang berada di lingkar Rinjani memiliki visi yang sama yakni bersama-sama ingin memuliakan Rinjani.
  2. Daya saing yang ada untuk pengelolaan Rinjani saat ini berada di masyarakat dengan kekuatan keuangan bukan masyarakat adat.
  3. Berbicara struktur pembangunan masyarakat adat selalu di bawah. Karena pemuliaan , masyarakat adat harus di atas. Sehingga pembangunan yang ada di masyarakat adat harus sesuai dengan daerah di bawahnya bukan menurut pusat.
  4. Mengingat beberapa daerah di lingkar rinjani akan melangsungkan Pilkada, peserta Sangkep mengusulkan kepada pada Calon KADA untuk concern terhadap keadaan di lingkar Rinjani.
  5. Masyarakat adat perlu kelembagaan yang kuat seperti komunikasi, informasi dan edukasi.
  6. Pembangunan pemuliaan harus masuk RPJMD agar menjadi mainstream.
  7. Regulasi juga diperhatikan perda mana yang sifatnya eksploitasi atau pemuliaan.
  8. Memberikan ruang ekspresi bagi pemuda dalam berkontribusi terkait rinjani baik pemuda adat maupun pemuda lainnya. Diharapkan ada sangkep khusus bagi pemuda untuk membahas hal tersebut.
  9. Peran penting agama juga harus diikutsertakan dalam pemuliaan alam dan hutan.
  10. Branding juga perlu dilakukan untuk memaknai Kembali TNGR seperti apa. Jika membicarakan beauty lebih ke pariwisata, namun jika menggunakan wonderful maka akan muncul nilai-nilai kebudayaan dan Pendidikan.

(Ady Pato/Tim Media Publikasi)

Sangkep Budaya Masyarakat Adat

Santiri, 27 September 2020. Rangkaian Sangkep (pertemuan) Festival Rinjani IV telah dimulai. sejak resmi dibuka oleh wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Ibu  Hj. Siti Rohmi Djalilah pada tanggal 10 September 2020, maka dimulailah rangkaian kegiatan Festival Rinjani IV yang salah satu kegiatannya adalah Sangkep (Pertemuan) yang akan dihadiri oleh individu dan lembaga yang peduli pada pelestarian Gunung Rinjani. Kegiatan sangkep ini diawali dengan sangkep para tokoh adat di lingkar gunung Rinjani pada tanggal 26 September 2020. Sesuai dengan Protap Kesehatan di masa Pandemi covid 19 ini maka kegiatan sangkep ini mengikuti standar Kesehatan yang belaku di masa pandemic ini dan dihadiri dengan jumlah maksimal peserta dalam suatu pertemuan di masa pandemic. Sangkep Masyarakat Adat ini dilakukan secara offline dan bagi masyarakat yang ingin ikut menyaksikan kegiatan sangkep ini disiarkan secara langsung melalui saluran zoom dan youtube. Kegiatan sangkep ini dihadiri oleh perwakilan masyarakat adat dari kabupaten Lombok Barat, Lombok Tengah, Lombok Timur dan Lombok Utara.

Ikut serta dalam sangkep Budaya ini yaitu Bapak Sjamsul Hadi selaku Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kementerian Pendidikan dan kebudayaan yang memberikan kata sambutan secara online dari Jakarta. Dalam sambutannya beliau menyampaikan apresiasi dan dukungannya terhadap kegiatan festival rinjani ini. Kegiatan  festival rinjani ini menjadi pilot project untuk kegiatan pelestarian alam di lingkungan gunung rinjani dan mengharapkan ada kesepakatan untuk menjaga kelestarian Kawasan rinjani. Untuk itu perlu ada Kerjasama dari seluruh pihak untuk menjaga kelestarian Rinjani sebagai saujana alam melalui kearifan local yang telah ada. Harapannya di tahun kedepan festival rinjani menjadi mendunia dengan tetap menjaga budaya dan kearifan local yang ada. Diharapkan juga nantinya ada penerus penjaga kebudayaan dari para generasi muda.

