Pemetaan Batas Terluar Kedatuan Bayan – Kabupaten Lombok Utara

Santiri, 12 April 2020. Setelah melakukan beberapa kali diskusi dan berkunjung ke beberapa tokoh adat, mulai dari pemenang dan gangga di 15 titik wilayah kecamatan Bayan dan Kayangan, lalu dilanjutkan dengan pertemuan musyawarah besar di pantai sedayu (5 Oktober 2019). Didapat gambaran tentang peta batas luar kedatuan bayan, kenyataannya saat pemetaan Batas Luar, batasnya dari menanga reduh sampai Lombok timur (Tal Baluq), batas ini muncul saat berdiskusi dengan tokoh-tokoh Bayan dan Kayangan. Saat awal dibuat perkiraan batas kedatuan bayan ada di kecamatan bayan-kayangan.

Dari hasil diskusi dengan beberapa tokoh dan pertemuan di panti sedayu, dapat diperoleh gambaran tentang batas terluar kedatuan Bayan, dimulai dari batas timur pulau Lombok yaitu dari pantai sekitar Labu Pandan (daerah Tal 8/baluq) ke arah timur menyusuri Kokok Sambelia sampai pertemuan dengan Kokok Semareng, terus ke arah timur menyusuri Kokok Semareng sampai bertemu Gunung Mundung, dari gunung Mundung ke arah barat daya menyusuri perbukitan sampai Gunung Sengkor, dari Gunung Sengkor ke arah utara menyusuri perbukitan sampai bertemu Kokok Nangka, terus ke arah barat laut menyusuri Kokok Nangka sampai sekitar Gunung Seledra, dari Gunung Seledra ke arah barat daya menyusuri perbukitan sampai bertemu Gunung Bau, dari Gunung Bau ke arah barat daya sampai bertemu Gunung Pegangsingan, dari Gunung Pegangsingan ke arah selatan menyusuri perbukitan sampai bertemu Gunung Kendat, dari Gunung Kendat menyusuri perbukitan ke arah barat laut sampai bertemu Gunung Pusuk, dari Gunung Pusuk ke arah barat sampai bertemu Gunung Sanggar, dari Gunung Sanggar terus ke arah barat sampai bertemu Gunung Tembesi, dari Gunung Tembesi terus ke arah barat sampai bertemu Gunung Kondo, dari Gunung Kondo ke arah barat daya menyusuri lereng Rinjani sampai bertemu gunung Layur, dari Gunung Layur terus ke arah barat sampai bertemu Gundukan Tampole, dari Gundukan Tampole terus ke arah barat sampai bertemu Jalan Pusuk  menyusuri Jalan Pusuk ke arah selatan sampai batas Desa Pusuk Lestari menyusuri batas selatan Desa Pusuk Lestari melalui Bukit Plolat, Bukit Batupenyu, Bukit Kedongdong, sampai Gunung Duduk, dari Gunung Duduk menuju barat sampai bertemu bukit Lendangluar, dari Bukit Lendangluar menuju barat melalui Bukit Mangsit, dari Bukit Mangsit terus ke barat melalui Menanga Duh (Song Gigi) sampai laut. untuk batas terluar wilayah laut, disepakati hingga sejauh mata memandang (Saujana) dari tepi pantai.

Demikian hasil dari perjalanan Panjang diskusi dan pertemuan dengan para tokoh selama  beberapa bulan ini.  

Hasil dari pemetaan ini untuk selanjutnya akan dipresentasikan kembali di  dengan mengundang  para tokoh adat dilanjutkan dengan melakukan perbandingan peta (Overlay) terhadap peta yang ada di Kawasan Lombok Utara bersama dengan dinas dan pihak-pihak yang berkompeten. (Wa2n)

PEMETAAN WILAYAH ADAT BAYAN, KABUPATEN LOMBOK UTARA – NTB

Santiri, 24 Maret 2020. Masyarakat wet adat Bayan merupakan bagian dari masyarakat Sasak yang mendiami Gumi Paer (Pulau Lombok) utamanya bagian utara. Tatakelola pemerintahan sangat unik. Kepemimpinan kolektif-kolegial dengan system pengambilan keputusan dan pendelegasian melalui musyawarah (gundem) yang kurang lebih seperti Sila ke 4.

Masyarakat Wet adat Bayan memiliki 44 perangkat adat yang mana masing masing memiliki peran dan fungsi, misalnya Amaq Lokaq Walin Gumi berurusan dengan kebumian, Amaq Lokak Walin Pande urusan dengan peralatan atau perlengkapan dari logam dan seterusnya. Secara umum, peran dibagi menjadi dua, yakni urusan Keduniawian (dunia nyata/fisik) yang di serahkan pada pemekelan Karang Bajo dan dipimpin oleh Pemekalan Bat Orong, sementara untuk urusan dunia atas (akherat) diserahkan ke Pemekelan Loloan dipimpin Lauk Orong.