Sangkep tokoh adat merupakan satu dari empat sangkep yang akan dilakukan dalam rangkaian kegiatan Festival Rinjani. Tujuan dari sangkep yang pertama ini adalah untuk menggali bagaimana pandangan para tokoh adat terhadap Rinjani, bagaimana nilai adat mengelola dan merawat Rinjani.
Selama ini yang menjaga dan merawat rinjani adalah masyarakat adat, tetapi yang mengelola dan mengolahnya tidak hanya masyarakat adat sehingga Rinjani menjadi semakin rusak. Bagi sebagian kelompok Rinjani tidak lebih dari sekedar obyek wisata yang dapat menghasilkan uang, bagi orang kota Rinjani mungkin sekedar tempat untuk mendaki dan rekreasi, anak muda yang diharapkan dapat meneruskan menjaga Rinjani malah menjauh tergerus oleh arus pariwisata dan budaya modern, sehingga kita hari ini kita lihat di atas Rinjani banyak ditemukan sampah, pohon – pohon ditebang, debit air banyak berkurang. oleh karena itu dalam sangkep ini juga dibagikan bibit pohon agar dapat ditanam dan dijaga di lingkungan rumah masing-masing peserta.
Tema kegiatan Festival Rinjani kali ini adalah “Mengeja Rinjani” karena kerusakan yang terjadi di Rinjani bisa jadi bukan hanya disebabkan oleh masyarakat modern yang tidak mengerti dan tidak peduli pada Rinjani melainkan masyarakat adat yang telah lupa bagaimana memaknai dan memperlakukan Rinjani.
Nilai – nilai yang tergali pada sangkep adat ini nantinya akan memaknai seluruh rangkaian kegiatan Festival Rinjani, menjadi sumber acuan nilai yang akan disampaikan kepada sangkep – sangkep berikutnya, dengan harapan agar para pengampu kebijakan / pemerintah dapat memahaminya dan menjadikannya salah satu landasan dalam membuat berbagai keputusan.

Beberapa point yang tergali dari sangkep masyarakat adat ini:
————————————————————————–
Bagi masyarakat adat, Rinjani merupakan salah satu bentuk sumber kehidupan dan penghidupan, menjaganya adalah sebuah keniscayaan, karena itu masyarakat adat perlu membentuk pranata adat agar ritual – ritual untuk menjaga Rinjani kembali dapat dilakukan secara sempurna, nilai – nilai dan pengetahuan yang ada pada masyarakat adat ini juga perlu diajarkan kepada generasi muda untuk agar nilai dan pengetahuan tersebut lestari. Diantara nilai dan ritual adat untuk menjaga Rinjani adalah adanya sembeq (yaitu pemberian tanda, yang biasanya di dahi, atas ijin untuk melakukan sesuatu), sebelum masuk hutan seseorang harus di-sembeq, sebelum menebang pohon harus di-sembeq, seorang bayi saat diberikan nama juga melalui sembeq, dan banyak hal lainnya dilakukan dengan sembeq, tetapi hari ini kita lihat sembeq sudah kalah dengan stempel, masuk rinjani tebang kayu, bahkan pemberian nama cukup dengan hanya menggunakan stempel. Selain melalui ritual – ritual adat kerukunan dalam bermasyarakat juga perlu dijaga, karena kerusakan Rinjani merupakan akibat / korban dari adanya berbagai kepentingan. Ada yang memutus mata rantai kita sehingga sepertinya Rinjani hanya milik orang Bayan saja, mata rantai yang terputus itu adalah pewarisannya, bagaimana anak cucu kita merasa memiliki Rinjani ini. Bencana yang baru saja terjadi merupakan teguran dari Tuhan sehingga pranata adat harus segera melakuan ritual.
Rinjani merupakan sebuah simbol yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa di pulau Lombok. Sebagaimana simbol di tempat lain digunakan untuk menerima petunjuk, maka di Rinjani juga digunakan untuk sebagai tempat untuk mencari petunjuk, jauh sebelum islam datang ke tanah sasak, masyarakat sasak sudah tampak islami. Lahir, hidup, dan mati merupakan daur hidup semua makhluk, daur hidup ini dibahas oleh para orang tua kita sejak dahulu.
Rinjani merupakan giri suci atau kemalik lombok, kemalik artinya tidak boleh melakukan suatu larangan / hal yang dilarang. Kami dulu naik Rinjani hanya untuk bertapa, berobat, dan membersihkan gegamang-nya (gegamang = senjata), dan ini telah terjadi sejak rin (rin = sejak dahulu kala). Oleh karenanya perlu ditegakkan kembali awig – awig adat, barang siapa yang melanggar awig – awig harus diberikan sanksi, siap saja yang melanggar kemalik / tidak menghormati kemalik harus mendapat sanksi. Namun hari ini awig – awig masyarakat adat tidak bisa ditegakkan karena tergilas oleh undang – undang investasi, jadi perlu dilakukan pendekatan secara politik dalam rangka melakukan penolakan undang – undang investasi tersebut.
Rinjani merupakan sumber inspirasi, sumber penghidupan, dan pranata sosial. Tetapi hari ini kita lihat tidak seorangpun mengerti Rinjani, kita lihat semua bupati yang berbicara tentang Rinjani pasti jatuh, perjuangan terhadap Rinjani hanya sebatas wacana dan sifatnya masih parsial, tidak ada yang benar – benar berjuang secara total, masih kalah saat dihadapkan dengan uang. Selain itu perjuangan atas Rinjani juga tidak stagnan, apa yang kita bicarakan hari ini sudah sering kita lakukan, temanya masih sama sejak perekat umbara digagas tahun 1998 yang isinya tentang kekecewaan kita tentang keadaan Rinjani.

 

 

Pengukuhan IKA ITS Nusra dan Launching Festival Rinjani IV

Mataram, 10 September 2020, Semangat bekerja dalam melestarikan budaya menggiringnya menahkodai IKA ITS Nusra di tahun 2020. Ketua IKA ITS Nusra Periode 2020-2024 Tjatur Kukuh S. menyebutkan bahwa konsolidisi dengan alumni ITS yang tersebar di kepulauan Nusra akan menjadi prioritas utama, karena melihat kondisi geografis yang dominan dengan pulau-pulau yang tidak sama dengan Jawa. Teknoculture dipilih menjadi salah satu cara untuk mendekatkan diri pada budaya yang menjadi arah pergerakan IKA ITS Nusra. Diukung oleh Dirjen Kebudayaan menambahkan bahwa pendekatan sosial budaya melalui teknologi tidak untuk mengganti yang sudah ada, namun digunakan sebagai perantara dalam meningkatkan ranah sosial budaya yang telah dimiliki. Sudah saatnya memberi arti lebih pada teknologi sehingga akan semakin bermanfaat untuk masyarakat.

Kegiatan ini dapat berlangsung karena dukungan para pihak (pustik bahasa Mataram, Humas UNU NTB, Weekend Poject, artcoffeelago dan rekan-rekan tim festival rinjani. Kegian ini bertolak dari suatu peristiwa yang terjadi di Lombok. Pada 2018 mendapatkan sapaan yang luarbiasa  dari gempa berkekuatan 5 hingga 6,9 skala lihter yang meluluhlantahkan Lombok, dan dampak terbesar berada di Lombok Utara. Sehingga tahun 2018 menjadi  tahun yang cukup berat, dan juga menjadi sebuah momentum dimana IKA ITS bergerak dalam membantu pemulihan. Pada acara Peluncuran Pembukaan Festival Rinjani, Gendewa Tunas Rncak selaku ketua panitia Festival menerangkan  rangkaian kegiatannya dilakukan dengan durasi tiga bulan (September-November).  Pertama; Sangkep (musyawarah), biasanya dilakukan oleh tokoh agama, tokoh adat, dan para tetua dengan tujuan untuk memformulasikan dari apa yang diwariskan scara turum menurun.  Sangkep pada kegiatan ini dilakukan secara online (virtual) dan offline. Kemudian dilanjutkan dengan Sangkep yang lebih teknis dan programatik. Sangkep virtual dilaksanakan oleh anak-anak muda, sangkep oleh perempuan, sangkep oleh seniman dan budayawan, sangkep oleh kaum distabilitas, Sangkep ini nantinya dibahas untuk kerangka programatik. Output yang dapat dihasilkan adalah rumusan Rinjani, oleh karena itu hastag yang digunakan pada kegiatan Rinjani Festival adalah “Mengeja Kembali Rinjani”. Kedua, Yora Hero merupakan sebuah kompetisi pendokumentasian dalam konsep perumusan minat dan bakat yang mewakili nama sekolah untuk memetakan, mendokumentasikan, dan mengidentifikasikan kembali yang dituangkan dalam bentuk foto, video, sketsa, dan narasi. Outputnya akan menjadi data base, karena ketika berdiskusi dengan pemerinth daerah atau stakeholder lainnya potensi