Selain terdapat lahan ulayat, seperti hutan dan sebagainya yang dimanfaatkan bersama, untuk kepentingan adat maupun keseharian. Untuk menyokong peran dan fungsi ini, setiap amak lokak (pemimpin adat) memiliki pecatu dan rumah adat (perumbaq) yang berbeda dengan arsitektur rumah adat secara umum sesuai dengan karakteristik. Akibat sistem modern, saat ini pecatu yang masih ada tidak lebih dari 50 %, akibat dari ini kelengkapan institusi adat juga berkurang, dan akibat dari itu ritual daur hidup 8 tahunan (gawe alif) terputus selama lebih 80 tahun.

Identitas dan entitas budaya

Masyarakat Adat Wet Bayan yang menjalankan Filosofi hidup Wet Telu dalam menjaga pelestarian alam. Sampai saat ini masyarakat dat Wet Bayan masih memiliki nilai keraifan local yang dijalankan dengan baik, dan memiliki beberapa keunikan dibandingkan daerah (wet) lain. Perbedaan atau keunikan yang dimiliki adalah memilki tata ruang yang sangat detail, terdapat beberapa wilayah adat yang merupakan sumber kehidupan dan penghidupan orang banyak (hutan adat/hutan tutupan) menjadi tanggung jawab Bersama. Selain itu juga terdapat hutan bambu untuk kebutuhan arsitektur dan juga ritual. Kemudian terdapat tanah pecatu sebagai sumber penghidupan pejabat adat dan untuk memenuhi kebutuhan ritual. Identitas iconic masayrakat adat wet bayan adalah beberapa situs dan cagar budaya (Masjid Kuno dan Makam leluhur), permainan local, Seni tradisi leluhur/seni local, tenun khas masyarakat adat, awik-awik atau aturan adat masih dijalankan dengan baik, kampung adat dan rumah dinas pejabat adat (Bale Lokaq).

Kelembagaan Sosial

Setiap ruang hidup dan ruang kelola memiliki pejabat adat yang menjaga dan juga memanfaatkannya, tentunya ada hak –hak yang diatur sedemikian rupa, dimana wilayah yang bisa dimanfaatkan secara pribadi oleh pejabat adat dan dimana yang bisa dimanfaatkan secara bersama, termasuk diatur dalam waktu-waktu tertentu. Beberapa struktur adat utama yang berada di Wet Bayan, seperti Perumbaq Daya yang menjaga Hutan Adat, Perumbaq Lauq yang menjaga Laut, Amaq Lokaq Gantungan Rombong yang memimpin setiap ritual besar, Amaq Lokaq Senaru yang menjaga pintu masuk Gunung Rinjani dari wilayah barat, Amaq Lokaq Torean yang menjaga pintu Masuk Gunung Rinjani dari wilayah tengah, dan Amaq Lokaq Sajang yang menjaga pintu masuk Gunung Rinjani dari Wilayah timur, dan masih ada banyak lagi prusa/pejabat adat untuk urusan dan hal-hal yang lebih kecil.

Sejarah ringkas masyarakat adat

Masyarakat Adat Bayan atau secara kewilayahan disebut dengan Wet Bayan secara administrative terbagi menjadi 2 kecamatan, yaitu Kecamatan Bayan dan Kecamatan Kayangan. Kelompok Masyarakat yang dikenal dengan filosofi hidup Wetu Telu untuk menjaga kelestarian alam sampai saat masih menjalankan tradisi-tradisi leluhur baik itu Adat Gama maupun Adat Luir Gama. Ritual Adat Gama merupakan ritual keagamaan yang dilaksanakan sedikit berbeda dibandingkan dengan umumnya, perbedaan pada tata cara dan waktu pelaksanaan seperti, Maulid, Lebaran Tinggi (Idul Fitri), Lebaran Pendeq (Idul Adha), dan lain-lain. Sementra Ritual Adat Luir Gama yang dilaksanakan yaitu Taek Lauk Taek Daya (Ritual Hutan dan Laut untuk menjaga kelestarian), Menjojo, Membangar (Ritual Gumi) dan masih banyak lagi ritual kecil lainnya. Dari beberapa ritual yang dilaksanakan, terdapat satu ritual besar yang disebut dengan Gawe Alif, yang dilaksanakan sekali dalam 8 tahun (Tahun Alip). Tetapi, sejak Indonesia Merdeka, Gawe Alif hanya bisa dilaksanakan sekali saja yaitu dimasa Orde Lama (tahun 1957-1958).

Mata Pencaharian

Masyarakat Adat memiliki hubungan yang sangat dekat dengan alam, termasuk untuk mata pencaharian. Hal ini bisa dilihat dalam ritual yang dilaksanakan dimana pada tatanan local yang ada terdapat ruang kelola untuk lahan pertanian (Ladang dan Sawah), lahan sebagai sumber mata air (Hutan Adat/Hutan Tutupan), lahan sebagai sumber untuk bangunan rumah dan juga bangunan sakral lainnya (Hutan Adat dan Hutan Bambu).

Kondisi ini didukung dengan data statistic sementara BPS kabpuaten Lombok utara yang menyatakan sebagian besar masyarakat yang berada di kawasan wet bayan memiliki mata pencaharian di bidang pertanian, peternakan dan perkebunan.

Wilayah dan Kondisi Sumberdaya Alam

Wet Bayan merupakan salah satu wilayah baru terbentuk secara alamiah, dimana daratannya menjadi tempat tinggal saat ini adalah hasil dari letusan Gunung Samalas ditahun 1257 M (Gunung Rinjani, Gunung Stampol, dan Sangkareang merupakan sisa dari Gunung Samalas). Jarak dari Gunung Rinjani sampai dengan pesisir pantai hanya 10 s/d 15 Km. Terdapat banyak hutan di unung Rinjani dan lerengnya sebagai sumber air untuk kehidupan Masyarakat, serta memiliki lahan kering (lading) untuk jenis tanaman musiman, dan juga lahan pertanian (sawah) untuk lahan irigasi. Karena daratan yang ditempati merupakan lahan dari letusan gunung, maka hampir seluruh lahan yang ada dikategorikan lahan yang sangat subur.

Secara umum, berdasarkan data statistic sementara BPS Kabupaten Lombok Utara tahun 2018, mayoritas lahan di wilayah wet bayan (Kecamatan Bayan dan Kayangan) adalah tanah kering yang digunakan untuk lahan pertanian non padi. Sementara sisanya digunakan untuk tanah sawah dan pekarangan. Jumlah penggunaan lahan ini belum digabungkan dengan penggunaan lahan di kawasan hutan adat atau peruntukan lainnya.

Selain lahan pertanian dan perkebunan, hutan adat juga merupakan sumberdaya alam penting bagi kelangsungan hidup masyarakat adat wet bayan. Salah satunya adanya Hutan Adat Bangket Bayan Hutan adat ini memiliki sembilan sumber mata air dan terletak pada ketinggian sekitar 550 meter dari permukaan laut dengan debit air 120 liter/detik. Dalam praktek pengelolaannya, hutan adat Bangket Bayan mengatur pola hubungan antar masyarakat adat dengan hutan adat Bangket Bayan, dan pola hubungan pejabat/prusa dengan para petani, serta pola hubungan antara manusia dengan hal gaib yang berada didalam hutan adat itu sendiri.

Untuk menjaga keberlanjutan jasa alam, masyarakat adat bayan menerapkan awiq-awiq (kearifan local). Awiq-awiq yang mengatur tentang hutan Bangket Bayan berisi pelarangan mengambil/memetik, mencabut, menebang, menangkap satwa-satwa dan membakar pohon/kayu mati yang terdapat didalam kawasan hutan; Dilarang menggembala ternak di sekitar pinggir dan di dalam kawasan hutan adat yang dapat menyebabkan rusaknya flora dan fauna hutan; Dilarang mencemari/ mengotori sumber-sumber mata air di dalam kawasan hutan adat; Dilarang melakukan meracuni Daerah Aliran Sungai (DAS) menggunakan fottas, decis, setrum dan lain-lain yang dalam menyebabkan musnahnya biotik-biotik hidup di sungai; dan bagi setiap pemakai/ pengguna air baik perorangan maupun kelompok diwajibkan membayar iuran/sawinih kepada pengelola hutan adat dan sumber mata air.

Sebagai daerah atau wilayah yang memiliki laut dan gunung, saat ini menjadi daerah tujuan wisata dunia, bahkan Taman Nasional Gunung Rinjani menjadi Geopark dunia, sekitar 3.000 lebih kunjungan wisatawan yang mengunjungi Taman Nasional Gunung Rinjani setiap tahunnya. Keberadaan beberapa Air terjun juga menjadi obyek wisata yang banyak diminati. Menjadi wilayah wisata tentu berpengaruh besar terhadap kehidupan Masyarakat Adat yang ada di Wet Bayan, baik itu dalam pelestarian alam, maupun dalam menjaga tradisi dan budaya yang ada. Dengan adanya batas wilayah yang jelas mekanisme penyelesaian perselisihan (jika terjadi) akan bisa diselesaikan secara sistematik melalui kelembagaan masayrakat adat wet bayan. Pembagian ruang kelola yang harus dipetakan tentu hal terpenting, sehingga hak dan batasan antara Masyarakat Adat (Masyarakat Lokal) dengan pemerintah adan pihak lain bisa menjadi lebih jelas.