pariwisata atau alam dapat teridentifikasi dengan baik yang dapat dibawa kemana arah selanjutnya. Ketiga, Poroq-poroq, yaitu berdiskusi santai mengisi waktu luang namun produktif. Terkait pandemic, orang tidak bisa kemana-mana, ternyata setelah melihat instagram ada kelompok masyarakat yang membuat makanan di kawasan lingkar rinjani. Ini adalah kegiatan yang lumayan produktif, sehngga  hal-hal seperti ini bisa difasilitasi. Sehingga pada festival Rinjani ini dilakukan untuk meningkatkan produktivitas ekonomi untuk industry dan usaha dalam skala kecil. Outputnya adalah bagimana caranya apa yang dilakukan oleh kelompok masyarakat dapat dipasarkan dengan baik melalui Tenten untuk mengakomodir UMKM oleh kelompok masyarakat dalam bentuk platform digital. Oleh karena itu, waktu gempa yang sudah terjadi dan pandemic yang terjadi saat ini, beberapa kelompok pemuda diarahkan untuk dilatih, ditingkatkan kapasitas dan kapabilitasnya agar mereka bisa mengelola  wisata budaya terutama yang berada lingkar kaki rinjani. Keempat, Puncak Festival, dilakukan melalui beberapa rangkaian, diantaranya adalah Penanaman tanaman langka dan tanaman produktif untuk masyarakat local; dan Sembeq, dulu masyarakat adat sebelum naik ke rinjani, mereka melakukan Sembeq merupakan penanda yang diyakini agar mendapatkan keselamatan dalam melakukan aktivitas. Namun, zaman sekarang agak sulit dilakukan, oleh karena itu kami transformasi Sembeq tersebut dengan menggunakan Sembeq Digital yang dapat memantau (teracking dan tracing) para pendaki Rinjani. Dari seluruh rangkaian kegiatan festival yang dilakukan, dihasilkanlah sebuah rumusan rinjani dibaca secara bersamaan dari “mengeja kembali rinjani” menjadi sebuah Deklarasi Rinjani.

 

Peluncuran Bengkel Latihan Kerja (Bale) Utama, Pelatihan Kerja Rumah Kayu dan Penanaman Pohon Bersama

santiri, 22/4/2019. Tanggal 22 April selalu diperingati sebagai Hari Bumi (Earth Day), dan diperingati secara Internasional. Hari bumi diperingati untuk meningkatkan kesadaran kita tentang pentingnya pelestarian lingkungan yaitu tempat tinggal kita di planet bumi ini. Dalam momentum peringatan hari bumi ini di dusun Trantapan desa Karang Bajo juga diadakan kegiatan pelatihan dan kerja / OJT (On Job Training) angkatan I tahun 2019 dan peluncuran Bengkel Latihan Kerja (Bale) Utama I yang di buka oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat  Ibu Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., serta dilanjutkan dengan penanaman pohon bersama. Dalam acara ini hadir pula dari Bina Kontruksi PUPR, Asisten I Lombok Utara, Camat Bayan, Perwakilan Kelompok Masyarakat serta peserta pelatihan Pertukangan dan fasilitator.

Penanaman Bibit Pohon oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara barat

Desa Karang Bajo yang terletak di Kecamatan bayan, Kabupaten Lombok utara yang merupakan salah satu wilayah terdampak gempa pada tahun 2018. Dari data terkini dampak dari gempa Lombok-Sumbawa dilihat dari bangunan rumah masyarakat secara keseluruhan berjumlah 216.519 yang terbagi menjadi tiga kategori, rusak berat berjumlah 75.138 rusak sedang berjumlah 33.075 dan rusak ringan berjumlah 108.306.  Khusus di Lombok Utara kerusakan total berjumlah 49.853 yang terbagi dalam jumlah rumah rusak berat 44.014, rusak sedang 1.758, dan rusak ringan 4.081.

NTB dalam penanganan pasca gempa sekarang sudah memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, dalam tahap percepatan pembangunan rumah tempat tinggal tetap atau hunian tetap (huntap) memerlukan kerjasama antara pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat serta pihak-pihak lain atau swasta. Tidak sedikit permasalahan kemudian yang muncul ketika realisasi percepatan pembangunan huntap, saah satunya adalah ketersediaan tenaga atau tukang-tukang yang akan membangun hunian tetap yang diinginkan berdasarkan pilihan masyarakat. Dan juga tidak banyak tukang-tukang yang memahami teknik-teknik bagaimana membangun rumah tahan gempa yang sudah ditetapkan standarnya oleh pemerintah. Sementara selama ini pemerintah menetapkan 3 model rumah tahan gempa, diantaranya Risha (rumah instan sederhana sehat), Rika ( rumah instan kayu ) dan Riba (rumah instan baja ringan). 

Bersamaan dengan OJT angkatan I ini pula dilakukan Sarasehan / Sangkep “Mendengar Suara Bumi dan Warga (Voice of Eart, Voice of People) Untuk Percepatan dan Pertepatan Pemulihan Dampak Gempa”.

Mendengar Suara Warga

Tujuan dari kegiatan ini adalah

1)Terjadinya starting point strategi dan konsep pembangunan yang lebih memiliki perspektif kebencanaan. 2)Terjadinya dialog publik antara masyarakat, pemangku kepentingan dan pemegang kebijakan. 3)Terjadinya pusat pembelajaran dan kerja-kerja di Bengkel Latihan Kerja (Bale) Utama dalam upaya percepatan rehap rekon. 4)Tukang kayu untuk pembangunan Rika mendapatkan sertifikasi oleh pemerintah. 5)Menanam pohon sebagai upaya mewujudkan sumberdaya terbarukan bagian dari konsekwensi pembangunan RIKA. 6)Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan limbah / sampah (plastik)

Hasil yang diharapkan

  1. Adanya starting point strategi dan konsep pembangunan yang lebih memiliki perspektif kebencanaan
  2. Adanya dialog publik antara masyarakat, pemangku kepentingan dan pemegang kebijakan
  3. Tersedianya tempat atau pusat bengkel latihan kerja utama di tingkat kecamatan
  4. Tersedianya sejumlah 35 tukang untuk pembangunan Rika yang sudah tersertifikasi di tiap kecamatan
  5. Terorganisirnya tenanga kerja / tukang-tukang untuk membangun Rika di setiap kecamatan
  6. Terbangunnya sistem kerja yang efektiv dan efisien (sistem pabrikasi) dalam membangun Rika
  7. Terbangunnya 1 unit rumah RIKA
  8. Tertanamnya 22 pohon bersama di lingkungan Pokmas
  9. Menanam pohon disebar luas di tingkat pokmas-pokmas
  10. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan limbah / sampah (plastik)

Peserta pelatihan dan kerja pembangunan rumah jenis RIKA akan diikuti oleh peserta sebanyak 36 orang tukang kayu dan batu yang berasal dari kecamatan Bayan dan kayangan. Kegiatan  pelatihan ini diadakan selama 4 hari, mulai tanggal 22 April hingga 25 April 2019