Luas Kawasan yang dipetakan atau penyempurnaan peta berkisar: 366,10 km2 (Bayan) dan 3.850 km2 (Kayangan). Secara umum kedua kecamatan ini berdekatan dengan gunung Rinjani dan berhadapan langsung dengan Lautan Jawa, sehingga rentan terhadap letusan gunung api, tsunami dan gempa, serta perubahan iklim. Karena sebagian besar daratannya merupakan limpahan debu gunung berapi (letusan gunung Samalas (1257) sebagian besar, rentan terhadp longsor. Dalam keterbataan yang ada, karena memiliki nilai dan sumberdaya alam yang kaya dan unik, rentan terhadap alih fungsi, termasuk wilayah kelola dan ruang hidup masyarakat adat di wet ini.

Sementara luasan desa yang akan diintervensi untuk peningkatan produktivitas ekonominya, antara lain Desa Bayan (2.600 Ha), Karang Bajo (1.168 Ha), Loloan (3.350 Ha), Santong (1.109,80 Ha), Sesait (1.200 Ha), Gumantar 3.860 Ha

Tingkat Kerentanan (akibat alam, sosial, politik dan yang berkaitan dengan kebutuhan Kepastian hak ulayat)

Terdapat wilayah yang yang tata kelolanya masih tumpang tindih dengan pihak pemerintah dan pihak liannya saat ini terdapat dibeberapa titik seperti Gunung Rinjani yang dijaga oleh Amaq Lokaq Senaru, Amaq Lokaq Torean dan Amaq Lokaq Sajang saat ini menjadi Taman Nasional yang penguasaan seenuhnya ada dipemerintah. Hal ini menyebabkan setiap pendaki tidak lagi diatur oleh Masyarakat Adat, tetapi berdasarkan Undang-Undang dan peraturan yang dibuat oleh pemerintah. Akibatnya, banyak nilai-nilai yang seharusnya dijalankan oleh setiap pendaki tidak diatur dalam undang-undang dan peraturan tersebut.

Beberapa pejabat adat yang berperan untuk mengurus kepemerintahan adat seperti Pembekel dijadikan sebagai Kepala Dusun yang lebih banyak mengurus kepemerintahan administrative (Orde Baru), hal ini menyebabkan pencatu yang dimiliki pembekel menjadi aset kepala dusun juga, sehingga saat ini dengan adanya undang-undang desa, maka semua pecatu kepala dusun ditarik menjadi aset pemerintah (Pemda Kabupaten Lombok Utara).

Perkembangan keperintahan yang terjadi sejak kemerdekaan Indonesia menyebabkan banyak wilayah kelola Masyarakat Adat Wet Bayan dikuasai oleh pihak lain, hal ini disebabkan karena tidak adanya peta wilayah yang dimiliki oleh Masyarakat Adat. Masjid Kuno (Masjid Beleq) Bayan yang dijadikan sebagai pusat ritual tertentu oleh Masyarakat dijadikan sebagai aset pemerintah dengan memasukannya sebagai cagar budaya. Hal ini menyebabkan sistem aturan local tidak berfungsi lagi. Kejadian bisa dilihat dalam perbaikan (renovasi), dimana dalam renovasi Masjid yang dilakukan oleh pemerintah itu berdsarkan tahun anggaran, sedangkan dalam aturan local itu hanya bisa dilaksanakan sekali dalam 8 tahun, yaitu di tahun Alip (Kalender Khusus Masyarakat Adat Wet Bayan). Dalam melakukan perbaikan terdapat pejabat dan prusa khusus (keturunan adat) yang memimpin, sementara dalam pemerintah itu berdasarkan kemampuan, yang belum tentu sesuai dengan garis keturunan.

Beberapa wilayah dan ruang yang tumpang tindih sangat berpengaruh besar terhadap ruang gerak dan kelola di Masyarakat, termasuk juga dikepemerintahan. Akibat dari ketidak jelasan tersebut menyebabkan banyak terjadi masalah social dalam setiap kegiatan dan program. (Wa2n)

From Earthquake to Eco-HEArT

Santiri, 14 Januari 2020. From Earthquake to Eco-HEArT, itulah tema yang diangkat oleh Santiri Foundation dalam pengembangan pembangunan di kawasan Kabupaten Lombok Utama khususnya. Mencoba bangkit dari gempa yang menimpa hampir seluruh kawasan di kabupaten Lombok Utara setahun yang lalu, maka kembali digali potensi desa yang dapat dikembangkan. sebuah ide yang menjadi trade mark Kepala Daerah Lombok Utara. Berbasis kerentanan yang tinggi, perencanaan yang didesain secara komprehensive oleh masyarakat mengantarkan pada konsep Eco-Heart, yaitu Ecological-Heritage, Education, Art and Culture Tourism, dimana seluruhnya akan dikelola oleh masyarakat bekerjasama dalam kesetaraan dengan jejaring yang sudah terbangun.

Memasuki awal tahun 2020 gerakan ini coba dibangkitkan dengan momentum Kunjungan Lapang mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta (UPNVY) dengan Chungbuk National University (CBNU), Republic of Korea ke lombok dalam serangkaian kegiatan bidang kebencanaan.