Kegiatan ini diselenggarakan bergotongroyong bersama Konsorsium Metadaya (Santiri, Koperasi Jatiperak, Forum Wirausaha Baru, Asosiasi UKM NTB Bangkit) dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (BPBD Lombok Utara, Bappeda, Dinas Tenaga Kerja Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang, Dinas Lingkungan Hidup Perumahan Dan Kawasan Pemukiman dan instansi terkait lainnya), WWF-NTB, didukung oleh Kementerian Ketenagakerjaan, DMtK, Pemerintah Provinsi NTB, dan para pihak lainnya. (Wa2n)

Percepatan Pembangunan Hunian Tetap Paska Gempa Lombok

Santiri, 13/03/2019. Gempa yang terjadi di Lombok dan sumbawa sejak tanggal 29 Juli 2018 sampai dengan sekarang telah membuat kerugian dan dampak yang sangat dirasakan oleh masyarakat sebagian besar di Lombok.  Gempa yang bertubi-tubi dengan sekala besar dan sedang juga memporak porandakan banyak bangunan, terutama di kabupaten Lombok Utara. Pasca gempa yang menimpa Lombok Utara, pemerintah telah merekomendasikan beberapa jenis bangunan rumah yang tahan gempa, yaitu RISHA, RIKO, dan RIKA. RISHA adalah jenis bangunan yang menggunakan bahan beton (panel) yang bisa dibongkar pasang. Jenis rumah RIKO adalah bentuk konvensional. Bangunan jenis RIKA adalah rumah yang banyak menggunakan bahan kayu.

Bangunan rumah yang harus dibuat oleh Masyarakat adalah dari jenis pilihan tersebut, karena sudah masuk kategori tahan gempa, sehingga alokasi anggaran Rp. 50.000.000,- untuk yang rusak berat bisa diterima oleh Masyarakat. Anggaran tersebut memang sudah ditentukan oleh pemerintah, dimana yang rusak berat Rp. 50.000.000, rusak sedang Rp. 25.000.000, dan yang rusak ringan sebesar Rp. 10.000.000.

Melihat bukti ketahanan rumah tradisional yang ada di Masyarakat Adat Bayan dari gempa yang terjadi selama ini menyebabkan banyak Masyarakat lebih memilih jenis rumah kayu (RIKA) dengan konstruksi lokal tersebut. Meyakinkan banyak pihak tentang bentuk bangunan tersebut tentu membutuhkan desain yang baik, walaupun secara tidak langsung jenis rumah ini memang diyakini semua pihak tahan gempa.

Kehadiran Solidaritas Masyarakat untuk Transparansi Nusa Tenggara Barat (Somasi NTB) lewat Program Peduli bekerjasama dengan Yayasan Satunama Yogyakarta dan juga Santiri Foundation, termasuk dengan Sekolah Adat Bayan (SAB), serta Majelis Pengemban Adat Bayan (Mapan) akan membantu untuk membuat design 4 rumah lokal yang ada di Bayan. Kegiatan tahap pertama yang dilaksanakan adalah untuk desain Rumah Adat yang ada di Desa Sukadana, Kampung Sembageq (Bale Balaq Sembageq).

Desain yang akan dihasilkan tidak hanya menyangkut gambar rumah yang dibuat, tetapi juga mengakomodir beberapa nilai yang ada dalam bangunan tersebut. Beberapa yang akan dimasukan dalam penyusunan desainnya adalah jenis kayu yang akan digunakan (terdapat jenis kayu yang boleh dan juga yang tidak boleh digunakan, bahkan termasuk sumber kayunya), ukuran rumah (sesuai sama aturan adat), hadap rumah, bahkan rumah sebagai bagian dalam ritual adat yang dilaksanakan.

Pertemuan pertama untuk membahas desain Bale Balaq Sembageq yang ada di Kampung Adat Sembageq, Desa Persiapan Baturakit (Desa Sukadana), Kecamatan Bayan, dengan menghadirkan Tokoh Adat dan pekerja bangunan yang faham tentang rumah tersebut dilaksanakan pada hari Selasa, 12 Desember 2018. Diskusi penggalian informasi oleh Pak Tjatur Kukuh (Arsitek dari Santiri Foundation) dari informasi warga yang hadir dilakukan di salah satu berugaq warga Sembageq. Peserta yang hadir sekitar 15 Orang dari perwakilan Senaru 1 orang, Karang Bajo 1 Orang, Sesait 2 Orang, dan dari Masyarakat Setempat 10 Orang.

Perumahan Tradisional di Senaru

Untuk membuat desain rumah utuh diperkirakan membutuhkan waktu pertemuan sebanyak 2 kali, pertama penggalian informasi secara utuh, dan yang kedua adalah revisi (jika ada kekurangan atau kekeliruan). Proses pembuatan desain awal dibutuhkan waktu sekitar 1 minggu, sehingga pertemuan berikutnya akan dilaksanakan pada minggu ke-3 Desember 2018. Akhir Desember 2018 kemungkinan untuk design Bale Balaq Sembage sudah jadi secara utuh.

Hasil Desain Arsitektur lokal ini akan diajukan ke Pemerintah Daerah Lombok Utara, khususnya pada Bagian Perumahan Rakyat sebagai salah satu pilihan Rumah Tahan Gempa bagi Masyarakat yang memang rumahnya masuk dalam kategori rusak berat. Tujuan lainnya adalah untuk bahan pembelajaran bagi peserta didik yang ada di Sekolah Adat Bayan. Bahkan hasil ini juga bisa difungsikan sebagai referensi untuk para peneliti tentang arsitektur lokal yang ada di Masyarakat Adat Bayan yang memang tahan terhadap kondidi alam yang rawan gempa bumi.

Bale Jajar yang merupakan kategori Rumah Kayu (RIKA) yang akan menjadi pilihan untuk  4 kelompok masyarakat korban gempa yang ada di Dusun Baturakit akan dijadikan sebagai contoh bagi Pokmas lainnya yang ada di Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.

Santiri Foundation dan Somasi NTB akan ikut mengawal untuk mempercepat proses ini ditingkat pemerintahan Kabupaten Lombok Utara, sehingga percepatan pembangunan untuk warga korban gempa di Lombok Utara bisa terlaksana.

Hasil dari diskusi ini akan ada 2 desain digital aristektur Bale Jajar yaitu, bentuk asli dan moodifikasi (ReDesain). Sekolah Adat Bayan yang memang terlibat sejak awal untuk mendampingi Masyarakat Adat Bayan dalam penyusunan Desain arsitektur lokal akan menjadikan sumber pembelajaran untuk generasi kedepan dari hasil yang telah dicapai (Desain asli), sehingga kedepan generasi penerus tahu tentang ilmu para orang tua yang sangat sesuai dengan kondisi alam yang ada di Lombok.

Kayu yang digunakan oleh para orang tua dalam membangun rumah menjadi pembicaraan yang membuat para peserta (khususnya warga setempat) menjadi berfikir keras, dimana beberapa jenis kayu yang digunakan seperti Busur, kates, lengkukun, kelanjuh sudah langka. Disaat itulah dirasakan bahwa kita sudah banyak kehilangan kekayaan yang kita miliki.

Bahan-bahan yang digunakan dalam membuat rumah sangat erat dengan segala nilai yang ada di Masyarakat Adat Bayan, tetapi karena pihak pemerintah yang khusus menyediakan bibit kayu justru tidak banyak yang mengajak masyarakat untuk menanam jenis kayu tersebut, tetapi lebih banyak jenis kayu seperti sengon, mahuni, jati, dimana jenis tersebut merupakan jenis kayu yang ada didaerah lain, dan belum tentu sesuai dengan nilai-nilai lokal yang ada di Masyarakat Adat Bayan.

Memang hampir semua ilmu lokal yang ada di Masyarakat yang tumbuh dan berkembang di suatu daerah selalu memiliki hubungan yang erat dengan alam, sesama, dan juga kayakinan religi (ketuhanan), begitu juga dengan Masyarakat Adat Wetu Telu yang ada di Bayan – Lombok Utara. Rumah sebagai tempat tinggal di Design sedemikian rupa yang difungsikan sebagai tempat tinggal, tempat untuk melaksanakan ritual, dan juga menjaga nilai-nilai sosial yang ada di masyarakat.