Dalam kunjungannya di pulau Lombok tim berkeliling ke beberapa lokasi di kabupaten Lombok Utara yang terkena dampak gempa setahun yang lalu. sebelum kunjungan di Lombok Utara pada sore hari tanggal 13 Januari 2020, dilakukan Ramah Tamah antara Tim UPNVY & CBNU dengan BPBD NTB, BMKG NTB, UNU, FPTPRB NTB, Santiri dan pegiat senibudaya di warung kopi Artcoffeelago – Mataram yang juga dimeriahkan oleh seniman indie Ary Juliant and the bluegrass band.

Keesokan paginya (14 Januari 2020) rombongan berangkat menuju desa Genggelang di kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara untuk menikmati secangkir coklat hangat di kampung coklat dan memetik buah coklat serta melihat proses produksi coklat hingga menjadi kemasan.

Dari kampung coklat desa Genggelang, rombongan beranjak menuju dusun Santong Asli di desa Santong Kecamatan Kayangan untuk melihat model rumah Ramah gempa yang sedang dalam proses pembangunan sekaligus melihat tatakelola kawasan paska gempa.

Setelah dari Santong Asli rombongan menuju ke Desa Adat di Gumantar. di Desa Gumantar rombongan disambut oleh Bupati Lombok Utara untuk begibung dan berdiskusi tentang kebijakan paska gempa yang terjadi. turut serta dalam diskusi tersebut yaitu jajaran Instansi terkait.

Dari Desa Gumantar, rombongan bergerak menuju dusun Jambianom di desa Medana Kecamatan Tanjung. disini rombongan disambut oleh masyarakat dusun yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. di dusun jambianom terdapat kawasan konservasi Teluk Medana dan konservasi Manggrove. di dusun tersebut ada kelompok nelayan yang aktif melakukan konservasi terumbu karang dan kelompok yang melakukan penanaman manggrove. di dusun ini rombongan dibagi tiga kelompok yang masing masing diajak untuk belajar tentang membuat pancing, menanam manggrove, memasak makanan tradisional berbasis ikan laut. selanjutnya rombongan bermain permainan tradisional bersama dengan mahasiswa Universitas Nahdhatul Ulama Mataram dan masyarakat dusun Jambianom.
Kunjungan ke dusun Jambianom merupakan kunjungan terakhir dalam rangkaian kegiatan kunjungan di Lombok Utara. setelah itu tim kembali ke mataram untuk kembali ke hotel dan beristirahat. (Wa2n)

YO’RA HERO, LACAK JEJAK WARISAN (PUSAKA) BUDAYA

Santiri, 14 November 2019. Pada tanggal 9-10 November 2019  diadakan Kegiatan Lacak Jejak Pemuda di Hotel Gondang Beach Kecamatan Gangga Kabupaten Lombok Utara. Lacakjejak dan rekam berbagai warisan system (ilmu pengetahuan, teknologi; land-seascape) pertanian dan pernelayanan beserta turunannya yang dulu pernah ditemukembangkan oleh nenek moyang kita dan mungkin hingga kini masih bisa tertemukan dalam keseharian. Minimal masih tersimpan dalam cerita cerita para orang tua kita. Warisan system pertanian dan pernelayanan  ini penting. Jika bisa kita temukenali kembali wujud fisik maupun fiksi imajinatif, tatanilai, struktur dan fungsi yang pernah dirancang bangun oleh leluhur kita ini bisa memberikan sumbangan bagi bangsa dan negara serta warga dunia.

Lacak jejak dan rekam warisan budaya ini diikuti oleh 43 peserta (20 Peserta putri dan 25 peserta putra) dari 14 sekolah Tingkat Atas dan sederajat di Kabupaten Lombok Utara. Kegiatan ini diinisiasi oleh Santiri Foundation dan diselanggarakan secara Gotong Royong antara lain oleh: Santiri Foundation, Pemerintah Kabupaten Lombok Utara, DGM Indonesia, Samdhana Institute, Forum Wirausaha baru, Universitas Nadhlatul Ulama (UNU), Sekolah Adat Bayan, Komunitas Bahari Lestari, ArtCoffeelago, Komunitas Delta Api dan para pendukung secara istitusi maupun perorangan lainnya..

Yo’ra Hero adalah singkatan dari Youth Research Heritage, Tourism, Oppurtunity dimana anak-anak muda akan diajak untuk melakukan penelitian secara partisipatif dan dapat mendokumentasikan serta mempublikasikan hasil penelitiannya melalui media yang mereka kuasai seperti foto, video dan menulis. objek dari penelitian ini bisa berupa kondisi di lingkungan atau yang berkaitan dengan wisata dan budaya. intinya para anak muda ini diajak untuk peduli dan kritis pada perubahan yang terjadi di sekitarnya.