Bale Jajar merupakan Desain terbaru Masyarakat Adat Bayan, dimana bentuk rumah ini sudah memilki kamar sesuai dengan keinginan pemilik rumah. Tiang yang digunakan dalam membaut bale jajar ada yang 9 dan 12 tiang. Besar rumah diantara 35 meter persegi sampai 40 Meter persegi. Pada bagian depan rumah terdapat juga teras, yang biasa digunakan sebagai teempat untuk berdiskusi, jika diberugak tidak cukup tempat.

Anggaran 50 juta untuk bantuan korban gempa yang kategori rumahnya rusak berat menjadi anggaran yang akan digunakan oleh masyarakat.  Sementara saat ini Masyarakat merasakan aturan yang ada untuk mendapatkan anggaran tersebut sangat rumit, sehingga peran Santiri Foundation, Somasi NTB, Sekolah Adat Bayan (SAB), dan Majelis Pengemban Adat Bayan sangat penting dalam melakukan pendampingan dan juga koordinasi dengan pihak terkait, yaitu BPBD, PUPR, Pendamping, dan Pemerintah tingkat bawah yaitu desa.

Harapannya, jika 4 kelompok masyarakat ini bisa terselesaikan sesuai target dan harapan, maka kedepan untuk pokmas-pokmas yang lain bisa lebih mudah dalam proses pembangunan dengan anggaran yang disiapkan oleh pemerintah pusat.

Desain rumah lokal yang dikembangkan ini akan menjadikan Lombok Utara daerah yang memilki keunikan dan khas tersendiri, arsitektur dengan nilai-nilai lokal akan memberikan kesan kepada generasi penerus betapa hebatnya ilmu yang dimiliki orang tua terdahulu. Rumah yang dibangun teruji dan dapat mengakomodir berbagai sisi tentang kehidupan yang berjalan di Masyarakat.

Semoga kegiatan yang dilakukan oleh Santiri Foundation dan Somasi NTB bersama NGO lainnya bisa memberikan kemudahan kepada korban gempa yang ada di Kabupaten Lombok Utara, sehingga Masyarakat bisa membangun rumah mereka sesuai keinginan, dan juga mampu memberikan identitas kepada Masyarakat Lombok Utara yang masih memiliki ilmu local yang adaptif terhadap kondisi alam. (red)


Festival PAUD dan Dikmas Kepulauan

Santiri/29-11-2018. Festival PAUD dan Dikmas kepulauan diselenggarakan pada tanggal 27 – 29 November 2018.  Dalam kegiatan ini diikuti oleh Sekitar 120 Peserta dari pulau Lombok dan Sumbawa.
Hari pertama kegiatan diadakan lomba Alat Peraga Edukasi (APE) *dan lomba mewarnai.  Juga ada diskusi best practice pendidikan kepulauan. Kegiatan ini bertujuan untuk melihat kurikulum yang sedang berjalan dan terobosan dari pengajar yang ada di kepulauan.

Selanjutnya acara workshop  yang dilaksanakan di sekolah  lapang dan laboratorium (Skollab) desa santong kecamatan Kayangan kabupaten Lombok Utara,  dihadiri oleh Dirjen PAUd dan Dikmas,  Kabid  PAUD, Bidang Litbang Bappeda NTB dan peserta festival Paud dan Dikmas.  Dalam acara ini Bapak Dirjen dan seluruh peserta diajak berkeliling lokasi sekolah lapang wirabaru sambil mendengarkan keterangan tentang Skollab dan menikmati hasil kebun dengan teknologi emiter di Skollab.

Acara workshop diisi dengan perkenalan tentang wirabaru,  diskusi dan pembagian hadiah juara lomba APE serta paket permainan edukatif untuk PAUD di kawasan desa Santong kecamatan Kayangan Kabupaten Lombok Utara.

Hasil dari diskusi di workshop ini akan dirumuskan kembali pada tanggal 29 November 2018 di BPPAUD Mataram. (Wa2n