Kegiatan pada tanggal 9-10 November 2019 ini merupakan langkah awal untuk memberikan amunisi kepada para pemuda yang akan melakukan lacak jejak dan rekam warisan budaya. kegiatannya berupa pemaparan materi dan teknik melakukan dokumentasi melalui Video, Foto dan karya tulis.

Upacara Peringatan hari Pahlawan
10 November 2019

Dalam kegiatan ini yang bertepatan dengan peringatan hari Pahlawan tanggal 10 November 2019 juga dilakukan upacara  peringatan hari pahlawan dengan mengenakan pakaian adat.

Setelah upacara, kegiatan diawali dengan empat Pembicara yaitu Bapak Wiladi dan ibu Wardah Hafidz Aktivis dari Jakarta dengan key Speaker yaitu Gendewa Tunas Rancak dari Santiri Foundation dan Dr. Fauzan. M.pd Kepala Dinas Pendidikan Lombok Utara yang Mewakili  Bupati Lombok Utara, Fasilitator diskusi ini adalah  bapak Tjatur Kukuh S dari Santiri Foundation. Dalam materi ini banyak tanya jawab antara pemberi materi dan para siswa sebagai  peserta yang berkaitan dengan Pendidikan dan kebudayaan.

Dr. Fauzan. M.pd dan Gendewa Tunas Rancak
Bapak Wiladi
Ibu Wardah Hafidz

Setelah istirahat siang, peserta mulai dibagi kelompok berdasarkan minat masing-masing yang berkaitan dengan Fotografi, Vidografi dan menulis. Pemberi materi pada sesi ini adalah Alam Kundam yang telah lama menekuni dibidang Fotografi dan pernah menjadi Wartawan TV dan juara pada lomba foto dunia yang diadakan oleh EYEEM dari Jerman. Untuk videografi pematerinya adalah Jatiswara Mahardika, seorang Sineas Muda yang beberapa kali membuat film pendek tentang Lingkungan. Sedangkan materi menulis adalah Rina Yulianti aktivis di Media Kampus Universitas Mataram. Kegiatan Lacak Jejak ini dilakukan secara bertahap, pada kagiatan tanggal 10 November 2019 kali ini diberikan materi sebagai amunisi para peserta untuk dapat melakukan dokumentasi melalui Foto, video dan tulisan. Selanjutnya setiap peserta akan mengambil objek situs budaya yang telah ditentukan di wilayah kecamatan Bayan dan Kayangan. Pada tanggal 24 November 2019 nanti para peserta akan berkumpul kembali untuk mengumpulkan hasil yang telah dilakukan secara berkelompok di tiap sekolah. Dari hasil penilaian tim pemateri ini nantinya akan terpilih 9 tim yang akan melanjutkan pada tahap selanjutnya. Di akhir seleksi nanti akan terpilih 3 tim terbaik yang akan memberikan presentasi di warung kopi “Artcoffeelago” Mataram.  (Wa2n)

Pelatihan Kerja Pertukangan tahap I di Dusun Trantapan – desa Karang Bajo

Santiri, 26 April 2019.pelatihan kerja yang dilakukan oleh Konsorsium Metadaya bekerjasama dengan Bina konstruksi PUPR di Bengkel Kerja Dusun Trantapan desa karang Bajo telah dimulai sejak tanggal 22 April 2019 dan berakhir tanggal 25 April 2019. Pelatihan kerja angkatan 1 ini dilakukan di bengkel kerja pertama dari Konsorsium Metadaya yaitu di dusun Trantapan, desa Karang Bajo Kecamatan Bayan Kabupaten Lombok Utara dan menjadi starting point bagi pembangunan Rumah Sehat Instan berbahan dasar Kayu untuk warga terdampak gempa di Lombok. untuk tahap awal akan dikerjakan sebanyak 25 rumah untuk 2 kelompok Masyarakat di dusun Trantapan dan 38 rumah untuk 2 kelompok masyarakat di dusun Bual desa Bayan. Pelatihan ini diikuti oleh 35 tukang batu dan tukang kayu yang berada di kecamatan bayan, utamanya dari dua dusun keempat kelompok masyarakat. di hari pertama pelatihan diisi dengan pembukaan yang dihadiri oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat Ibu Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd. pada hari kedua pelatihan dimulai dengan materi pengenalan jenis kayu dan pengenalan gambar rumah dilanjutkan dengan pembagian kelompok berdasarkan keahlian tukang yaitu tukang kayu dan tukang batu.

pembangunan rangka rumah

Hari ke tiga pelatihan dilakukan dengan pembagian tugas yang lebih spsifik pada kelompok tukang kayu dan tukang batu. agar kerja lebih sistematis dan cepat. sampai hari ke 3 pelatihan telah dilakukan perbaikan pondasi untuk dua rumah dan pembuatan kerangka rumah.pelatihan ini dimaksudkan agar para tukang dapat terbiasa bekerja dengan tim yang besar dengan cepat sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh PUPR.
pada hari keempat pembangunan rumah kayu dilanjutkan. sesuai target pelatihan ini diharapkan dapat terbangun satu rumah kayu. namun hal ini terkendala oleh keterbatasan bahan baku kayu hingga pembangunan ditunda sambil menunggu kedatangan kayu dari Kalimantan.

pembangunan pondasi rumah

selanjutnya para peserta beserta pelatih melakukan evaluasi tentang pelatihan selama 3 hari dan merencanakan tindak lanjut pembangunan serta sistem kerja dalam pembangunan rumah kayu untuk para pokmas yang telah melakukan perjanjian kerjasama dengan konsorsium Metadaya. (Wa2n)

Peluncuran Bengkel Latihan Kerja (Bale) Utama, Pelatihan Kerja Rumah Kayu dan Penanaman Pohon Bersama

santiri, 22/4/2019. Tanggal 22 April selalu diperingati sebagai Hari Bumi (Earth Day), dan diperingati secara Internasional. Hari bumi diperingati untuk meningkatkan kesadaran kita tentang pentingnya pelestarian lingkungan yaitu tempat tinggal kita di planet bumi ini. Dalam momentum peringatan hari bumi ini di dusun Trantapan desa Karang Bajo juga diadakan kegiatan pelatihan dan kerja / OJT (On Job Training) angkatan I tahun 2019 dan peluncuran Bengkel Latihan Kerja (Bale) Utama I yang di buka oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat  Ibu Dr. Hj. Sitti Rohmi Djalilah, M.Pd., serta dilanjutkan dengan penanaman pohon bersama. Dalam acara ini hadir pula dari Bina Kontruksi PUPR, Asisten I Lombok Utara, Camat Bayan, Perwakilan Kelompok Masyarakat serta peserta pelatihan Pertukangan dan fasilitator.

Penanaman Bibit Pohon oleh Wakil Gubernur Nusa Tenggara barat

Desa Karang Bajo yang terletak di Kecamatan bayan, Kabupaten Lombok utara yang merupakan salah satu wilayah terdampak gempa pada tahun 2018. Dari data terkini dampak dari gempa Lombok-Sumbawa dilihat dari bangunan rumah masyarakat secara keseluruhan berjumlah 216.519 yang terbagi menjadi tiga kategori, rusak berat berjumlah 75.138 rusak sedang berjumlah 33.075 dan rusak ringan berjumlah 108.306.  Khusus di Lombok Utara kerusakan total berjumlah 49.853 yang terbagi dalam jumlah rumah rusak berat 44.014, rusak sedang 1.758, dan rusak ringan 4.081.

NTB dalam penanganan pasca gempa sekarang sudah memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi, dalam tahap percepatan pembangunan rumah tempat tinggal tetap atau hunian tetap (huntap) memerlukan kerjasama antara pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat serta pihak-pihak lain atau swasta. Tidak sedikit permasalahan kemudian yang muncul ketika realisasi percepatan pembangunan huntap, saah satunya adalah ketersediaan tenaga atau tukang-tukang yang akan membangun hunian tetap yang diinginkan berdasarkan pilihan masyarakat. Dan juga tidak banyak tukang-tukang yang memahami teknik-teknik bagaimana membangun rumah tahan gempa yang sudah ditetapkan standarnya oleh pemerintah. Sementara selama ini pemerintah menetapkan 3 model rumah tahan gempa, diantaranya Risha (rumah instan sederhana sehat), Rika ( rumah instan kayu ) dan Riba (rumah instan baja ringan). 

Bersamaan dengan OJT angkatan I ini pula dilakukan Sarasehan / Sangkep “Mendengar Suara Bumi dan Warga (Voice of Eart, Voice of People) Untuk Percepatan dan Pertepatan Pemulihan Dampak Gempa”.

Mendengar Suara Warga

Tujuan dari kegiatan ini adalah

1)Terjadinya starting point strategi dan konsep pembangunan yang lebih memiliki perspektif kebencanaan. 2)Terjadinya dialog publik antara masyarakat, pemangku kepentingan dan pemegang kebijakan. 3)Terjadinya pusat pembelajaran dan kerja-kerja di Bengkel Latihan Kerja (Bale) Utama dalam upaya percepatan rehap rekon. 4)Tukang kayu untuk pembangunan Rika mendapatkan sertifikasi oleh pemerintah. 5)Menanam pohon sebagai upaya mewujudkan sumberdaya terbarukan bagian dari konsekwensi pembangunan RIKA. 6)Peningkatan pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan limbah / sampah (plastik)

Hasil yang diharapkan

  1. Adanya starting point strategi dan konsep pembangunan yang lebih memiliki perspektif kebencanaan
  2. Adanya dialog publik antara masyarakat, pemangku kepentingan dan pemegang kebijakan
  3. Tersedianya tempat atau pusat bengkel latihan kerja utama di tingkat kecamatan
  4. Tersedianya sejumlah 35 tukang untuk pembangunan Rika yang sudah tersertifikasi di tiap kecamatan
  5. Terorganisirnya tenanga kerja / tukang-tukang untuk membangun Rika di setiap kecamatan
  6. Terbangunnya sistem kerja yang efektiv dan efisien (sistem pabrikasi) dalam membangun Rika
  7. Terbangunnya 1 unit rumah RIKA
  8. Tertanamnya 22 pohon bersama di lingkungan Pokmas
  9. Menanam pohon disebar luas di tingkat pokmas-pokmas
  10. Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang pengelolaan limbah / sampah (plastik)

Peserta pelatihan dan kerja pembangunan rumah jenis RIKA akan diikuti oleh peserta sebanyak 36 orang tukang kayu dan batu yang berasal dari kecamatan Bayan dan kayangan. Kegiatan  pelatihan ini diadakan selama 4 hari, mulai tanggal 22 April hingga 25 April 2019

Kegiatan ini diselenggarakan bergotongroyong bersama Konsorsium Metadaya (Santiri, Koperasi Jatiperak, Forum Wirausaha Baru, Asosiasi UKM NTB Bangkit) dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Utara (BPBD Lombok Utara, Bappeda, Dinas Tenaga Kerja Penanaman Modal Dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang, Dinas Lingkungan Hidup Perumahan Dan Kawasan Pemukiman dan instansi terkait lainnya), WWF-NTB, didukung oleh Kementerian Ketenagakerjaan, DMtK, Pemerintah Provinsi NTB, dan para pihak lainnya. (Wa2n)

Data Korban gempa Lombok 5.8 SR di Air terjun Senaru – Lombok Utara

Santiri, 17/03/2019. Nama nama korban gempa bumi tgl 17 Maret 2019 yang telah terevakuasi dari Air Terjun tiu kelep  – Senaru. masih tersisa sekitar 7 orang yang masih dilakukan evakuasi.
1. Tommy 14 thn lendang cempaka MD
2. Riska tanwir 19 thn gunung sari lecet dilengan
3. Kania pratiwi 20 thn gunung sari luka dikepala
4. Reza alfian 20 thn gunung sari luka di tangan dan dimuka.
5. Pang kim wah 56 thn malaysia luka dilengan
6. Tan cing chuan 62 thn malaysia luka di kepala lengan dan kaki
7. Wongslew tan 56 thn malaysia luka dikepala
8. Gurit antariksa 17 thn marong lombok tengah luka dibetis
9. Lalu arga dimas fernanda 18 thn marong lombok tengah luka dibetis
10. Sumawi 30thn bayan luka dikaki dan wajah
11.Teoh zheng yi 20 thn malaysia luka kaki dan tangan
12. Phua poh guax 56 thn malaysia patah kaki
13. Upik 6 thn alamat Lendang cempaka, luka kepala.
14. Koks shao 60 thn malaysia luka tangan. (red)

Update data Korban gempa Lombok 5.8 SR

Santiri, 17//2019. Pada hari Minggu tanggal 17 Maret 2019 pukul 14.10 wita telah terjadi Gempa Bumi dengan Data BMKG kekuatan 5,8 SR Lokasi 8.30 LS, 116,60 BT (24 km Timur Laut Lotim NTB) kedalaman 10 km, sbb :
1.Data Korban Meninggal : (sementara 2 orang)
2. Data Korban Luka Berat (RB)
3. Data Korban Luka Ringan

a. Kec. Pringgasela
1) Zulkifli, 28 thn, lakiDsn Aik Ngempok Desa Pengadangan Mengalami Luka di Bagian Jari Tangan Kiri dan Tangan Kanan
2) Daffa Zaen Al Faruk, 3 tahun, Laki-laki, Dsn. Aik Ngempok Desa Pengadangan, mengalami Luka ringan di Bagian Kepala Sebelah kiri

b. Kec. Sembalun
1) Edi Rustaman ,laki laki,30thn, Polri ,alamat dusun dasan tengak baret, desa Sembalun.mengalami luka di kepala sepanjang 4 cm,akibat terkena genteng rumahnya.
2) Deri,laki laki,16 tahun,pelajar,alamat dusun lendang luar desa sembalun mengalami benjolan di kepalanya akibat terkena tembok rumahnya.
3) Hamdani ,laki laki,28 tahun,Tukang,alamat Jerowaru.
4) Rendi ,laki laki,18 tahun,Pelajar,alamat dusun lendang luar desa sembalun.
5) Yogi prima mei Gandi. 24 tahun alamat dusun mentagi desa Sembqlun mengalami luka robek ditangan dan kaki akibat pecahan kaca jendela rumah.

4. data Kerusakan Rumah

a. Kec. Montong Gading 2 unit

1.An.IRJAN
2.An.MUHSIP dusun Solong utara Desa Pesangrahan

Perkembangan akan kami laporkan kembali.